
Melodi menyalakan laptopnya untuk menyelesaikan laporan kerjasama antar rekan bisnisnya. Setelah menerima beberapa berkas pengajuan kerjasama dari beberapa perusahaan terkenal yang diberikan oleh Wika. Ia tidak suka menunda-nunda pekerjaan.
Besok hari, waktunya libur kerja. Kalau bisa Melodi membaca cepat dan secara detail dalam memahami penawaran kerjasama itu. Ia sengaja menyibukkan dirinya malam ini hatinya terasa tidak baik-baik saja. Setelah mendengar percakapan mama Siska tadi.
"Sudah lama aku tidak kerja lembur di rumah. Sesekali aku lembur kerja saja. Ah, masa bodoh dengan hatiku yang kacaw asal jangan karier bisnisku." Melodi membuka dokumen lain dan membacanya lagi dan lagi.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Melodi masih berkutik dengan laptop dan laporan kerjasamanya. Tidak ada rasa lelah pada tubuhnya. Hanya saja, hatinya yang lelah karena tidak ada satu orangpun yang memahaminya.
***
Alex yang sedari tadi terjaga dalam tidurnya, ia bangun dari posisi berbaring menjadi menyender di kepala kasur. Ia menatap jam dinding sudah pukul 11 malam.
"Bisa-bisanya, aku tidak bisa tidur jam segini. Biasanya aku sudah terlelap karena kecapean bekerja." lirih Alex pelan.
"Melodi? Apa dia sudah tidur?" tanya alex pada dirinya sendiri. Ia mengambil ponsel di atas lemari kecil di sebelah tempat tidurnya. Ia ingin memeriksa hasil rekaman kamera cctv di rumahnya.
Alex mengerutkan keningnya saat melihat aktivitas Melodi sedang mengetik di laptop dan menangis.
"Kenapa Melodi menangis sambil mengetik di laptop? Apa dia sedang menulis novel dengan penuh penghayatan hingga terbalut dalam drama pernovelan?" Alex terus memantau aktivitas Melodi di layar ponselnya. Lamanya ia melihat Melodi dalam melakukan aktivitas yang sama membuat Alex mengantuk dan tertidur.
Melodi sedang duduk di kursi riasnya untuk memeriksa laporan kerjasama, membuat kedua bola matanya merasa lelah dan sedikit bengkak karena menangis.
"Sudah ah menangisnya, aku capek sendiri." keluh Melodi seraya menghapus sisa air matanya. Ia telah menyelesaikan laporan kerjasama dengan tuntas. Ia memilih mematikan laptopnya dan tidur.
"Sudah jam 1 dini hari, sebaiknya aku tidur saja. Daripada Alex meneriakiku untuk bangun." Melodi menaiki kasur empuknya dan berdoa sebelum tidur hingga tidur nyenyak.
Keesokan harinya, Melodi telah berpakaian baju setelah celana warna sage. Ia telah memasukkan beberapa baju di dalam tas ranselnya untuk menginap di rumah Mama Siska dan Papa Max.
Di rumah Mama Siska dan Papa Max, banyak pakaian yang tidak dibawanya karena ia yakin akan dikembalikan oleh Alex atas sikap acuh dan dinginnya. Tapi, belum ada tanda-tanda Alex akan menyerah pada rumah tangga tanpa unsur cinta ini. Melodi juga menyimpan barang pentingnya, seperti laptop dan barang perhiasan untuk dikunci dengan gembok.
__ADS_1
"Semua barang bawaan sudah selesai aku masukkan ke dalam tas. Sudah waktunya sarapan pagi bersama suami culunku." Melodi berjalan menuju ruang lift. Ia memilih jalan pintas saja karena bawaan terasa berat.
Ting!
Melodi keluar dari ruang lift dan ia melihat dua pelayan wanita menghampiri dirinya.
"Keli! Lesti! Tolong bawakan barangku menuju bagasi mobil," ucap Melodi pada dua pelayan wanita di rumahnya.
"Baik Nona muda Melodi." jawab Keli dan Lesti secara bersamaan.
Melodi tersenyum tipis saat menanggapi perkataan mereka. Ia masih mengandeng tas slempangnya berisi ponsel, dompet dan kunci mobilnya. Ia mulai melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah ruang meja makan yang ternyata Alex sedang makan. Ia langsung mengambil piring dan mengisi makanan untuk dimakannya.
Tidak ada pembicaraan kedua suami istri ini mereka hanya diam menatap satu sama lain.
Alex yang memahami Melodi yang malas berbicara pada dirinya. Lebih baik dirinya diam lebih baik.
"Aku sudah selesai sarapan, aku duluan ke mobil. Kamu bisa menyusul setelah menghabiskan sarapan pagimu," ucap Alex dibalas anggukan kepala oleh Melodi.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Melodi dan Alex bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Mama Siska dan Papa Max di pusat kota Jakarta.
"Semua barang kamu sudah dimasukkan ke dalam bagasi?" tanya Alex yang tengah menaruh tas ransel di dalam mobil.
Melodi yang sedang berdiri di sebelah Alex, ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku masuk dulu," ucap Melodi yang berjalan meninggalkan Alex yang masih menata semua barangnya.
"Pak, tolong jaga rumah saja dan jangan beri orang asing masuk ke rumah lagi!" titah Alex dan dibalas anggukan cepat oleh Medi yang bertugas sebagai supir pribadinya.
"Baik Tuan." jawab Pak Medi cepat.
__ADS_1
Alex berjalan masuk ke dalam mobil mewahnya. Di dalam mobil sudah ada Melodi yang duduk dengan fokus memainkan ponselnya. Lebih tepatnya, memeriksa laporan perusahaannya.
Kini mobil yang ditumpangi oleh Melodi dan Alex telah melaju meninggalkan area pekarangan rumah mewah minimalis Alex.
Melodi melirik sekilas ke arah Alex yang fokus menyetir.
"Apa dia tidak malu dengan penampilan culunnya selalu seperti itu?" tanya Melodi dalam hati.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" tanya Alex menoleh sekilas ke arah Melodi. Sehingga, Melodi dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah jalanan raya.
"Kenapa kamu memberikan pertanyaan seperti itu?" tanya Melodi to the point.
"Setidaknya, aku hanya memastikan saja." jawab Alex cepat.
Setelah topik pembicaraan itu tidak ada hal-hal yang dibahas oleh Melodi dan Alex. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dua jam kemudian, mobil telah memasuki area pekarangan rumah mewah elit milik keluarga Melodi.
Melodi turun dari mobil diikuti oleh Alex. Melodi menyuruh dua bodyguard untuk membawakan barang mereka masuk ke dalam rumah. Melodi tak menghiraukan keberadaan Alex yang masih berdiri canggung di depan rumah.
"Kenapa masih berdiri disitu, Alex? Ayo masuk saja ke dalam rumah! Nanti, aku dimarahi mama dan papa kalau tidak mengajakmu masuk ke dalam rumah," ucap Melodi menoleh ke arah belakang dan ia melanjutkan langkah kaki memasuki pintu utama rumah mewah kedua orang tuanya.
"Baiklah." sahut Alex mengikuti langkah kaki Melodi yang kian menjauhinya.
"Okey, aku harus sabar dan selalu sabar dalam menghadapi sikap istriku yang dingin seperti kulkas itu." kata Alex dalam hati.
"Ya ampun, Melodi dan Alex sudah datang Pa," ucap Mama Siska yang baru keluar dari rumah dan menyambut kedatangan Melodi dan Alex.
Melodi dan Alex tersenyum manis di hadapan Mama Siska dan Papa Max yang ikut keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Melodi dan Alex mencium punggung tangan Mama dan Papa secara bergantian.
__ADS_1
"Anak mama, apa kabar kalian? Pasti Melodi sudah hamil anakmu, Alex," ucap Mama Siska dengan santainya membuat Melodi dan Alex menatap satu sama lain.