
"Maaf Nona Melodi, aku tidak tahu karena aku bertanya berkali-kali tetapi tidak dijawab oleh nona." jawab Wika menunduk takut.
"Benar juga, aku sibuk memikirkan si Dino itu. Tidak masalah, aku tidak akan marah padamu, Wika. Ayo putar balik setir mobilnya menuju rumahku saja." sahut Melodi enteng karena ia merasa bersalah atas sikap cuek bebeknya pada Wika tadi.
"Maaf Nona, apa sebaiknya nona tidak melakukan rapat bersama tuan Dino?" tanya Wika mencoba mengingatkan pada Melodi yang sepertinya tidak perduli pada hubungan kerjasama itu.
"Tidak, batalkan saja acara rapat dadakan itu. Aku tidak suka mendadak tanpa adanya persiapan jelas. Pastinya seperti satu minggu yang lalu, membuat kamu repot sendiri karena Dino suka cerewet dengan permintaannya."
"Iya Nona, aku masih ingat dengan Tuan Dino yang sepertinya suka membuat ulah pada nona."
"Nah kalau sudah tahu begitu, ayo pergi dari perusahaanku. Beritahu pada tangan kanan Dino agar membatalkan rapat hari ini. Beri peringatan pada mereka agar mengajak acara rapat agar jauh-jauh hari. Dengan begitu, adanya hubungan kerjasama bisnis bisa terjadwal dan sportif."
"Siap Nona, aku akan laksanakan sesuai perintah." perkataan Wika dibalas acungan jempol oleh Melodi.
Mobil Melodi melaju keluar dari pekarangan perusahaannya. Di sepanjang perjalanan, Melodi memantau kondisi perusahaan melalui video kamera cctv yang terlihat aman saja. Dengan para karyawan yang sibuk bekerja sesuai bidang kerjanya.
Satu setengah jam kemudian, Mobil telah memasuki area pekarangan rumah mewah Melodi bersama Alex.
Supir pribadi yang disuruh oleh Melodi agar tetap bekerja di rumah saja itu membukakan pintu mobil untuk Melodi.
Melodi menatap ke sekeliling rumah mewahnya, ia mencari siapa orang yang berani menyusup di rumah mewahnya?
"Pak Mukis, dimana orang yang menyusup di rumahku? Apa sudah dipenjarakan di ruang bawah tanah?" tanya Melodi to the point.
"Sudah Nona muda, penyusup itu seorang wanita yang katanya dendam dengan Alex." jawab Pak Mukis membuat Melodi semakin penasaran dengan topik pembicaraan yang menarik itu.
"Menarik, beraninya dia nekat untuk merebut Alex dariku. Walaupun aku tak mencintainya, setidaknya apapun yang telah menjadi milikku. Tidak boleh direbut oleh orang lain," ucap Melodi yang telah merubah raut wajahnya menjadi datar.
__ADS_1
"Wika, cari tahu informasi lengkap tentang wanita itu!" titah Melodi.
"Baik Nona." jawab Wika cepat.
"Kamu bisa kembali bekerja di perusahaanku dan kerjakan sesuai perintahku tadi." lanjut Melodi.
"Baik Nona, aku pergi dulu." pamit Wika undur diri di hadapan Melodi karena ia ingin menyelesaikan tugasnya sebagai tangan kanan Melodi sekaligus sekretaris yang bisa diandalkan.
"Pak Mukis, bisa antarkan aku menuju ruang bawah tanah," ucap Melodi.
"Baik Nona." jawab Pak Mukis dan kedua bodyguard yang baru satu minggu diperkerjakan oleh Melodi untuk menjaga kondisi rumah mewahnya ini kecolongan oleh satu wanita. Selain hasil pantauan kamera cctv, dua bodyguard, dua satpam dan dua tukang kebun yang tak menganggap hal aneh-aneh. Hasilnya, rumahnya dimasuki oleh orang tak dikenalnya.
"Lain kali, perketat tugas kalian! Jangan sampai seperti ini! Bukankah kalian digaji hanya menjaga dan membantu para karyawan di rumahku saja. Lalu, kenapa bisa kalian tidak bisa menghadang satu wanita itu?" di setiap langkah kakinya melewati jalan menuju ruang bawah tanah yang berada di luar ruang rumah mewahnya. Melodi terus memarahi habis-habisan pada karyawan yang bertugas untuk menjaga rumahnya.
"Maafkan kami, nona. Kami memang tidak benar bekerja. Tolong, jangan pecat kami, beri kami kesempatan satu kali lagi untuk bekerja dengan baik." seketika langsung kaki Melodi terhenti membuat Pak Mukis dan kedua bodyguardnya menelan salivanya dengan susah payah.
Nona muda Melodi bukanlah wanita kejam dan dingin. Tetapi, jika dia sedang marah akan terbawa emosi. Bisa saja, dunia terjadi perang dunia kedua.
"Cepat buka pintu tangga menuju ruang bawah tanah ini!" titah Melodi tegas.
Pak Mukis dan dua bodyguard langsung rebutan membuat gembok kunci pintu ruang bawah tanah.
"Biasa saja kali, jangan rebutan seperti anak kecil. Cepatlah buka! Aku sangat lelah untuk hari ini!" ucap Melodi yang melihat pintu sudah terbuka. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam ruang bawah tanah.
Cekrek!
Di dalam ruangan minim cahaya, ia menatap seorang wanita yang kedua matanya ditutupi oleh kain dan tubuhnya sedang duduk dengan kedua tangan diikat ke belakang.
__ADS_1
"Siapa kamu? Apa maumu datang ke rumah suamiku, Hem?" tanya Melodi yang telah melangkahkan kakinya di hadapan seorang wanita itu.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, aku datang kesini untuk mendapatkan jodohku yang tersesat oleh wanita salah sepertimu." jawab wanita itu dengan cetus.
Benar saja, Melodi sangat murka atas penjelasan wanita itu. Bukan cemburu yang membuat ia kesal sendiri. Tetapi, sikap nekat wanita itu membuat ia geram. Dengan sekejap mata, Melodi melayangkan cap lima jari menempel di wajah wanita itu.
"Bagus sekali kata-katamu, sampai-sampai aku mau muak muntah mendengarnya," ucap Melodi yang langsung menarik paksa kain yang menutupi kedua mata wanita itu.
"Maria?" lirih Melodi pelan tetapi Maria masih terdengar jelas oleh perkataan Melodi.
"Kenapa, Mel? Kamu baru mengenaliku? Apa kamu sangat terkejut karena aku ingin merebut suami culunmu itu?" tanya Maria sedikit menantang Melodi agar tersulut emosi yang kian meledak-ledak.
"Iya, wajahmu yang hancur, kusam dan tak terawat membuat aku berpikir siapa wanita murahan yang berani berbuat jahat pada rumah tanggaku. Ternyata, kamu orangnya sahabat semasa kuliahku dulu. Hahaha... Terkejut sedikit saja, cuma kasihan saja sama kamu, selera kamu rendah sekali dibandingkan dengan *****." Melodi menarik dagu Maria secara paksa, ia memberikan tatapan tajam bak elang, tidak lupa senyuman mengejek ke arah Maria agar sakit hati.
"Apa kamu lupa dengan semua kebaikanku yang selalu membantumu baik dalam perekonomian maupun pendidikan? Lalu, apakah kamu pantas disebut manusia? Hem... Lebih pantasnya, aku sebut kamu sebagai manusia berhati iblis."
"Tidak, kamu tidak pernah berbuat baik apapun padaku."
"Bagus, kalau begitu aku akan memberimu pelajaran agar kamu bisa mengingat seseorang yang selalu membantumu." Melodi memberikan tamparan yang bertubi-tubi pada wajah buruk rupa Maria.
Setelah puas menghukum Maria dengan kedua tangannya. Ia melepaskan genggaman tangannya di dagu Maria hingga meninggalkan bekas merah memar.
Melodi memberi kode pada ke arah Pak Mukis dan dua bodyguardnya. Sehingga, mereka berjalan cepat menuju ke arah Melodi.
"Beri hukuman apapun pada wanita tak tahu diri ini! Setelah itu bantu tugas malaikat pencabut nyawa untuk memusnahkan Maria di muka bumi ini!" titah Melodi dan dibalas anggukan cepat oleh Melodi.
Setelah mengatakan itu Melodi melangkah pergi dari ruangan bawah tanah. Ia mengabaikan teriakan Maria yang terus memanggil namanya untuk meminta bantuan agar terlepas dari karyawannya yang berbuat mesum.
__ADS_1
Melodi yang telah sampai di dalam ruang kamarnya di lantai tiga. Ia memilih membersihkan diri dan mengganti pakaian santai rumahan saja. Melodi memilih rebahan saja di waktu jam 3 sore hari. Ia memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu favoritnya.
"Oh iya, Alex pergi kemana saja selama ini? Kenapa dia jarang pulang?" tanya Melodi dalam hati.