Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 42 Semoga Kamu Mendapatkan Wanita Yang Kamu Cintai


__ADS_3

Lilo sangat gemas melihat kelakuan Melodi dan Alex. Lihatlah, Wika -- Tangan kanan Melodi membuat Lilo ingin tertawa lepas dengan keanehannya membuat video vlog berisi menyuapi Alex dengan kue ulang tahun Melodi dan bekas sendok Alex digunakan untuk mengisi kue ulang tahun dalam menyuapi Melodi. Lihatlah, raut wajah masam Melodi sepertinya jijik memakan bekas sendok Alex. Memang gak ada akhlak si Wika membuat Nona muda Melodi merasa tidak nyaman.


Melodi hanya pasrah saja saat Alex memberikan suapan nasi tumpeng melalui mulutnya. Sungguh adegan unfaedah untuk ditonton oleh semua karyawannya. Untunglah, disini tidak ada anak-anak yang meniru adegan seram dan aneh ini.


"Sudah, aku sudah kenyang," ucap Melodi menolak suapan kedua dari Alex.


Melodi menatap kue ulang tahun yang telah dipotong dan nasi tumpeng yang tak berbentuk lagi.


"Apa ada makanan untuk semua karyawanku?" tanya Melodi menatap intens ke arah Alex.


"Tentu saja ada sayang, jangan khawatir karena aku sudah menyuruh Lilo untuk memesan makanan dan minuman untuk semua karyawanmu." jawab Alex tersenyum tulus ke arah Melodi.


"Okey." sahut Melodi cepat dan ia memalingkan wajahnya ke arah samping karena tidak ingin detak jantungnya berdetak tak karuan.


Melodi melirik jam di tangannya telah menunjukkan pukul 11 pagi.


"Astaga sudah jadwal rapat dengan rekan bisnisku, Alex, Kita selesaikan saja acara perayaan ulang tahunku ini. Nanti dilanjutkan di rumah saja," ucap Melodi seraya mengedipkan sebelah mata ke arah Alex.


Alex yang mengerti perkataan terakhir Melodi, ia tersenyum lebar ke arah Melodi.


"Baiklah, aku mengerti Mel. Tidak masalah jadwal acaranya diselesaikan sekarang. Hal terpenting kamu bahagia dan aku bahagia setelah pulang nanti."


"Baiklah, terima kasih Alex. Aku pamit dulu." Melodi memberi kode mata pada Wika agar mengerti maksudnya. Lalu, Melodi berjalan meninggalkan Alex di ruang aula kantornya.


Wika langsung pamit undur diri pada Lilo yang sedang asyik pada dirinya. Ia mempercepat langkah kakinya untuk mengikuti langkah kaki Melodi yang telah jauh dari pandangan matanya.


Sementara Alex menatap kepergian Melodi telah menjauh, ia berjalan mendekati Lilo yang sedang memperhatikan kepergian Wika dari hadapannya.


"Ehem... Dapat undangan baru nih, udah dapat calon istri?" tanya Alex pada Lilo yang tatapannya masih fokus menatap punggung mulus Wika yang kian menjauh.


"Iya, tunggu saja undangan dariku." jawab Lilo cepat.


"Hem... Bagaimana dengan Sera -- Pacarmu yang menemani 2 tahun?" tanya Alex lagi.


"Abaikan saja dia, rasa cintaku kian luntur dan hambar. Aku berhak memilih cinta pada wanita yang tepat." jawab Lilo membuat Alex menghela nafas kasar karena ia memahami sikap Lilo suka bergonta-ganti pasangan dan mencari pasangan yang maha sempurna.


"Baiklah, terserah kamu saja. Bagaimana dengan tukang kurir pengantar makanan di restoranku? Apa dia sudah sampai disini?" pertanyaan Alex membuat Lilo teringat dengan pesanannya pada kurir agar membawa makanan dan minuman yang dipersiapkan oleh Alex di restorannya.


"Oh iya Lex, aku lupa tidak memberi alamat pada kurir Aldi." jawab Lilo membuat Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melirik ke arah sekitar ruangan yang tampaknya semua karyawan menunggu makanan dari dirinya.


"Ya sudah, kamu telpon sekarang kurir Aldi. Bilangin sama dia agar cepat datang kesini dengan selamat. Kasihan semua karyawan Melodi yang mulai kelaparan!" titah Alex dan Lilo mengangguk mengiyakan perkataan Alex.


Lilo langsung mencari nomor Aldi dan melakukan sambungan panggilan diponselnya.


"Dimana kamu sekarang?" tanya Lilo saat sambungan panggilan ponselnya diterima oleh seseorang.


"Saya masih di restoran Tuan Alex, saya tidak tahu lokasi alamat perusahaan Nona Melodi." jawab Aldi cepat.


"Baiklah, saya akan mengirimkan alamatnya di google map agar mempermudah kamu datang kesini." sahut Lilo.


"Siap Tuan." balas Aldi.


Lilo mematikan sambungan panggilan secaa sepihak dan ia memberitahu Alex yang sedang berbicara pada semua karyawan Melodi agar menunggu setengah jam lagi agar makanan dan minuman sampai tujuan.


Sementara Melodi yang telah berada di ruangannya, ia mengambil tas kerjanya dan laptopnya. Ia menatap ke arah Wika yang sudah memegang beberapa berkas laporan kerjasama di tangannya.

__ADS_1


"Baiklah, kita pergi sekarang," ucap Melodi dan ia melangkah pergi dari ruangannya diikuti oleh Wika yang mengikuti perkataan Melodi menuju ruang rapat di lantai 4.


Melodi memegang gagang pintu ruangan rapat hingga terbuka lebar. Melodi melangkah masuk ke dalam ruang rapat diikuti oleh Melodi. Kedatangan Melodi disambut hangat oleh Tuan Anton bersama dengan tangan kanannya -- Rani di perusahaan Tekstil Fashion dan empat karyawannya yang bertugas untuk mengawasi kegiatan rapat.


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Anton dan Nona atas nama," ucap Melodi mulai menyapa Anton dan Rani -- Tangan kanannya dengan ramah.


"Saya Rani, Nona Melodi. Salam kenal." sahut Rani saat ditanya namanya oleh Melodi.


"Iya, salam kenal juga." Melodi duduk di kursi kebesarannya sebagai CEO.


Melodi menatap ke arah Anton yang sedang melirik jam di tangannya. Membuat Melodi merasa tidak enak saat datang terlambat 10 menit dari jadwal rapat.


"Maaf sedikit telat, saya ada keperluan mendadak tadi," ucap Melodi dengan senyuman canggungnya.


Anton yang mendengar perkataan Melodi, ia merubah posisi duduknya agar tegak dan tatapan intens menuju ke arah Melodi.


"Tidak masalah, lain kali jangan diulangi sikap terlambat jadwal rapat." sahut Anton tegas.


"Iya, terima kasih atas pengertiannya. Bisa kita mulai rapat hari ini." balas Melodi cepat.


"Baiklah, saya langsung bicara ke intinya saja. Kedatangan saya disini ingin menawarkan hubungan kerjasama dan memberikan keuntungan kerjasama yang saling menguntungkan. Penawaran kerja di perusahaan saya di bidang Tekstil ini menawarkan berbagai macam model bahan pakaikan dan warna bahan yang bagus dan tidak luntur untuk dikenakan. Penawaran kerjasama ini sangat terkait satu sama lain dengan perusahaan Nona di bidang fashion yang membutuhkan banyak bahan dan warna bahan agar terjamin kualitas yang baik. Tentunya saya berniat untuk meminta saran pada Nona dalam merancang model pakaian untuk pakaian karyawan saya dalam menjahit pakaian di perusahaan Nona." Anton menghentikan perkataannya sejenak, ia meneguk air putih di gelasnya untuk mengurangi rasa gugup dan tenggorokannya merasa kering untuk menjelaskan panjang lebar dalam promosi perusahaannya.


"Dalam keuntungan penawaran kerjasama ini saya memberikan saham 40 persen dan bagi hasil kerjasama 80:80 perusahaan. Apakah Nona Melodi setuju atau menyanggah penawaran kerjasama ini?" tanya Anton menatap ke arah Melodi yang sedang berpikir keras.


"Baiklah, saya langsung menjawab pertanyaan Tuan. Sebenarnya saya merasa tertarik dengan tujuan dari hubungan kerjasama ini apalagi dengan keuntungan kerjasama baik dalam bentuk penanaman saham dan bagi hasil yang nominalnya sesuai pada umumnya. Saya rasa adanya kerjasama ini membutuhkan beberapa waktu untuk saya setuju. Mengingat, mohon maaf, dalam melakukan kerjasama dengan perusahaan baru membutuhkan bukti fisik agar saya percaya dengan kinerja baik dari perusahaan Tuan dapat menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Apa ada salah satu hasil kerjasama dari perusahaan lain?" jawab Melodi panjang lebar dan ia mengajukan satu pertanyaan penting pada Anton yang merasa tertampar atas keputusan Melodi yang tidak mudah mempercayai perusahaan kecil yang baru dikembangkannya bersama tangan kanannya.


Anton menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya yang hampir terpancar oleh Melodi. Jika dipikir-pikir memang benar dengan perkataan Melodi. Dirinya yang terlalu percaya diri karena yakin Melodi dengan mudah menerima kerjasama ini.


"Baik, terima kasih atas perhatiannya Nona Melodi. Saya akan menunjukkan hasil dokumentasi kerjasama perusahaan saya dengan beberapa rekan bisnis saya yang perusahannya maju setara dengan perusahaan Nona Melodi. Sebenarnya, ini tidak ramah untuk ditanya dan diperbandingkan dalam melakukan kerjasama. Tetapi, saya sangat menghormati keinginan Nona agar tidak menyesal bekerjasama dengan perusahaan saya di kemudian hari." Anton memberi kode pada Rani agar menyerahkan dokumen hasil kerjasama pada dirinya.


"Silahkan dibaca dulu Nona Melodi semua isi berkas ini barangkali ada yang tidak mengerti perlu diperjelas," ucap Anton.


Melodi membalas senyuman Anton, ia tidak perduli dengan sikap Anton yang tersinggung atas perkataannya. Sebenarnya, ia tidak berminat untuk menyetujui permintaan jadwal rapat hari ini. Tetapi, Anton selalu bersikap baik pada dirinya, ia mengabulkan keinginan Anton dengan catatan untuk menguji mental Anton dan memeriksa perusahaan baru 2 tahun berkembang agar dapat memberikan keuntungan untuk perusahaannya.


Dengan sistem baca cepat dan teliti dari kalimat ke kalimat mempermudah Melodi untuk memahami isi dokumen hasil kerjasama.


"Menarik, saya cukup mengerti dan memahami perusahaan Tuan. Walaupun baru 2 tahun perusahaan Tekstil fashion berkembang. Tetapi, dapat meraih pencapaian target yang baik. Baiklah, saya menerima penawaran kerjasama ini. Saya harap kerjasama ini dapat meningkatkan kualitas perusahaan masing-masing dan bisa menguntungkan konsumen yang menikmati produk yang diluncurkan." jelas Melodi panjang lebar pada Anton membuat kedua mata Anton berbinar senang.


Setelah kegiatan rapat kerja dengan perusahaan Anton selesai, Melodi mengajak Wika agar makan siang di kantin perusahaannya saja. Ia memesan makanan nasi goreng kesukaannya dan jus mangga.


"Wika," ucap Melodi setelah memesan makanan pada pelayan kantin kantor perusahaannya.


"Iya Nona." jawab Wika cepat dan ia menatap ke arah Nona Melodi yang duduk di kursi berhadapan langsung dengan dirinya.


"Kamu mau melihat hasil berkas laporan kerjasama dengan Tuan Anton." pinta Melodi membuat Wika teringat dengan berkas laporan kerjasama yang ia letakkan di atas meja ruang Melodi.


"Maaf Nona Melodi, saya izin mengambil berkas laporan kerjasama di ruangan Nona. Saya tidak membawa laporan penting itu kesini." jawab Wika sopan.


"Baiklah, kamu bisa ambil sekarang." sahut Melodi memilih duduk menunggu di kantin saja.


"Baik Nona, saya permisi dulu." pamit Wika lalu ia berjalan meninggalkan Melodi duduk sendirian di kantin.


Melodi yang sedang memeriksa akun medsosnya, ia sangat terkejut dengan seseorang yang mengagetkannya dari belakang.


"Astaghfirullah, ya ampun, Anton," ucap Melodi cepat dan ia mengelus dada saat detak jantungnya tidak stabil ulah Anton yang tertawa bahagia atas perbuatannya.

__ADS_1


"Hahaha... Ekspresi wajah terkejutmu sangat membangongkan Mel," ucap Anton disela tawanya.


"Duh... Bahagianya kamu berhasil membuatku senam jantung saja. Kelakuanmu ini agak lain Anton, " ucap Melodi tanpa menghiraukan perkataan Anton tadi.


"Setidaknya aku bisa membuatmu bisa kesal, hahaha..." sahut Anton tertawa lagi membuat kedua Melodi menatap tajam ke arah dirinya.


"Kenapa kamu disini? Rapat kerjasama kita sudah selesai dan sudah jam istirahat." perkataan Melodi berhasil menghentikan tawa Anton.


"Tentu saja membeli makanan untukku. Aku lapar dan butuh asupan makanan. Ya sudah, aku ke kantin dulu baru pulang ke tempat perusahaanku." jawab Anton jujur.


"Baiklah." sahut Melodi tidak berniat untuk berbicara lagi pada Anton yang sepertinya mengajak dirinya berbicara aneh-aneh. Contohnya, kenapa dirinya mau menikah dengan pria culun seperti Alex? Apa selera Melodi suka pria culun dan polos? Apa Melodi tidak bisa mencari pasangan yang sempurna untuk menjadi suaminya? Apa Melodi tidak laku dan tidak ada pria yang suka dengan dirinya dan terpaksa menikah sistem perjodohan?


Berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh Anton berhasil membuat Melodi murka dan Anton semakin bahagia melihat kekesalan Melodi.


"Stop Anton! Jangan berbicara tidak penting lagi! Telinga saya panas mendengarnya!" ucap Melodi menatap tajam ke arah Anton.


Bukannya Anton merasa bersalah atau terimindasi atas kata Melodi. Malahan ia kembali tertawa lepas di hadapan Melodi.


"Hahaha... Biasa saja kali, jangan terlalu formal berbicara padaku di tempat umum. Sudahlah, jangan dimasukkan ke dalam hati kata-kataku itu nanti kalau kata-kataku masuk ke dalam hati. Kamu jatuh hati dan cinta mati sama aku." sahut Anton tanpa merasa bersalah pada Melodi.


Saat ini, Melodi ingin sekali menjitak kepala orang lebih tepatnya meninju hidung mancung Anton agar berhenti bernafas dan tidak membuat ia kesal. Selalu saja, Anton membuat dirinya kesal. Kenapa dirinya bisa bertemu dengan pria aneh dan resek seperti Anton.


"Anton, saya sudah bersuami. Tidak baik, seorang pria lajang menggoda wanita bersuami. Memiliki satu suami sudah lebih cukup dan saya tidak berniat untuk poligandi." jelas Melodi.


"Iya aku tahu, aku hanya bercanda Mel agar kamu tidak tertekan. Oh iya, ini hadiah untukmu. Aku harap kamu mau menerimanya dan menyukai kado dariku." Anton mengambil sebuah kotak merah buldru berukuran panjang di tas kerjanya. Ia menyerahkan kotak buldru itu pada Melodi.


Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran dengan sikap Anton tiba-tiba memberikan kado pada dirinya.


"Kenapa kamu memberiku kado, Anton?" tanya Melodi to the point.


"Karena kamu berulang tahun ke 24 hari ini." jawab Anton cepat. Ia langsung berdiri dari duduknya dan ia berjalan mendekati Melodi dan berjongkok di hadapan Melodi.


"Tolong terima hadiahku ini aku lupa belum memberikan hadiah ini padamu di acara tadi." perkataan Anton semakin membuat Melodi semakin binggung.


"Baru memberikan hadiah ini padaku karena lupa acara tadi. Acara perayaan ulang tahun dilaksanakan oleh suamiku ya?" tanya Melodi membuat Anton tersadar atas perkataannya.


"Waduh, apa yang terjadi padaku, Alex? Ayolah Alex, berhentilah terbawa perasaan lagi. Sekarang diriku ini Anton bukan Alex." kata Alex dalam hati. Iya, Anton adalah Alex yang selalu menyamar dalam melanjutkan rencananya bersama Lilo tempo hari.


Anton langsung berdiri dari posisi jongkoknya. Ia menyentuh poni sampingnya yang sudah rapi untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Tidak tahu aku dengan acaramu itu. Maksudku, acara pertemuan di beberapa hari yang lalu bersamamu, Mel. Kamu kan ulang tahun hari ini karena aku tidak bisa memberikan hadiah ini padamu, aku bermaksud ingin memberikan hadiah ini jauh-jauh hari. Rupanya, sekarang aku bisa memberikan kado ini tepat di hari ulang tahun. Selamat ulang tahun Melodi, semoga sehat dan sukses selalu." jawab Anton panjang lebar di hadapan Melodi yang terlihat curiga pada dirinya.


"Kenapa kamu diam saja, Mel? Kamu tidak suka dengan kado dariku. Ya sudah, aku simpan lagi ke dalam tasku." baru saja, Anton ingin memasukkan kotak buldru berukuran sedang ke dalam tasnya. Tetapi, Melodi langsung mencegahnya.


"Hei! Siapa bilang aku tidak mau menerima kadomu, Anton. Sini berikan padaku, biar aku lihat kado dariku." Melodi langsung mengambil kado di tangan Anton.


"Sepertinya kadomu ini kalung emas, perak atau berlian." seketika Melodi membulatkan kedua matanya dengan sempurna saat menatap sebuah kalung berlian mewah termahal di dunia berada di tangannya.


"Wah, kado ini mahal sekali, Anton. Kamu baik sekali memberikan kado semahal ini untukku. Apa kamu tidak merasa rugi jika memberikan kado pada istri orang?" ucap Melodi mengalihkan pandangannya dari kalung berlian menuju ke arah Anton yang tersenyum tulus ke arah dirinya.


"Aku mana mungkin merasa dirugikan untuk memberikan barang mewah pada wanita ku cintai. Ketahuilah, aku sangat mencintaimu, Mel. Tidak ada wanita lain yang mampu menggantikan posisimu di hatiku. Hanya kamulah cinta pertama dan terakhirku," ucap Anton tetapi mulutnya tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun untuk keinginan hatinya.


"Tidak Mel, aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Maka, kamu bisa mengganggapku sebagai kakak kandungmu sendiri." jawab Anton membuat Melodi langsung memeluk tubuhnya dengan erat.


"Terima kasih atas kadonya, kamu sangat romantis, Anton. Semoga suatu hari nanti kamu akan menemukan wanita yang kamu cintai," ucap Melodi membuat Anton merasa haru atas doa Melodi.

__ADS_1


"Iya, kamu benar Mel, aku telah mendapatkan wanita yang aku cintai. Wanita itu sudah ada di dekatku, dia sedang bahagia dalam pelukanku." sahut Anton dalam hati.


__ADS_2