Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 40 Penawaran Lilo Dalam Kerjasama Perusahaan


__ADS_3

Malam ini Melodi terjaga dalam tidurnya, biasanya jam 10 malam, Melodi telah tertidur bersama Alex di sampingnya. Apa mungkin Melodi sudah mulai terbiasa tidur bersama Alex dan tidak bisa tidur nyenyak?


Melodi berusaha memejamkan kedua matanya agar bisa tidur nyenyak. Sekarang sudah jam 12 malam, tetapi ia tidak bisa tidur.


"Huh, menyebalkan sekali mataku ini tidak bisa kompromi apa. Padahal aku capek sekali dan butuh istirahat cukup. Malahan aku tidak bisa tidur nyenyak." keluh Melodi yang merubah posisi berbaringnya menjadi menyender di atas kepala kasur tidur.


Ada rasa berbeda setiap kali menatap ruang kamarnya bersama Alex. Padahal ia baru 2 minggu tidur bersama Alex dan selama hampir 6 bulan, ia menikah dengan Alex, ia bisa tidur sendiri di dalam kamarnya.


"Apa aku tidak bisa tidur karena banyak pikiran tentang lomba itu? Hem... Padahal hal itu sepele untuk dicarikan ide pokok dalam pembuatan sinopsis dan naskah novel. Cuma saja, mencari orang yang mau bermain dalam video film pendek sedikit rumit." Melodi menghela nafas kasar saat teringat pikirannya yang fokus pada lomba itu.


"Untung saja semua berkas laporan kerjasama kontrak dengan rekan bisnisku selesai, aku bisa sedikit tenang. Tapi, jangan bilang aku sedang merindukan Alex dan tidak bisa tidur nyenyak karena Alex tidak tidur di sampingku." Melodi menggeleng cepat untuk mengusir pikirannya yang aneh-aneh.


"Apa aku telpon saja Alex agar pulang sekarang?" Melodi melirik jam di dinding kamarnya dan ia mengurungkan niatnya agar tidak menelepon Alex.


"Gak mau aku, gengsi aku kalau menelpon pria lebih dulu." Melodi kembali berbaring dan memejamkan kedua matanya. Tapi, lagi-lagi ia tidak bisa tidur nyenyak.


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku butuh tidur nyenyak. Sebaiknya aku telpon saja Anton. Pasti Anton sedang bersama Alex karena dia yang membawa pakaian Alex dan meminjamkan mobilnya datang kesini." Melodi mengambil ponsel di atas meja yang bersebelahan dengan kasur tidurnya.


Dengan kedua tangan yang terlatih untuk mencari nomor Anton di ponselnya. Setelah menemukan nomor Anton, ia melakukan sambungan panggilan masuk di ponselnya.


Melodi menunggu sambungan panggilan ponselnya diangkat oleh Anton. Ia butuh kepastian dimana suaminya sekarang. Ia yakin Alex bukan tipikal pria selingkuh dan bukan pria kasar. Tetapi, Alex hanyalah pria culun dan polos.


Tidak berapa lama kemudian, sambungan panggilan ponselnya diangkat oleh seseorang.


"Hallo," ucap Seseorang dengan suara khas bangun tidur.


Seketika Melodi membulatkan kedua matanya saat mengenali suara berat ini.


"Lilo? Apa kamu sedang bersama dengan Alex dan Anton?" tanya Melodi melalui sambungan panggilan di ponselnya. Suara itu sangat dikenali Melodi yaitu suara milik Lilo. Pria yang memiliki wajah tampan yang menyerupai Miko yang membuat Melodi hampir salah sangka. Ia sangat hapal suara milik Lilo walaupun ia hanya bertemu dua kali.


Pertanyaan Melodi seketika membuat Lilo membuka kedua matanya dengan bulat dan ia menatap ponsel yang digenggamnya.


"Astaga, aku sembarangan mengangkat sambungan panggilan ponsel Alex. Bisa ketahuan rencana ini." kata Lilo dalam hati. Ia melirik ke arah samping, Alex masih tidur nyenyak tanpa adanya gangguan noise apapun. Ia juga heran pada Alex, kenapa Alex menaruh ponselnya di dekat ponsel miliknya.


Melodi yang tidak mendapatkan jawaban dari Lilo. Ia menjadi curiga dengan kejadian sore tadi.


"Lilo, kamu ikutan kerja lembur malam ini. Apa ada suamiku di dekatmu? Apa kalian sedang membuat proyek kerja dengan Anton? Dimana Anton sekarang? Aku mau berbicara tatap muka dengannya?" berbagai pertanyaan Melodi berikan pada Lilo hingga Lilo menjadi pusing tujuh keliling.


Lilo yang merasa pusing bercampur ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Melodi dan takut membangunkan Alex yang baru tertidur. Dengan terpaksa ia mematikan sambungan panggilan video call dari Melodi.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memperumit keadaan. Aku tidak ingin ikut campur permasalahan kalian dan aku tidak ingin mengganggu kenyamanan Alex yang baru tidur." batin Lilo dalam hati. Tatapan matanya tertuju pada ponsel Alex yang digenggamnya beralih ke arah Alex yang masih tertidur nyenyak.


Lilo menarik nafas dalam-dalam untuk menjernihkan pikirannya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara Melodi dan Alex. Ia pun mengirimkan pesan singkat pada Melodi. Setelah pesan terkirim, barulah Lilo menaruh ponsel Alex di atas meja yang bersebelahan dengan ponselnya. Ia melanjutkan tidurnya untuk bermimpi indah bertemu dengan wanita idamannya di alam mimpi.


Melodi menatap kesal ke arah layar ponselnya. Bagaimana tidak kesal, jika ia menelpon Anton diangkat oleh Lilo dan dimatikan. Tiga kali ia menelpon Anton lagi tetapi tidak diangkat.

__ADS_1


"Kenapa susah sekali menelpon Anton, padahal kan aku ingin menanyakan kabar Alex?"


Ting!


Notifikasi pesan baru dari Anton masuk di ponselnya dan Melodi dengan cepat membuat isi pesannya.


"Tadi, aku sedang di toilet. Aku tahu kamu pasti menyukaiku. Nanti saja menelponku, sekarang aku sedang sibuk membuat proyek kerja bersama suami culunmu dan Lilo. Jangan mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja. Selamat malam, jangan lupa mimpikan aku sebagai suami keduamu." Anton.


Setelah Melodi membaca isi pesan Anton, ia mengelus dada saat Anton sembarangan mengirim pesan padanya.


"Astaghfirullah Anton, pede tingkat dewa sekali dia mengirimkan pesan alay bin lebay seperti itu padaku. Aku mana mungkin tertarik pada dia yang tukang gombal para wanita. Jika disuruh memilih juga, aku lebih memilih Alex daripada Anton." Melodi langsung tersadar saat mendengar perkataannya sendiri.


"Ya ampun, lagi-lagi aku memikirkan Alex. Sebenarnya apa yang terjadi padaku ini? Apa jangan-jangan aku hamil." Melodi langsung teringat dengan jadwal bulan datang haid yang dimana bulan ini ia tidak datang bulan.


"Tapi kan aku sudah memasang obat KB pada tubuhku, mana mungkin aku bisa hamil. Tetap berpikir positif saja, nanti aku akan datang haid." Melodi mulai menenangkan dirinya sendiri daripada aku stres karena memikirkan hal yang tidak-tidak pada dirinya.


Keesokan paginya, Melodi telah berpakaian rapi dengan baju jas coksu senada dengan celananya. Seperti biasa wajah cantiknya dipolesi bedak cream shincare, alis tipis, maskara anti badai, kontur hidung tipis dan bibir mungilnya dipolesi lipstik pink. Ia tidak suka menggunakan bedak make up karena tidak mau merusak kulit wajahnya. Rambut panjangnya berwarna hitam sengaja terurai dan cukup menggunakan bando dalam menghias penampilan kecantikan dirinya yang sangat sempurna.


Melodi berjalan menuju meja makan dan sudah ada roti bakar dan susu hangat untuk sarapan paginya. Ia mendudukkan dirinya di kursi biasa diduduki bersama Alex. Ia menatap sekilas ke arah kursi di hadapannya yang selalu diduduki oleh Alex. Rasa kesepian mulai melanda Melodi.


Tidak ingin berlarut dalam perasaan kesepian, Melodi mulai mengambil roti dan selai coklat untuk dimakannya. Susu hangat untuk diminumnya. Ia mempercepat makannya karena jam telah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Ia melihat ada berbagai buah-buahan di atas meja dan ia memilih memakan buah pisang saja dan meneguk air putih.


Kemudian, Melodi mengambil tas slempangnya untuk disandangnya dan ia melangkah pergi menuju pintu utama rumahnya.


"Iya Nona muda." sahut Pak Beni berjalan cepat menuju Melodi.


"Kumpulkan semua rekaman video CCTV dari kemarin hingga hari ini!" titah Melodi merasa sesuatu yang disembunyikan atas perlakuan Alex pada dirinya kemarin.


"Baik Nona." jawab Pak Beni cepat


Setelah mengatakan itu Melodi berjalan masuk ke dalam mobilnya dan menstarterkan laju kecepatan mobil meninggalkan area pekarangan rumah mewahnya.


Setengah jam kemudian, Melodi telah sampai di kantor perusahaannya. Ia melangkah keluar dari mobil dan mengunci mobilnya dengan rapat. Kemudian, Melodi melangkahkan kakinya dengan tegas melewati beberapa karyawan yang menyambut kedatangannya. Ia memilih berjalan menuju ruang lift untuk mempercepat langkah kakinya. Ia tidak suka berjalan mengelilingi karyawan yang berbaris rapi untuk menyambut kedatangannya hingga menuju ruang kerjanya di lantai 8. Ia bukan tipikal wanita gila hormat dan tidak suka menyusahkan dirinya sendiri.


Ting!


Pintu ruang lift yang terbuka dan menandakan ia telah sampai di lantai 8. Ia melangkah keluar dari ruang lift menuju ruang kerjanya sebagai CEO di kantor Perusahaan Fashion MelXander.


Setelah sampai di dalam ruangannya, Melodi menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya sebagai CEO. Ia memanggil Wika yang sedang duduk di ruangannya.


"Wika!" panggil Melodi.


Wika yang disibukkan dengan beberapa berkas untuk diketik dan dikirimkan melalui surat elektronik. Ia langsung menghentikan aktivitas kerjanya dan ia berjalan cepat menuju ke arah Melodi.


"Iya Nona Muda." jawab Wika yang telah berdiri sopan di hadapan Melodi.

__ADS_1


"Sebutkan jadwal rapat hari ini?" tanya Melodi menatap intens menuju ke arah Wika.


"Baik Nona, saya izin mengambil laporan jadwal rapat nona hari ini." jawab Wika pamit undur diri di hadapan Melodi untuk mengambil berkas laporan di meja kerjanya.


Tidak lama kemudian, Wika telah datang membawa berkas laporan di tangannya. Ia mulai membaca semua laporan jadwal rapat kerja dengan rekan bisnis Melodi.


"Nona, jadwal rapat hari ini ada 3 sesi. Sesi 1 Rapat pengolahan bahan produk pakaian dengan perusahaan Teknologi di jam 9 pagi; Sesi 2 Rapat diskusi penawaran keuntungan kerjasama dengan perusahaan Tekstil Fashion di jam 11 pagi; Sesi 3 Rapat Perpanjangan kontrak pembuatan produk dengan perusahaan industri di jam 2 siang." jelas Wika secara detail pada Melodi.


Melodi yang fokus mendengar semua penjelasan dari Wika, ia baru tahu dari salah satu perusahaan yang akan ditemuinya dalam rapat hari ini.


"Sebentar, sejak kapan saya menerima perusahaan Tekstil fashion?" tanya Melodi dengan menyerhitkan keningnya merasa heran.


"Maaf Nona, saya pikir nona menerima kontrak kerjasama dengan perusahaan Tuan Anton. Tuan Anton menyampaikan informasi penerimaan kerjasama pada saya dua hari yang lalu." jawab Wika jujur.


"Apa-apaan ini! Mana mungkin saya langsung setuju saja menerima penawaran kerjasama. Biasanya saya pasti memberitahumu dan kamu pasti memberitahu saya. Lalu, kenapa bisa tidak sefrekuensi memberikan informasi." sahut Melodi mulai meninggikan suaranya merasa kesal karena ia tidak suka dengan sikap Wika tidak jujur padanya.


"Maafkan saya, Nona. Ini semua salah saya tidak beritahu nona. Lain kali saya akan menanyakan lebih dulu pada nona dan tidak mempercayai pihak rekan bisnis Nona. Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan ini saya akan membatalkan pertemuan rapat bila nona merasa keberatan," ucap Wika menyesali perbuatannya yang tidak sopan dan mengganggu kenyamanan Melodi.


Melodi menghela nafasnya dengan kasar untuk mengatur dirinya terbawa emosi yang labil.


"Tidak perlu dibatalkan Wika, biarkan saja mereka datang dan aku ingin tahu apa yang mereka inginkan selain hubungan kerjasama." sahut Melodi mantap.


"Benarkah Nona? Maafkan saya sangat ceroboh dan membuat kegaduhan," ucap Wika berulang kali meminta maaf pada Melodi.


"Iya-ya, santai saja kali. Persiapkan semua berkas laporan yang akan dirapatkan nanti. Saya mau beristirahat sebentar!" titah Melodi lalu ia bangun dari duduknya dan ia berjalan meninggalkan Wika yang berdiri di hadapannya.


Melodi berjalan masuk ke dalam ruang istirahatnya di dalam ruang kerjanya. Ia butuh menenangkan dirinya yang terlihat tidak stabil dan tidak bersahabat.


"Entah kenapa aku merasa jijik pada Anton saat membaca pesan semalam." lirih Melodi dalam hati.


Di ruangan kerja Alex, tampak ramai dengan kedatangan Lilo yang lebih santai bekerja dari biasanya. Sebab, Lilo mengundurkan diri di tempat kantor pemerintahan dan ia fokus bekerja di kantor perusahaan IT miliknya tapi sepertinya Alex tidak yakin dengan sikap sesuka hati Lilo yang suka jalan-jalan di waktu bekerja.


"Ada apa Lilo?" tanya Alex yang menghentikan aktivitasnya menerima berkas laporan kerjasama perusahaan dan ia menatap ke arah Lilo telah duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.


"Aku ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaanmu. Apa kamu sudah memasang program IT terupdate dan lebih canggih?" tanya Lilo balik dan Alex langsung menggeleng cepat.


Lilo langsung menepuk jidatnya di hadapan Alex. Sungguh teman baiknya ini bukan penampilannya saja polos tapi pikirannya ikutan polos.


"Ya ampun Alex, pasti kamu tidak memikirkan bahayanya ada hacker yang meretas data penting perusahaanmu. Pasti kamu tidak menggunakan jasa IT lebih canggih dan memilih melakukannya sendiri, begitu?" ucap Lilo dan Alex langsung menyenggir kuda.


"Alex, saranku untukmu lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik memasang keamanan daripada kehilangan data penting. Alex, lebih baik terimalah penawaran kerjasama dari perusahaanku. Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik untukmu dan tidak akan mengecewakan rekan bisnisku. Apalagi kamu tahu sendiri sifatku tidak suka menjatuhkan orang lain. Apa kamu tertarik melakukan kerjasama perusahaan denganku, Lex," ucap Lilo panjang lebar pada Alex. Ia memberikan pikiran seluas samudra dan setegar hati untuk memberikan jawaban dari penawarannya.


"Baiklah, aku mengerti dengan kebaikanmu. Tapi, perusahaanku ini di bidang kuriner. Apa tidak terlalu berlebihan Lilo?" tanya Alex tampak berpikir keras.


"Tentu saja tidak, Lex. Malahan bagus menggunakan jasa IT, tidak hanya keamanan data internal dan data eksternal perusahaan, aku akan membantumu untuk menyebarluaskan promosi makanan di perusahaanmu. Agar perusahaanmu semakin banyak masyarakat yang kenal dan mau membeli semua makanan yang dijual." jelas Lilo panjang lebar di hadapan Alex. Ia menyakinkan Alex agar perusahaan Alex dan perusahaan dirinya saling mendukung satu sama lain dan bisa menguntungkan semua pihak-pihak yang bersangkutan.

__ADS_1


__ADS_2