Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 11 Kebaikan Melodi


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju kantor pemerintahan dimana Alex sebagai pegawai honorer pemerintahan. Ia bekerja seperti rakyat jelata. Walaupun dirinya keturunan anak orang kaya dan kedua orang tuanya memiliki perusahaan sendiri. Ia tidak ingin menjadi seorang anak yang serba instan dengan cara mengandalkan kekayaan orang tuanya. Lebih baik Alex berjuang dari nol dan memilih membuka usaha sendiri dengan cara menabung gaji dari hasil pegawai honorer pemerintahan.


Meskipun terkesan tidak seberapa dengan modal yang dibutuhkan oleh Alex. Tapi, Alex sangat bersyukur karena ia bisa mendapatkan pekerjaan tanpa orang kenalannya.


Saat ini Alex terlihat fokus mengendarai mobil sejuta umat yang dibawa di tempat kantor. Dua mobil mewah yang terparkir sempurna di pekarangan rumah mewah Alex hanya digunakan saat berpergian saja.


Meskipun tatapan mata Alex menuju ke arah jalanan raya yang ramai kendaraan yang berlalu lalang di pagi hari. Tapi, pikiran Alex berkelana dimana-mana. Seperti halnya, ia teringat dengan perkataan Lilo kemarin.


*Flashback On*


Alex sedang menunggu Lilo yang terlihat menertawakan dirinya. Ia merasa heran terhadap teman baiknya yang ingin mengatakan rencana yang penting tapi mengajaknya bercanda dengannya terus menerus.


"Ayolah Lilo, apa yang ingin kamu katakan mengenai rencana pentingmu itu?" ucap Alex melirik jam tangannya yang telah menunjukkan jam 3 sore.


"Ehem... Aku minum dulu." Lilo menjenguk kopi dingin kesukaannya. Ia menetralkan nafasnya yang tak beraturan karena tertawa lepas.


"Baiklah." sahut Alex yang menunggu Lilo yang menetralkan nafasnya.


"Jadi, aku ingin memberikan sebuah rencana yang penting dan pastinya dapat merubah pernikahan kalian lebih berwarna. Walaupun aku tidak berniat untuk menyuruhmu menjadi orang lain tapi kamu harus mencobanya. Kamu pasti sangat mencintai istrimu dan mengharapkan cintamu dibalas?"


"Pasti aku mau cintaku dibalas oleh istriku. Lalu, apa yang harus aku lakukan, Lilo?"


Lilo langsung mendekatkan wajahnya pada telinga Alex untuk membisikkan sesuatu. Sedangkan Alex yang mendengar rencana Lilo membuat kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat menanggapi perkataan Lilo.


Setelah selesai menjelaskan rencana penting untuk Alex, Lilo memundurkan tubuhnya dan ia menatap wajah Alex yang terlihat ragu-ragu.


"Apa kamu tertarik melakukan rencanaku? Jika kamu mau, aku akan membantumu," ucap Lilo.


Dengan berpikir panjang dan memantapkan hati agar tidak salah memilih

__ADS_1


Akhirnya Alex mengangguk mengiyakan perkataan Lilo.


"Iya, aku setuju. Tolong beritahu aku mengenai keperluan apa saja yang harus aku beli?" sahut Alex membuat Lilo tersenyum senang.


"Tidak banyak, cukup beli pakaian yang modis dan keluarkan sikap usil membuat orang kesal. Dapat dipastikan kamu akan menemukan sensasi baru dari orang itu dalam menangani sikapmu dan memahami semua kondisi yang kamu hadapi." jelas Lilo dan Alex tampak berpikir sejenak.


"Jika aku melakukannya, apa orang yang aku usilin merasa risih dan jijik padaku?" tanya Alex dengan polosnya.


"Tentu saja, abaikan saja respon itu. Teruslah membuat sikap usil hingga kamu bisa memahami sifat aslinya." jawab Lilo cepat.


"Baiklah, aku percayakan semua padamu, Lilo. Bantu aku menyukseskan rencanamu itu." balas Alex dengan tatapan sendunya.


*Flashback off*


Alex baru menyadari setiap perkataan Lilo benar-benar memberikan sensasi tersendiri. Ia bisa melihat sikap Melodi yang lebih perhatian sedikit dan mau berbicara santai dengannya.


"Baiklah, aku akan mendapatkan cintamu, Melodi. Aku akan membuat dirimu percaya, kamu berhak mencintai lagi." lirih Alex.


Mobil Melodi yang telah sampai di depan kantor perusahaannya, ia melangkah keluar dari mobil dan ia menatap gedung tinggi pencakar langit yang mewah dari hasil jerih payahnya beberapa tahun yang lalu. Ia tersenyum miris saat mengingat kembali kenangan bersama Miko yang memberikan modal besar untuk membantu mendirikan perusahaannya tanpa bantuan orang tua.


"Tunanganku dulu memang baik dan mau berjuang bersama-sama. Tapi, Tuhan lebih sayang dia dan membawanya pergi dari sisiku." lirih Melodi pelan.


Melodi berjalan masuk ke dalam bangunan mewah yang menjadi perusahaan utamanya, perusahaannya telah memiliki 10 anak cabang di berbagai daerah. Di setiap langkah kakinya, ia dijumpai dengan karyawan yang menyambut kedatangannya dengan ramah. Ia hanya tersenyum membalas sapaan mereka. Ia menaiki anak tangga menuju lantai lima di ruang kerjanya sebagai CEO perusahaan. Ia selalu menaiki tangga di pagi hari. Hitung-hitung bisa menjadi olahraga kecil untuk tubuh Melodi. Setelah sampai di depan ruangannya, ia membuka pintu ruangan untuk melangkah masuk ke dalam ruangan.


Dilihatnya ruangannya yang tampak rapi dan bersih. Apalagi ada beberapa berkas laporan yang menumpang di meja kerjanya. Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran melihat berkas-berkas itu. Bukankah dirinya menyuruh tangan kanannya untuk mengganti posisinya selama dirinya tidak masuk kerja. Apa jangan-jangan si Wira tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan perintahnya? Tidak ingin dirinya berpikir negatif, lebih baik dirinya langsung memeriksanya sendiri.


Dibacanya satu satu berkas laporan yang ternyata hasil rapat dan kerjasama dengan perusahaan lain.


"Syukurlah, semua baik-baik saja. Aku hampir berpikir negatif pada Wira," ucap Melodi.

__ADS_1


Kemudian Melodi mengambil gagang telepon untuk menelpon Wira agar datang ke ruangannya.


"Wira, bisa ke ruangan saya sekarang?" ucap Melodi melalui sambungan teleponnya.


"Baik Nyonya." jawab Wika dan Melodi menutup sambungan telepon secara sepihak.


Melodi melanjutkan memeriksa berkas lain untuk membaca setiap hasil kerjasama.


"Menarik, cocok untuk meningkatkan saham perusahaan."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk saja," ucap Melodi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dipegangnya.


"Maaf Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Wika sopan di hadapan Melodi.


Melodi yang duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan mata sibuk ke arah berkas telah teralihkan menuju ke arah Wika.


"Wika, jelaskan bentuk kerjasama yang kamu terima dengan perusahaan lain?"


"Baik Nyonya, saya izin menjelaskan kerjasama ini berupa pihak 2 perusahaan lain ingin menanamkan saham dari produk mereka untuk dipromosikan kepada masyarakat melalui perusahaan Telekomunikasi ini. Saya berpikir kerjasama ini memiliki keuntungan besar untuk perusahaan kita yang mempromosikan produk semakin terkenal dengan perusahaan kita. Selain itu, penanaman modal saham sangatlah besar. Maaf saya langsung menerima tanpa memberitahu Nyonya karena saya tidak mau mengganggu bulan madu Nyonya." jelas Wika panjang bear di hadapan Melodi dan ia menunduk takut akan dimarahi oleh Melodi.


Melodi hanya menghela nafas kasar, ia mengajak Wika agar duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya untuk memberikan sesuatu.


"Duduklah dulu, aku ingin memberikan sesuatu," ucap Melodi dan Wika langsung duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Melodi.


"Aku tidak akan memarahimu karena hal itu, aku sangat berterima kasih karena kamu bisa mendapatkan rekan bisnis yang memberikan modal saham yang fantastis. Untuk penghargaan kerjamu yang baik, aku akan menambahkan gajimu menjadi 20 juta." perkataan Melodi membuat Wika terbaru dengan gajinya yang bertambah besar.


"Beneran Nyonya, jadi gaji saya dari 10 juta menjadi 20 juta?" tanya Wika memasukkan dan dibalas anggukan cepat oleh Melodi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih Nyonya atas kebaikannya. Saya doakan semoga Nyonya sehat selalu, langgeng pernikahan sampai menua dan dilancarkan rezeki dalam segala urusan, aamiin." doa Wika terdengar tulus.


__ADS_2