Suami Culun Pilihan Orang Tua

Suami Culun Pilihan Orang Tua
Part 13 Memeriksa Perusahaan Alex


__ADS_3

Sementara Melodi yang telah menyelesaikan hajat besarnya, ia melangkah keluar dari ruang toilet. Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran saat melihat pria tampan yang berdiri di depan pintu ruangan dengan pakaiannya acak-acakan.


"Kenapa kamu berdiri disini? Apa kamu pengemis yang menyusup ke toilet wanita?" tanya Melodi yang menatap penampilan Pria tampan dari ujung kaki menuju tubuh kekar berpakaian formal tapi berantakan hingga bagian kepala yang wajahnya dipenuhi oleh bekas lipstik wanita.


"Oh aku tahu, kamu ini pria hipersex ya?" tanya Melodi lagi.


Anton menggeleng cepat, ia bukan pria nakal yang dikatakan oleh Melodi. Penampilannya yang aneh ini habis dicium oleh tiga wanita yang dikira Anton ingin memarahinya tapi ternyata mereka langsung nyosor saja di wajahnya. Nasib buruk membuat Anton hanya bisa sabar menerima cobaan hidup.


"Tidak, aku bukan pengemis dan aku bukan pria hipersex." jawab Anton membuat Melodi tampak meragukannya.


"Kalau kamu bukan pria seperti itu, kenapa kamu berpenampilan aneh seperti ini?" tanya Melodi lagi.


"Karena aku ingin mengejarmu dan menunggumu keluar dari ruang toilet. Tapi, nyatanya tiga wanita genit mencium wajah tampanku. Hasilnya seperti saat inilah bisa maklumi." jawab Anton dan Melodi hanya mengangguk saja.


Melodi tidak ingin meladeni pria asing yang bertingkah aneh pada dirinya. Ia memilih melangkah pergi dari hadapan pria itu.Ia tidak menghiraukan suara pria yang memanggil dirinya.


"Masa bodoh pada pria aneh itu lebih baik aku cepat-cepat keluar dari kafe ini." batin Melodi. Ia melangkah cepat menuju meja makannya bersama tangan kanannya -- Wika.


"Wika, tolong bayar semua makanannya. Aku tunggu di mobil saja," ucap Melodi seraya menyerahkan lima lembar uang berwarna merah pada Wika.


"Baik Nyonya." sahut Wika.


"Uang kembaliannya untukmu saja. Aku pergi dulu." setelah Melodi mengatakan itu ia langsung berjalan cepat menuju area parkiran mobil.

__ADS_1


"Haduh, kenapa pria aneh itu mengikuti sampai disini?" ucap Melodi yang menoleh sekilas ke arah belakang sebelum ia melangkah masuk ke dalam mobilnya. Untung saja, kaca mobilnya gelap jadi mempersulit pria aneh itu.


Sementara Anton yang menyadari kepergian Melodi, ia berusaha mengejar keberadaan Melodi. Dicarinya setiap meja makan restoran kafe tapi ia tak menemukan kebenaran Melodi. Sampailah ia melihat Melodi keluar sendirian dari kafe hingga menuju area parkiran mobil. Disinilah Anton berada di area parkiran mobil.


"Melodi, dimana ya? Tadi, aku lihat dia berjalan kesini tapi kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja?" Anton memeriksa setiap mobil yang terparkir satu persatu membuat dirinya capek.


"Masih dua mobil belum aku periksa dari kaca mobil, lebih baik aku duduk sejenak. Kedua kakiku butuh istirahat." Anton memilih duduk di kursi yang menganggur di depan ruang satpam.


Sedangkan Melodi yang bersembunyi di dalam mobil dan merapalkan doa pada Tuhan. Ia sangat bersyukur karena Wika sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu lama banget Wika, kenapa bisa lama kamu keluar dari kafe?" tanya Melodi pada Wika yang duduk di sebelahnya.


"Maaf Nyonya, tadi pelanggan tampak ramai dan aku mengantri untuk membayarnya." jawab Wika menunduk.


"Nyonya, biar saya saja yang menyetir mobil." tawar Wika merasa tidak enak pada bosnya.


"Tidak, aku bisa menyetir sendiri." tolak Melodi hingga laju mobil telah keluar dari mobil dan melewati Anton yang duduk santai di tempat satpam.


Sedangkan Anton yang melihat sebuah mobil yang mirip dengan istrinya, ia langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Mobil itu milik Melodi," ucap Anton reflek berdiri dari duduknya.


"Itu berarti aku gagal untuk merayu Melodi." raut wajah Anton tampak sedih atas perjuangannya hari ini.

__ADS_1


"Tenang Alex, kamu pasti bisa. Masih banyak hari-hari lain untuk mendekati Melodi." batin Anton dalam menyemangati dirinya sendiri. Anton ini nama samaran Alex untuk menguji cinta Melodi pada suami culunnya. Ia memahami sifat dingin dan kejam Melodi membuat dirinya hampir frustasi dan menyerah. Tapi, ketika mengingat kedua orang tua Melodi yang mendukungnya untuk tetap menjadi suaminya menjadi angin segar untuk seorang Alex dalam mengejar cinta istrinya.


Anton memilih kembali ke kantor perusahaannya yang baru dibangun oleh hasil tabungannya sendiri. Perusahaan AM Lex di bidang kuriner ini terbilang perusahaan kecil yang mencoba berkembang di setiap daerah.


"Lebih baik aku ganti pakaian saja, aku merasa gerah atas penampilan ini." setelah mengatakan itu ia menaiki mobilnya dan melaju pergi dari area parkiran mobil di kafe.


Alex yang mengendarai mobilnya yang melewati jalanan ramai berlalu lalang, ia menghentikan laju mobilnya di depan pintu utama perusahaan. Dilihatnya pantulan dirinya di depan cermin dalam mobil untuk menghapus lipstik di wajahnya. Ia mengganti pakaiannya yang berantakan hingga berubah menjadi pakaian kaos lengan panjang berwarna abu tua. Setelah ia merasa rapi, barulah ia melangkah keluar dari mobil.


Alex ingin memeriksa hasil kinerja sepuluh karyawan yang dipekerjakannya pada perusahaan induk dan dua perusahaan cabang yang berlokasi dekat dengan rumah mewahnya.


Kedatangan Alex di perusahaannya di bidang kuliner disambut sopan oleh satu satpam yang berjaga di depan pintu utama perusahaan. Alex hanya tersenyum saat menangapi sapaan karyawannya. Ia melangkah masuk ke dalam perusahaan yang berlantai dua dengan bangunan tidak seluas perusahaan besar. Walaupun ia belum bisa membangun perusahaan besar, ia sangat bersyukur karena hasil tabungannya bisa membangun perusahaan dari nol hingga berkembang seperti saat ini dan bisa memperkejakan masyakarat yang tidak memiliki pekerjaan.


Alex mengawasi kesibukan karyawannya yang sedang meracik bumbu untuk membuat makanan khas dari perusahaannya. Ia terus berjalan menuju ruang produksi makanan yang menjadi siap saji dan dikemas untuk dikirimkan oleh beberapa kota hingga daerah lain.


"Apa minat masyarakat semakin bertambah dalam menikmati makanan dari perusahaan?" tanya Alex pada salah satu karyawan wanita yang sibuk mengemasi makanan hingga fokusnya teralihkan pada Pak Bos.


Zevana tersenyum ke arah Alex yang berdiri di hadapannya.


"Iya Tuan, masyarakat banyak yang membeli makanan. Mereka bilang masakan dari makanan yang siap saja ini enak rasanya." jawab Zevana jujur.


"Syukurlah, aku senang mendengar komentar dari masyarakat. Aku harap kalian bisa membantuku untuk membangun perusahaan agar semakin pesat. Sehingga aku bisa menaikkan gaji kalian." perkataan Alex membuat Zevana tersenyum bahagia. Ia sangat senang pada Pak bosnya yang baik hati dan perhatian pada karyawannya. Ia sangat bersyukur bisa diperkerjakan di perusahaan ini dengan tamatan SMA yang susah mendapatkan pekerjaan yang tetap seperti sekarang.


"Semangat ya, aku tunggu hasil kerjasama dalam membangun perusahaan ini semakin berkembang pesat," ucap Alex lagi.

__ADS_1


__ADS_2