
Papa Max yang melihat ekspresi senyuman canggung dari Melodi dan Alex. Ia mengerti pasti belum ada tanda-tanda baik.
"Kalian pasti capek, ayo masuk dulu ke dalam rumah. Abaikan saja, pertanyaan mamamu itu hobinya suka bertanya sesuka hatinya." sahut Papa Max membuat Mama Siska cemberut.
"Tolong kondisikan dulu ekspresi wajahnya, jangan diimutin seperti itu." lanjut Papa Max membuat Melodi dan Alex tertawa.
"Apaan sih Pa, hobi banget ngeledekin mama. Moura, Alex, ayo masuk ke dalam rumah. Mama sudah buatkan makanan untuk kalian." ajak Mama Siska dengan menarik tangan Melodi dan Alex secara bersamaan.
Papa Max yang ditinggal begitu saja membuat ia gemas sendiri.
"Hei! Tunggu papa dulu, jangan ditinggal sendiri! Mau papa diambil oleh janda genit," ucap Papa Max sedikit berteriak agar Mama Siska mendengarnya.
Perkataan Papa Max berhasil menghentikan langkah kaki Mama Siska, Melodi dan Alex. Mama Siska menoleh ke arah Papa Max dengan tatapan tajam bak elangnya.
"Coba saja kalau berani itu terjadi! Mama pastikan dedek kecil Papa tidak utuh lagi!" ancam Mama Siska.
Rasanya Melodi ingin tertawa keras saat melihat ekspresi Papa Max menelan salivanya dengan susah payah. Apalagi dengan ancaman Mama Siska terdengar tidak main-main membuat orang-orang bergidik ngeri mendengarnya.
Alex hanya tersenyum tipis saat melihat drama kecil antara orang tua mertuanya.
"Oh ya Ma, Mama masak apa? Alex boleh coba makanannya?" tanya Alex mencoba mengalihkan pembicaraan antara Mama Siska dan Papa Max.
"Tentu saja boleh Alex sayang, Mari ikut mama ke ruang keluarga saja. Nanti pelayan akan membawa semua makanan di atas meja makan." jawab Mama Siska sembari mengajak Melodi dan Alex melangkah pergi menuju ruang keluarga.
"Huh, nasib-nasib. Pasti aku ditinggal lagi. Sungguh menyebalkan." keluh Papa Max dengan kedua kaki gontainya mengikuti istri dan dua anaknya menuju ruang keluarga.
"Pak Beni, tolong bawakan semua makanan di atas meja kesini!" titah Mama Siska pada kepala pelayan di rumahnya.
"Baik Nyonya." Pak Beni pamit undur diri untuk melaksanakan perintah Mama Siska.
"Melodi! Alex! Duduk disini saja. Kita bisa bersantai dengan menonton TV atau melihat pemandangan taman mini di dekat kolam renang."
"Iya Ma." sahut Melodi dan Alex secara bersamaan.
Semua makanan telah disajikan di atas meja ruang keluarga. Kedua bola mata Melodi berbinar senang melihat makanan kesukaannya dibuat oleh mamanya.
"Wah, ternyata ada makanan kesukaanku," ucap Melodi dengan kedua bola mata senang.
"Iya, makan saja Mel." jawab Mama Siska dan ia melanjutkan pembicaraannya dengan Alex dan Papa Max.
Malam harinya, Melodi tampak risih karena Mama Siska dan Papa Max menyuruh dirinya tidur satu kamar dengan Alex.
"Menyebalkan, bisa bahaya diriku nanti." lirih Melodi pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Nona muda, sudah waktunya makan malam," ucap Pak Beni -- Kepala Pelayan yang berdiri di luar pintu kamarnya.
"Iya, aku akan segera kesana." sahut Melodi sedikit berteriak karena ia tidak ingin Pak Beni selalu mengulangi perkataannya tadi.
Melodi menatap ke sekeliling ruang kamar pribadinya dan lemari pakaiannya diisi pakaian Alex juga.
__ADS_1
"Huh, beginilah kalau sudah menikah. Selain uang suami milik istri, barang istri milik suami juga," ucap Melodi dengan raut wajah lelahnya. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar.
Sedari tadi, Melodi telah mengusir Alex agar tidak mandi di dalam ruang kamar mandinya. Hasilnya Alex hanya menumpang tidur saja di dalam kamarnya.
Sesampainya di ruang meja makan, Melodi melihat Mama, Papa dan Alex sudah manis menikmati makan malamnya. Melodi menghampiri mereka dan mencari tempat kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Alex.
"Kenapa mama dan papa tidak menungguku makan?" tanya Melodi.
"Lebih tepatnya Alex juga tidak menunggumu." sahut Mama Siska memperbaiki kalimat Melodi kurang satu nama.
"Iya, maksudku begitu." balas Melodi sembari mendudukkan dirinya di atas kursi makan.
"Sudahlah Mel, kamu terlalu lama untuk berdandan. Bisa ambil saja makanan untukmu," ucap Mama Siska dan Melodi hanya mengangguk saja.
Melodi mengambil piring dan mengisi makanan untuk makan malamnya. Ia tidak berniat untuk melawan perkataan Mamanya. Ia bisa terlihat bodoh karena kalah debat dengan mamanya.
Sesuai peraturan di rumah kedua orang tua Melodi, tidak boleh berbicara saat makan dan boleh menambah makanan sesuka hati. Jika sudah selesai makan, boleh berbicara apapun.
Melodi yang telah menghabiskan makan malamnya bersama kedua orang tuanya dan Alex. Ia pamit undur diri saja, tubuhnya terasa lelah dan butuh istirahat saja.
"Aku mau ke kamar dulu, Aku lelah mau tidur," Melodi berdiri dari duduknya dan ia melangkah pergi dari hadapan mereka.
Mama Siska yang menatap kepergian Melodi, ia langsung menyenggol tangan Alex yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana Alex? Apa kamu bisa menaklukkan hati Melodi si beruang kutub itu?" tanya Mama Siska to the point.
Papa Max yang tidak ingin ikut campur dengan sikap konyol istrinya. Ia pun pamit pergi ke kamarnya.
"Cepat sekali Papa mau tidur, sekarang baru jam 8 malam. Biasanya Papa tidur jam 10 malam," ucap Mama Siska dengan wajah cemberutnya.
"Iya, papa mau memeriksa laporan perusahaan papa. Mama bisa bicara sama Alex saja. Sepertinya pembicaraan kalian penting." sahut Papa Max cepat.
"Penting banget, Pa. Ini membahas tentang cucu imut keturunan yang belum lahir di dunia."
"Baguslah, lanjutkan saja pembicaraannya, papa ke kamar dulu." Papa Max tersenyum manis di hadapan Mama Siska dan Alex.
"Bagaimana Alex? Belum menjawab pertanyaan Mama?" tanya Mama Siska lagi.
Seketika Alex menundukkan kepalanya di hadapan Mama Siska.
"Maafkan aku, Ma. Aku belum bisa, Melodi sangat keras dan dingin untuk ditaklukkan." jawab Alex jujur.
Mama Siska hanya menghela nafas kasar saat mendengar perkataan Alex.
"Baiklah, tidak ada cara lain untuk mendapatkan hati Melodi. Sekalipun itu cara instan." jelas Mama Siska membuat Alex mengangkatkan kepalanya untuk meminta penjelasan lebih pada Mama Siska.
"Seperti apa caranya Ma?" tanya Alex dengan mengerutkan keningnya merasa binggung.
"Kamu tenang saja dan lakukan saja sesuai perintah Mama kalau kamu tidak ingin berpisah dengan Melodi." jawab Mama Siska.
"Baik Ma."
__ADS_1
Sementara Melodi yang telah berbaring di atas kasur empuknya, ia tampak gelisah karena malam minggu ini menjadi malam pertamanya untuk tidur bersama dengan suami culunnya.
"Haduh, aku harus bagaimana biar Alex tidak tidur di dalam kamarku?" tanya Melodi pada dirinya sendiri.
Melodi tampak berpikir keras agar dirinya terbebas dari rasa tidak tenangnya.
"Apa aku berpura-pura tidur saja? Dengan begitu, Alex tidak tega mengganggu tidurku," ucap Melodi.
Tok! Tok! Tok!
Seketika Melodi bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk di atas kasur tidurnya.
"Masuk saja, pintu tidak dikunci," ucap Melodi dan pintu terbuka lebar yang menampilkan seorang pria tampan berpenampilan culun dengan kacamata bulatnya.
Alex tersenyum tulus ke arah Melodi. Ia menutup pintu kamar dan ia berjalan mendekati Melodi dengan membawa segelas susu hangat untuk Melodi.
"Belum tidur?" tanya Alex masih tersenyum tulus ke arah Melodi.
"Belum mengantuk." jawab Melodi dengan tatapan curiga.
"Kamu pasti tidak bisa tidur karena belum minum susu. Maafkan aku, baru tahu kebiasaanmu yang suka minum tidur sebelum tidur. Ini aku bawakan susu hangat untukmu, Mel." Alex menyerahkan gelas berisi susu hangat di hadapan Melodi.
Melodi masih curiga dengan sikap Alex yang perhatian padanya.
"Kenapa kamu membuatkanku susu? Darimana kamu tahu aku suka minum susu?" tanya Melodi memastikan.
"Iya, aku khawatir kamu tidak bisa tidur nyenyak. Mama Siska sangat baik padaku dan menceritakan kebiasaanmu." jawab Alex dan Melodi hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Baiklah, kebetulan tenggorokanku terasa kering. Aku akan meminumnya nanti. Kamu bisa taruh gelas itu di atas meja riasku."
"Tidak boleh Melodi," ucap Alex spontan.
"Tidak boleh kenapa, Lex?" tanya Melodi dengan tatapan binggungnya.
"Karena susu tidak boleh dibiarkan minum dingin, tidak ada nutrisi dan membakar lemak untuk tubuh. Dari jurnal yang aku bawa dan pakar teori tidak memperbolehkan menyia-nyiakan susu hangat yang sangat mengandung nutrisi tubuh. Sebaiknya, kamu minum saja susu hangatnya. Percayalah, aku tidak akan meminta aneh-aneh padamu." jelas Alex panjang lebar pada Melodi.
"Hem... Kamu serius kan Lex, tidak bohong padaku?" tanya Melodi memastikan.
"Iya." jawab Alex singkat.
"Ya sudah, sini susu hangatnya biar aku habiskan sekarang. Terima kasih sudah membuatkan susu untukku," ucap Melodi yang mengambil gelas dari tangan Alex dan meneguk habis susu hangatnya.
Alex tampak khawatir melihat Melodi yang tidak berperasaan saat meminum susu hangat. Apa lidahnya tidak panas saat meminum susu hangat hingga habis tanpa sisa? Sungguh hebat sekali Melodi ini.
"Ini gelasnya, terima kasih ya." Melodi menyerahkan gelas kosong pada Alex.
Satu menit kemudian, tiba-tiba kedua bola mata Melodi terasa buram saat melihat wajah culun Alex. Ia mengucek kedua matanya menggunakan tangannya. Entah kenapa kedua matanya melihat sosok Miko di hadapannya.
Melodi melebarkan senyumannya di hadapan Alex dan ia langsung memeluk tubuh Alex dengan erat.
"Miko, aku sangat merindukanmu. Jangan pernah pergi tinggalkan aku." Melodi melepaskan pelukannya sejenak untuk melihat wajah tampan Miko dalam ilusinya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh membiarkanmu pergi, Miko. Jika aku melakukan itu kamu pasti tidak akan meninggalkanku." Melodi langsung mencium bibir mungilnya dan terjadilah malam yang panjang.