Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 20 Kartu Tanda Pengenal


__ADS_3

Melodi menatap hasil desain yang diprintnya. Lalu, ia memanggil Wika untuk menanyakan jadwal kerjanya hari ini.


"Wika!" panggil Melodi.


"Iya Nona." jawab Wika yang mengetuk pintu masuk dulu dan ia melangkah masuk menuju Melodi.


"Aku telah membuat desain baru untuk fashion pakaian muslim wanita dan pria. Apa jadwal kerjaku hari ini?" tanya Melodi.


"Baik Nona, jadwal kerja Nona hari ini tidak ada jadwal rapat antar rekan bisnis." jawab Wika dengan membaca buku berisi jadwal kerja Melodi.


"Baguslah, hari ini aku bisa langsung ke toko kain langganan. Kamu hubungi pemilik toko kain agar bisa langsung menutup akses masyarakat yang berlalu lalang. Aku tidak mau hasil desainku banyak diketahui masyarakat sebelum peluncuran produk baruku," ucap Melodi dengan menyerahkan kertas berisi desainnya pada tangan kanannya -- Wika.


"Baik Nona Melodi, saya akan laksanakan sesuai perintah." sahut Wika dengan menerima kertas berisi desain fashion pakaian muslim.


Melodi tersenyum tipis menatap Wika yang sedang sibuk menelpon pemilik kain. Ia merapikan buku desainnya dan laptopnya untuk dimatikan. Sebelum ia pergi ke toko kain, ia melangkah masuk ke dalam toilet untuk buang air kecil.


Melodi menatap dirinya yang terlihat tetap cantik dan imut. Lalu, ia melangkah keluar dari toilet di ruang kerjanya. Ia mengambil tas kerjanya untuk berangkat ke toko kain. Ia melihat Wika yang telah berdiri sopan di depan ruang kerjanya.


"Bagaimana?" tanya Melodi.


"Semua beres Nona." jawab Wika.


"Baiklah, lebih baik kita pergi sekarang." Melodi berjalan lebih dulu menuju ruang lift bersama Wika. Ia tidak ingin mencoba naik tangga lagi, kedua kakinya sangat pegal jika mengulangi olahraga paginya.


Setibanya, di toko kain yang menjadi langganan di perusahaan Melodi. Kedatangan Melodi disambut hangat oleh pemilik toko. Ia senang semua permintaannya terkabulkan. Lalu, ia melangkah masuk ke dalam toko yang dipenuhi oleh berbagai macam bahan kain dan warna kain. Ia berjalan melewati berbagai macam model kain, disentuhnya salah satu bahan kain yang menurutnya menarik dan warna yang sesuai di desainnya. Ia mengukur panjang kain yang akan digunakannya sebagai contoh pertama pada karyawannya.


"Kak, bisa bantu saya untuk ambil bahan kain ini untukku ikut," ucap Melodi pada salah satu karyawan wanita yang melayani Melodi.


"Bisa Nona muda Melodi." Pelayan wanita itu mengambil bahan sesuai perintah Melodi yang sedang menyentuh bahan yang lembut dan nyaman untuk dikenakan.


"Wika, bantu saya untuk mengukur panjang kain ini!" titah Melodi pada Wika yang berdiri di sebelahnya.


"Iya Nona." Wika langsung mengambil alih bahan yang dipegang oleh Melodi agar bisa diukirnya.

__ADS_1


Setelah satu jam setengah, Melodi memilih bahan dan membayar semua bahan yang dibutuhkannya. Akhirnya ia membayar bahan kain di bagian kasir.


"Wika, bawa semua bahan kainnya. Tidak berat bawa sendiri," ucap Melodi dengan tatapan mata masih fokus pada dua plastik besar yang diberikan oleh karyawan kasir.


"Baik Nona." jawab Wika patuh.


Melodi bergegas keluar menuju pintu keluar toko kain. Ia berjalan sambil memainkan ponselnya untuk memeriksa kondisi saham kerjasamanya dengan perusahaan lain. Hingga langkah kakinya tidak sengaja menginjak kaki seseorang membuat dirinya hampir terjatuh dan ponsel dipegangnya hampir goyah.


Untung saja, seseorang menahan tubuhnya membuat Melodi terjatuh dalam rangkulan seorang pria yang sangat tampan. Melodi yang berada dalam rangkulan pria itu ia dan pria tampan saling menatap satu sama lain.


Melodi yang merasa ponsel yang dipegangnya ingin jatuh. Ia langsung melepaskan tangan pria tampan itu ia berhasil menyelamatkan ponselnya tapi tidak dengan dirinya. Ia terjatuh terbaring di atas pasir membuat pakaiannya kotor.


"Haduh, pinggangku sakit sekali. Pasti retak tapi untunglah ponselku aman karena banyak data perusahaan penting," ucap Melodi yang menatap ponsel digenggamnya.


Anton yang mendengar perkataan Melodi membuat ia melongo melihat Melodi.


"Hah, apa aku tidak salah dengar kalau kamu lebih mementingkan ponselmu daripada dirimu sendiri?" tanya Anton membuat Melodi menoleh ke arah Anton.


"Oh begitu, mau aku bantu kamu berdiri?" tanya Anton dengan mengulurkan satu tangannya di hadapan Melodi.


Melodi yang melihat pria tampan yang pernah ditemuinya, ia menggeleng tidak mau.


"Tidak, aku bisa berdiri sendiri." tolak Melodi mencoba bangun dari posisi baringnya tapi membuat ia meringis kesakitan.


Anton yang merasa tidak tega melihat wanitanya, ia langsung mengangkat tubuh Melodi tanpa seizinnya. Ia melangkahkan kaki menuju ke dalam mobil Melodi.


"Kamu tangan kanannya Melodi?" tanya Anton pada seseorang wanita yang telah sampai di depan bagasi mobil.


Wika mengangguk cepat dan ia membuka pintu mobil.


"Iya Tuan, silahkan bawa masuk Nona ke dan mobil." jawab Wika.


"Okey." Anton membawa tubuh Melodi masuk ke dalam mobil untuk mendudukkan Melodi di dalam mobil.

__ADS_1


Melodi yang melihat pria tampan yang membawanya masuk ke dalam mobil. Ia mencium aroma parfum khas yang sangat dikenalinya.


"Sepertinya aku sangat mengenali aroma parfum ini." kata Melodi dalam hati. Ia tampak diam berpikir siapa orangnya.


"Alex? Iya ini bau parfum milik Alex. Kenapa pria tampan ini mengenakan parfum Alex? Apa jangan-jangan dia." Melodi menatap wajah pria tampan yang sedang mengendong tubuhnya.


"Tidak, wajahnya sangat berbeda. Alex itu penampilan culun walaupun tampan. Tapi, pria ini tampannya sangat sempurna." puji Melodi dalam hati.


"Nona cantik, apa ada yang sakit selain pinggang?" tanya Anton yang telah selesai mendudukan Melodi dan posisi tubuhnya masih mencodongkan tubuhnya di hadapan Melodi untuk memeriksa tubuh wanitanya.


Melodi langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara berat Anton.


"Tidak, aku hanya sakit pinggang saja. Terima kasih sudah membantu." jawab Melodi dengan tersenyum canggung.


Anton membalas senyuman Melodi, ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Kenalkan namaku Anton," ucap Anton.


Melodi menatap tangan Anton yang ingin berkenalan dengan dirinya. Ia menerima uluran tangan Anton.


"Aku Melodi."


"Senang bertemu denganmu, kamu habis belanja disini? Kebetulan toko kain ini tempat favoriteku untuk membeli bahan." jelas Anton membuat Melodi merasa tertarik.


"Benarkah? Kamu buka usaha di bidang fashion?" tanya Melodi.


Anton menggeleng cepat di hadapan Melodi.


"Tidak, aku hanya membuat pakaian untuk karyawanku saat ada kegiatan dalam sebulan 2 kali beli bahan disini." jawab Anton cepat.


"Oh begitu, aku buka usaha di bidang desainer. Jika kamu mau memesan model fashion pakaian. Bisa hubungi aku, karena aku seorang desainer." sahut Melodi dengan mengambil kartu tanda pengenal dirinya dalam mempromosikan produk perusahaannya di dalam tas kerjanya yang selalu ia bawa dimana-mana.


"Ini ambillah kartu tanda pengenal diriku sebagai desainer. Kamu bisa hubungi jika tertarik," ucap Melodi menyerahkan kartu tanda pengenal dirinya pada Anton.

__ADS_1


__ADS_2