Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 26 Terima Kasih Bantuannya


__ADS_3

Anton yang mendengar perkataan Melodi, ia langsung memberikan dua kantong plastik besar pada Dino.


"Pegang dulu, aku mau bicara pada Melodi," ucap Anton seraya menyerahkan dua kantong plastik pada Dino.


Sementara Dino yang sempat terbalut emosi, ia langsung menatap heran pada dua kantong plastik berukuran besar yang diberikan oleh pria tampan di hadapannya.


"Apa ini?" tanya Dino melirik sekilas ke arah dalam plastik.


"Tentu saja minuman kekinian, pasti kamu baru tahu kan makanya wajib upgrade diri dong jangan memaksakan kehendak pada orang lain." jawab Anton sengaja menyindir Dino.


"Hei! Apa maksudmu memperlakukan seperti ini? Apa kamu pikir aku ini penjual minuman?" ucap Dino yang masih mengandeng dua plastik besar di tangannya.


Anton tertawa lepas saat melihat raut wajah kesal Dino.


"Hahaha... Santai dulu bro, mari kita duduk dulu. Masalah memperebutkan Melodi bisa dikompromikan dulu." Anton mengajak Dino duduk di sebelah kirinya, begitu juga Melodi duduk di sebelah kanannya.


Melodi hanya mengikuti perkataan Anton saja, daripada ia diserang oleh Dino lagi. Lebih ia mengambil makanan siomay dan memakannya.


"Aku langsung makan saja, perutku sudah bernyanyi dari tadi," ucap Melodi.


"Okey, Melodi mau minuman kekinian varian apa?" tawar Anton yang langsung menarik dua plastik besar yang dipegang oleh Dino.


"Kenapa dua plastiknya masih dipegang? Coba kamu taruh saja di atas meja." lanjut Anton dengan tatapan kesalnya pada Dino.


Rasanya Melodi ingin tertawa keras saja, tetapi ia masih kasihan pada Dino yang diperlakukan semena-menanya oleh Anton.


"Aku ambil minuman rasa cincau kocok saja." sahut Melodi dan Anton langsung menyerahkan minuman itu pada Melodi.


"Terima kasih," ucap Melodi tersenyum tulus pada Anton.


"Sama-sama, aku mau coba makanan kekinian juga." Anton memilih minuman kekinian yang sedang viral itu.


"Ambil dua saja dan semua minumannya untukmu." Anton menggeserkan dua plastik besar pada Dino.


"Apa-apaan kamu! Kenapa aku dikasih minuman sebanyak ini mana tidak ada makanan pula. Bisa kembung perutku." omel Dino.


"Makanya, beli makanannya sana." celetuk Melodi setelah beberapa menit diam.

__ADS_1


"Kamu menyebalkan sekali, itu masih ada satu bungkus siomay. Kenapa makanannya gak beri padaku saja?" sahut Dino melirik sekilas makanan di sebelah meja Melodi.


Melodi langsung menarik satu bungkus siomay, ia tidak sudi makanan yang dibelinya dibagi oleh pria jahat dan pemaksa seperti Dino. Walaupun harganya tak seberapa, tetapi ia tidak suka cara Dino yang sesuka hatinya memperlakukannya buruk.


"Gak mau, rugi aku beri makanan ini padamu. Perutku masih lapar. Oh iya, pedagang di pinggir jalan masih banyak kosong, beli sana uang kamu pasti ada kan membeli makanannya."


"Okey-okey, terima kasih atas pengusirannya. Aku pergi saja, daripada jadi obat nyamuk kalian." Dino berdiri dari posisi duduknya dan ia menatap sebal ke arah Melodi dan Anton.


"Sama-sama kakak, sampai jumpa lagi." sahut Melodi tanpa dosa.


"Hei kamu! Tidak mau coba minuman kekiniannya." tawar Anton.


"Tidak, terima kasih." Dino mempercepat langkah kakinya meninggalkan Melodi dan Anton. Ia sangat muak dengan drama hari ini.


"Kamu pikir cuma kamu saja wanita baik-baik di dunia ini Melodi. Baiklah, aku akan menghapus kamu dari hidupku. Aku pasti akan mendapatkan wanita baik-baik untuk ibu dari anak-anakku nanti." Akhirnya, tanpa disadari oleh Dino. Ia rela melepaskan wanita dicintainya bersama pria lain.


Kini tinggallah Melodi dan Anton di taman kota. Suasana menjadi hening dan canggung satu sama lain.


Melodi yang mempercepat memakan makanan siomay di bungkus terakhirnya. Ia berniat untuk cepat-cepat pulang saja daripada duduk bersama dengan pria aneh seperti Anton.


Anton yang menikmati sensasi makan siomay beli di pinggir jalan raya. Ia sangat lama mengunyah makanan dan diliriknya ke arah Melodi yang makan terlalu semangat hingga tersedak.


"Biasa saja kali makannya, aku tidak akan meminta makananmu. Ayo nikmati saja masa dimana beli siomay di pinggir jalan raya dan makan bersama." lanjut Anton sambil mengunyah makanannya.


Hal itu berhasil membuat Melodi semakin terbatuk-batuk. Lagi-lagi Anton mengambil minuman baru di dalam plastik dan memberikan pada Melodi.


"Ini minum lagi, kamu masih tersedak makanan."


"Apa yang kamu pikirkan sekarang, Hem? Grogi atau malu-malu kucing karena makan sore bersamaku?" tanya Anton yang langsung melarang Melodi agar tidak tersedak lagi.


"Eh, jangan tersedak lagi. Iya-ya, aku gak berbicara aneh-aneh lagi."


Adanya bantuan Anton yang memberikan minuman pada Melodi, ia tampak lebih tenang dan bisa menetralkan nafasnya agar beraturan.


"Terima kasih," ucap Melodi terdengar tulus di indera pendengaran Anton.


"Sama-sama. Ngomong-ngomong, semua minuman ini kamu sanggup menghabiskannya sendiri. Jangan tanyakan aku, betapa kentangnya perutku sudah minum 9 botol minuman." Anton menunjukkan sisa botol minuman pada Melodi.

__ADS_1


"Enak saja, aku juga merasa kenyang sudah habis 4 botol. Nanti bisa darah manis kalau aku habiskan sendiri minumannya." sahut Melodi menatap kedua bola mata malas ke arah Anton.


Anton hanya tersenyum menyenggir kuda, tetapi senyumannya langsung hilang saat menatap wajah Melodi.


Sementara Melodi yang ditatap intens oleh Anton, membuat dirinya salah tingkah. Apalagi Anton mendekatkan wajahnya ke arah Melodi.


Jarak wajah Melodi dan wajah Anton menyisakan setengah sentimeter saja. Deru nafas Melodi terdengar jelas di indera pendengaran Anton. Melodi hanya merapalkan doa baik-baik pada Tuhan agar melindunginya. Melodi mulai memejamkan kedua matanya yang sepertinya Anton tertarik pada dirinya hingga terjadilah hal-hal yang dinginkan.


Satu... Dua... Tiga...


Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang aneh apapun, kecuali Anton yang mendekati wajah Melodi untuk mengambil sisa makanan di sudut hidungnya.


"Bisa-bisanya, sisa makananmu nyangkut di hidung mancungmu, Mel," ucap Anton dengan menunjukkan sisa makanan yang dipegangnya pada Melodi.


Seketika kedua bola mata Melodi terbuka dengan lebar dan ia menatap jijik pada sesuatu di tangan Anton itu.


"Memalukan, singkirkan dariku!" ucap Melodi seraya menepis tangan Anton hingga sisa makanan jatuh di atas lantai.


"Apaan coba aku cuma membantu membersihkan dirimu dari kotoran makanan saja. Biasa saja kali, jangan terbawa perasaan emosi begitu. Kakak tampan inilah sudah berhasil menolongmu." sahut Anton dengan bangganya.


"Iya, terima kasih kakak. Puaskan!" balas Melodi.


Melodi mengambil dua plastik besar untuk dibawa pulang.


"Kamu sudah selesai makankan?" tanya Melodi dan dibalas anggukan cepat oleh Anton.


"Ya sudah, mari kita bagikan saja semua minuman ini pada masyarakat." ajak Melodi.


"Ikut." Anton langsung mengambil dua plastik besar dari tangan Melodi.


Akhirnya, Melodi dan Anton membagikan semua minuman pada masyarakat sekitar agar tidak ada yang mubasir. Setelah selesai acara pembagian minuman gratis, Melodi pamit pulang pada Anton.


"Terima kasih sudah membantuku untuk membagikan minuman kekinian itu. Terima kasih sudah mentraktir minuman untukku dan terima kasih sudah membantuku agar terlepas dari Dino tadi," ucap Melodi panjang lebar pada Anton.


"Iya, sama-sama. Aku senang kamu bahagia hari ini." sahut Anton tersenyum manis membuat Melodi salah tingkah melihat wajah tampannya itu.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Pasti suamiku sudah menunggu di rumah." perkataan Melodi berhasil melunturkan senyuman manis Anton hingga tersenyum kecut.

__ADS_1


"Baiklah hati-hati di jalan." Anton menatap kepergian Melodi dari hadapannya.


"Ternyata dia masih mengingatku, Alex si pria culun. Tetapi, kenapa hatiku terasa sakit saat keberadaanku tak dihargai?" kata Anton dalam hati.


__ADS_2