
Seketika gelak tawa Melodi terdengar jelas diindera pendengaran Anton. Bagaimana Melodi tidak tertawa keras, jika ekspresi wajah tampan Anton berubah menjadi kepiting rebus.
"Hahaha... Aku becanda kali. Sudahkah kalimat terakhirku itu jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku tidak sekejam itu menjadi wanita," ucap Melodi disela tawanya.
Anton hanya bisa bernafas lega saat mendengar candaan Melodi.
"Syukurlah Melodi tidak ada niat hati yang buruk seperti itu. Aku percaya Melodi hatinya tidak sebusuk itu." kata Anton dalam hati.
Melodi yang menatap orang-orang sedang bermain ria di setiap permainan. Ia langsung menarik tangan Anton agar mengikuti langkah kakinya.
"Ya sudah, ayo kite pergi kesana." ajak Melodi dan Anton terpaksa mengikuti keinginan Melodi untuk mulai bermain.
"Tunggu disini sebentar, biar aku saja mengantri untuk membeli tiket karcis," ucap Anton dan Melodi langsung mengacungkan jempolnya pertanda setuju.
Anton berjalan menuju tempat pembelian tiket karcis. Setelah giliran antirian dirinya, barulah ia memberikan uang sesuai jumlah tiket karcis yang dipesannya. Ia berjalan mendekati Melodi yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Sudah dapat tiket karcisnya, kamu mau main sekarang?" tawar Anton dan Melodi mengangkatkan kepalanya di atas untuk melihat wajah tampan Anton yang berdiri di hadapannya.
"Ayo." Melodi menyimpan ponsel di dalam saku celananya dan ia berjalan beriringan dengan Anton.
Melodi dan Anton mulai mendaftarkan permainan satu persatu yang diinginkan oleh Melodi.
Tanpa terasa hari telah menjelang malam, Melodi tampak tertawa bahagia saat menikmati permainan bersama Anton.
Anton sangat menikmati wajah bahagia Melodi, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Melodi tampak diam dan murung saja.
"Haruskah aku menjadi orang lain agar kamu bisa bahagia bersamaku, Mel? Aku sungguh sangat beruntung saat kamu bahagia bersamaku. Tidak bisakah kamu melihat sisiku apa adanya." kata Anton dalam hati.
"Anton, aku harus mau minum yang segar-segar sebelum pulang. Bagaimana kita pesan es krim saja," ucap Melodi yang menghapus keringat di wajahnya.
Tidak ada respon apapun dari Anton yang berdiri di sebelahnya. Melodi menoleh ke arah Anton yang tampak tersenyum bahagia ke arah dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyam-senyum seperti itu? Kamu pasti berpikir macam-macam tentangku kan. Ayo ngaku kamu? Pasti kamu pria mesum?" tuduh Melodi dengan suara kerasnya membuat Anton tersadar dari lamunannya.
Anton tampak terkejut saat Melodi memasangkan wajah galaknya.
"Hei! Apa yang kamu katakan tadi, Mel? Aku tidak fokus mendengarnya?" tanya Anton dan Melodi menatap sebal ke arah Anton.
"Kamu pikirin sendiri." jawab Melodi asal dan ia berjalan meninggalkan Anton yang mulutnya terganga melihat sikap Melodi emosi dan berpikir negatif tentang dirinya.
Dengan spontan, Anton langsung menarik tangan Melodi hingga tubuh Melodi menabrak dada bidang Anton.
"Haduh," ringis Melodi dengan memegang keningnya yang memerah.
Anton langsung memeriksa wajah Melodi yang merah karena dirinya.
"Maafkan aku, bagian mana yang sakitnya?" tanya Anton membantu mengusap keningnya Melodi dan meniupnya dengan pelan.
Melodi langsung menghempaskan tangan Anton, ia memberikan tatapan tajam bak elang ke arah Anton.
"Gak usah kasih perhatian palsu, Anton! Aku tidak suka. Kamu itu pria mesum," ucap Melodi dan Anton menggeleng cepat.
"Sejak kamu senyam-senyum melihat wajahku tadi. Aku ajak beli es krim, malahan aku dicuekin. Dasar pria gak ada akhlak." balas Melodi.
"Eh, enak saja menuduhku yang tidak-tidak Mel. Memangnya aku salah ya mau melihat wajah cantik dan imut kamu? Apa aku harus membayar uang ganti rugi karena menikmati wajahmu, Mel? Jika kamu merasa dirugikan gunakan saja hijab dan cadar agar terhindar dari perbuatan maksiat." jelas Anton panjang lebar di hadapan Melodi.
Melodi menelan salivanya dengan susah payah disaat ia diserang habis-habisan oleh perkataan benar dari Anton. Lidahnya keluh untuk membalas perkataan Anton yang menurutnya masuk akal dan sesuai logika.
"Iya benar katamu, Nton. Aku harus melakukannya nanti." sahut Melodi dengan tersenyum terpaksa.
"Kamu bisa mengenakan hijab dan cadar setelah memantapkan hati untuk hijrah. Kataku tadi sebagai ajakan saja dan bisa dipahami sesuai keinginan hatimu." balas Anton karena tidak ingin Melodi merasa menyesal mengikuti perkataannya.
"Iya." jawab Melodi singkat.
__ADS_1
"Oh iya, kata kamu mau beli es krim. Ayo pesanlah biar aku mentraktirmu khusus hari ini," ucap Anton.
"Tidak usah, Anton. Kamu sudah banyak mentraktirku hari ini." tolak Melodi cepat.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu ikutan senang. Mari kita pesan sekarang saja, tempat penjual sedang sepi pelanggan."
"Okey."
Setelah memesan es krim dan minuman dingin untuk Anton dan Melodi. Akhirnya Mereka pergi meninggalkan area tempat wisata hiburan.
Anton membukakan pintu mobilnya untuk Melodi. Sama seperti yang dilakukannya pagi tadi. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dan tidak lupa membayar parkiran mobil pada tukang parkir. Mobil Anton telah pergi meninggalkan area wahana tempat wisata permainan.
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Sudah bahagiakah dirimu hari ini?" tanya Anton menoleh sekilas ke arah Melodi.
"Iya, aku sangat bahagia. Terima kasih Anton atas ajakanmu untuk pergi ke tempat wisata baru itu. Hatiku cukup tenang dalam menghadapi masalah selanjutnya." jawab Melodi membuat Anton merasa penasaran atas perkataannya di akhir kalimat.
"Menghadapi masalah selanjutnya? Maksudnya berhadapan dengan Alex si suami culun Melodi itu? Benar begitu?" itulah perkataan yang ingin Anton lontarkan pada Melodi tetapi ia tidak sanggup resiko setelah mengeluarkan kalimat sarkas itu. Bisa saja mengganggu suasana hati Melodi yang sedang bahagia berubah menjadi murung kembali.
"Iya, selalu semangat ya semoga semua akan baik-baik saja pada waktunya," ucap Anton tersenyum terpaksa pada Melodi.
Setelah sampai di area pekarangan rumah sakit swasta Lia, Anton memilih memakirkan mobilnya didekat mobil Melodi yang masih setia sedari pagi tadi disana.
"Terima kasih ya Anton, aku pulang dulu," ucap Melodi yang ingin membuka pintu mobil Anton. Tetapi Anton langsung menarik tangan Melodi.
"Kenapa?" tanya Melodi dengan menyerhitkan keningnya merasa heran menatap ke arah Anton.
Anton yang menyadari dirinya menggenggam tangan Melodi. Ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Melodi.
"Oh tidak apa-apa, hati-hati di jalan ya." sahut Anton dengan memasang wajah senyum manisnya.
"Baiklah." Melodi melangkah keluar dari mobilnya dan ia berjalan menuju mobilnya. Ia membuka kunci mobilnya dan ia melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran mobil.
__ADS_1
Satu jam setengah, Mobil mewah yang Melodi kendarai telah memasuki area pekarangan rumah mewah kedua orang tuanya. Baru saja, Melodi melangkah keluar dari mobilnya. Ia dikejutkan dengan suara berat milik Papa Max.
"Darimana saja kamu? Kenapa hampir magrib ini kamu baru pulang? Dimana suamimu, Mel? Dia terus-menerus mencari keberadaanmu tapi kamu tidak dapat kabar apapun. Apa yang kamu lakukan hingga pulang hampir magrib begini?" berbagai pertanyaan Papa Max berikan pada Melodi hingga membuat Melodi pusing sendiri.