Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 6 Kamu Mau Apa?


__ADS_3

Keesokan harinya, Melodi terlihat sibuk memasukkan pakaian dan barangnya untuk dibawa pulang ke rumah Alex.


Wajahnya terlihat lesu dan hilang semangat setelah mendengar keputusan terakhir dari Mama Siska yang memaksanya atau lebih tepatnya mengusir dirinya agar ikut pulang ke rumah suaminya.


"Dasar suami culun, berbuat ulah hobinya. Coba saja, Alex tidak menghasut Mama dan Papa. Pasti aku tinggal disini dengan hidup mewah bergelimang harta. Bosan aku menghargai si suami culun itu gak ada gunanya." gerutu Melodi terus memasukkan barangnya dan merapikan tempat tidurnya yang akan lama digunakannya.


Alex yang telah selesai berganti pakaian di ruang ganti, ia berniat untuk membantu membawakan tas koper Melodi menuju mobilnya. Tapi, niatnya terhenti saat mendengar keluh kesah Melodi yang terlihat membencinya.


"Huh, aku harus kuat menghadapi istriku yang tak mencintaiku ini." lirih Alex dalam hati.


Di ruang keluarga di kediaman orang tua Melodi, Mama Siska dan Papa Max terlihat tertawa bahagia saat mengingat raut wajah kusam Melodi yang tidak terima keputusan mereka semalam.


"Pa, aku masih teringat wajah Melodi yang masam dan siap mengamuk," ucap Mama Siska yang duduk di sofa dengan kepala menyender di bahu Papa Max.


Papa Max mengelus rambut panjang Mama Siska dengan lembut dan ia tersenyum kecil menangapi perkataan istrinya.


"Iya, apa tidak terlalu kejam untuk memaksa Melodi agar tinggal bersama Alex?"


Mama Siska menoleh ke arah Papa Max.


"Tidak Pa, aku tidak mau anak kita berlarut dalam kesedihan. Melodi berhak hidup bahagia, walaupun dengan cara dipaksakan."


"Baiklah Ma, jika cara itu terbaik untuk anak kita. Papa selalu mendukung keputusan Mama."


Dari kejauhan Melodi mendorong tas kopernya diikuti oleh Alex. Melodi tak menghiraukan tawaran Alex yang mau membawakan tasnya karena ia tidak ingin berhutang Budi pada siapapun.


"Ma, Pa, barang-barangku sudah siap. Aku pamit dulu, assalamualaikum," ucap Melodi yang telah menghentikan langkah kakinya di hadapan kedua orang tuanya. Ia mencium punggung tangan Mama Siska dan Papa secara bergantian.


Begitupun dengan Alex yang ikut mencium tangan kedua orang tuanya dan pamit pulang.


"Aku dan Melodi pamit pulang dulu ya Ma, Pa. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan." sahut Mama Siska dan Papa Max secara bersamaan.


Melodi memilih berjalan lebih dulu dan meninggalkan Alex yang masih berbicara sekilas pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Membosankan, aku harus pulang bersama suami culunku." gerutu Melodi masih merasa kesal pada Alex yang tidak melakukan kesalahan apapun.


"Pak Pim, tolong angkat tas koperku di dalam mobil Alex!" ucap Melodi pada supir pribadinya tapi kali ini Pak Pim tidak ikut mengantarnya karena Alex suka membawa mobil sendiri.


"Baik Nona muda." Melodi menatap Pak Pim dengan cekatan melakukan tugasnya.


"Nanti sore Pak Pim antarkan mobilku menuju rumah Alex."


"Siap Nona."


Melodi menoleh ke arah belakang yang ternyata Alex sedang membawa tas ranselnya saja dengan langkah kaki menuju ke arah dirinya.


"Kamu cuma bawa tas ransel saja, dimana tas koperku?" tanya Melodi menatap sekilas tas ransel di tubuh Alex.


"Iya, aku hanya membawa sedikit pakaian. Setelah menikah aku berniat untuk mengajakmu pulang bersamaku." jawab Alex tersenyum tulus.


Senyuman tulus itu membuat Melodi merasa jijik. Ia memilih melangkah masuk ke dalam mobil.


Alex hanya menghela nafas panjang saat melihat istrinya sedang mengabaikan keberadaannya.


"Pak Pim, saya pamit pulang dulu. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan." pamit Alex sambil mencium punggung pria paruh baya itu.


Pak Pim menyambut tangan Alex dengan tersenyum tulus.


"Iya, semoga hidupmu bahagia nak bersama nona Melodi."


"Aamiin, kalau begitu saya permisi dulu "


Alex membuka pintu mobilnya dan ia menaiki mobil yang ternyata sudah ada Melodi yang duduk di sebelah kursi pengemudi dengan memainkan ponselnya. Ia memilih menstarterkan mobilnya agar melaju meninggalkan area pekarangan rumah mewah keluarga Melodi.


Sedangkan Melodi menatap pagar tinggi rumah mewah orang tuanya hingga berganti jalan raya. Suasana di dalam mobil terasa hening dan hanya terdengar deru mesin mobil.


Alex dan Melodi merasa canggung satu sama lain. Pernikahan mereka bukan atas dasar cinta melainkan pernikahan yang dijodoh-jodohkan oleh kedua orang tua mereka.


Dua jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Alex telah memasuki area pekarangan rumah mewah minimalis bergaya klasik Moroko.

__ADS_1


Melodi menatap ke arah bangunan rumah mewah tiga lantai dengan pagar keliling berwarna kuning keemasan yang dipadukan warna putih dinding rumah mewah. Walaupun rumah mewah ini tidak sebesar dengan rumah kedua orang tuanya, desain rumah mewah minimalis ini membuat Melodi terasa takjub akan keindahan dekor rumah itu.


Awalnya Melodi menganggap bahwa rumah Alex tidak bagus dan tidak layak huni. Tapi, kata lumayan yang cocok bagi penilaian Melodi tentang rumah mewah milik Alex.


Mobil mewah Alex berhenti di depan pintu utama rumah mewahnya. Melodi turun dari mobil dan ia menatap ke sekeliling rumah mewah Alex yang menjadi miliknya juga.


"Selamat datang Tuan, Nona," ucap pelayan rumah Alex menyapa kedatangan mereka.


"Iya." jawab Alex.


Melodi hanya diam saja dan ia melirik Alex yang menyuruh dua bodyguard untuk membawa barang-barangnya.


"Ayo masuk ke dalam rumah kita." ajak Alex dibalas anggukan cepat oleh Melodi.


Melodi mengikuti langkah kaki di hadapannya dan ia mengamati sekeliling ruangan rumah yang memiliki barang mewah. Ia menaiki anak tangga melewati lantai dua dan lantai tiga. Langkah kaki mereka terhenti di depan pintu ruangan.


Alex yang menoleh ke arah belakang yang sudah ada Melodi yang berdiri diam dengan tatapan mata meminta penjelasan pada dirinya.


"Ini ruang kamar kita, ayo kita masuk." Alex membuka pintu dan ia berjalan masuk ke dalam lebih dulu.


"Kenapa kamu berdiri diam saja, ayo masuklah!"


"Tidak mau." Melodi menggeleng pelan dengan kedua tangan melipat ke atas perutnya.


"Kenapa?" tanya Alex dengan menyerhitkan keningnya merasa binggung.


"Aku tidak mau tidur satu ruangan dengan pria yang tidak aku cintai." lagi-lagi perkataan Melodi membuat Alex hanya bisa bersabar.


"Aku tidak akan menyentuhmu."


"Benarkah? Tapi sayangnya aku tidak percaya dengan omongan lelaki." Melodi menatap sinis ke arah Alex yang terlihat sedikit kesal.


"Jika kamu tidak terima dengan keputusanku. Kamu bisa menceraikanku detik ini juga. Dengan senang hati aku akan pergi dari rumahmu." lanjut Melodi.


Melodi melihat Alex memberikan tatapan sulit diartikan pada dirinya. Ia terlihat gugup dan takut. Ia melangkah mundur ke belakang saat Alex berjalan mendekati dirinya. Baru saja Melodi ingin melarikan diri dari hadapan Alex, ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang dari arah belakang.

__ADS_1


"Kamu mau apa, Alex?" tanya Melodi yang berusaha menghindari wajah Alex yang semakin mendekat ke arah dirinya.


__ADS_2