
Melodi menuju jawaban dari Anton yang hanya diam saja.
"Baiklah, jika kamu merasa tidak nyaman dengan penawaranku ini kamu bisa menolaknya," ucap Melodi dan Anton langsung menggeleng cepat.
"Tidak, maksudku, aku setuju dengan penawaranmu yang mengajakku untuk mengikuti lomba itu Mel. Aku hanya diam berpikir apa aku bisa ber-akting dengan baik dan sesuai keinginan hatimu." jawab Anton jujur.
Melodi menghela nafas kasar, ia memahami ketakutan Anton.
"Jangan takut, aku akan mengajarkanmu, Anton." sahut Melodi tersenyum, ia menoleh ke arah Wika yang telah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Anton.
"Baiklah, kita mulai sekarang. Untuk perihal mengikuti lomba video film pendek ini membutuhkan cerita novel yang ditulis minimal 45.000 kata sesuai dengan tema novel tentang bullying di masa SMA. Sekarang aku sudah menemukan judul novel yang tepat untuk dituliskan dalam satu novel berisi 45.000 kata yang nantinya diadaptasi dalam video film pendek." jelas Melodi panjang lebar di hadapan Anton dan Wika.
"Apa judul novelnya?" tanya Anton to the point.
"Aku Manusia Bukan Figuran, judul ini diartikan sesuai makna cerita novel yang aku tulis. Kamu dan Wika tidak perlu capek memikirkan mencari ide menarik untuk dituliskan dalam per bab novel. Biarkan aku saja yang membuat semua cerita novel. Kalian cukup menjadi tokoh dalam video film pendek dan membantu mengetik video sampai selesai." jawab Melodi panjang lebar tetapi seperti Anton dan Wika saling menatap satu sama lain.
"Wika, apa kamu mengerti penjelasan Nona Melodi?" tanya Anton dengan tatapan binggungnya.
Wika menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, Nona muda hanya menjelaskan secara umumnya saja, tidak dibagian inti dalam cerita novel." jawab Wika jujur.
Melodi yang melihat wajah binggung Wika dan Alex, ia langsung menepuk keningnya.
"Iya aku memahami kalian tidak mengerti jika belum membaca sinopsis novel dan plot cerita novelnya. Ini bacalah sinopsis novel dan plot cerita novelnya lebih dulu. Aku beri waktu 30 menit dari sekarang, agar kalian paham dan bila tidak mengerti bisa bertanya padaku." jelas Melodi lalu ia merubah posisi laptopnya agar berada di hadapan Anton dan Wika.
"Baiklah." jawab Anton dan Wika secara bersamaan dan mereka mulai membaca hasil ketikan Melodi melalui layar laptopnya.
"Kalian baca saja dulu, aku mau ke toilet." pamit Melodi pada Anton dan Wika yang sedang membaca di layar laptopnya. Ia bangun dari duduknya dan ia berjalan menuju ruang istirahatnya terdapat ruang toilet yang letaknya masih dalam satu ruangan dengan ruang kerjanya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam ruang istirahatnya, Melodi menjatuhkan dirinya di atas kasur tidur sejenak. Sebenarnya, ia ingin menambah lipstik di bibirnya yang mulai retak karena tidak cocok dengan merek baru dan murah. Tetapi, ia butuh memejamkan kedua matanya yang lelah menatap fokus ke arah layar laptopnya.
Lamanya Melodi memejamkan kedua matanya membuat ia merasa ngantuk hingga tertidur.
Di dalam dunia mimpinya, Melodi merasa berada di sebuah rumah mewah bergaya klasik Maroko. Dari kejauhan, Melodi melihat ada anak laki-laki dan anak perempuan berusia 4 tahun sedang berlari ke arah dirinya dan memanggil dirinya dengan sebutan Mama.
Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran pada dua anak kecil yang sedang memeluk tubuhnya dan suara cadel khas anak umur 4 tahun terus memanggil dirinya dengan sebutan Mama.
"Mama? Maksudnya?" tanya Melodi dengan mensejajarkan dirinya di hadapan kedua anak kecil yang menatap kedua bola mata bulat ke arah dirinya.
"Kenapa Mama balu datang kesini, kami kangen sama mama. Kapan mama membawa kami belsama mama?" tanya anak perempuan dengan suara cadelnya.
"Iya, kami udah lama cekali nungguin mama menemui kami dicini," ucap anak laki-laki dengan suara cadelnya dengan mengandeng tangan Melodi agar mengikuti langkah kaki mungilnya.
"Aku juga mau gandeng tangan mama, aku lindu mama." sahut anak perempuan yang mengandeng tangan Melodi di sebelah kiri.
Anak perempuan mengarahkan jari telunjuknya ke arah kiri.
"Itu Papa," ucap Anak perempuan dan Melodi mengikuti arah tangan anak kecil menuju seorang pria tampan sedang tersenyum hangat ke arah dirinya.
"Anton." lirih Melodi pelan.
"Mama, jangan lali lagi ya mama ikut kami cama papa saja dicini," ucap anak laki-laki dengan tatapan penuh harap.
Melodi tersenyum mengangguk mengiyakan perkataan anak laki-laki itu dan ia menoleh ke arah pria tampan yang sudah berdiri di hadapannya.
"Anton, kenapa kamu ada disini?" tanya Melodi.
"Tentu saja membawamu pulang, sayang. Apa kamu tidak kasihan pada kedua anak kita sudah lama menunggumu datang kesini. Ayo pergi bersama kami dan lupakan pria culun itu." jawab Anton dan Melodi menggeleng cepat tidak setuju.
__ADS_1
"Tidak Anton! Jangan berbicara seperti itu! Aku bukan istrimu, lepaskan aku!" ucap Melodi mulai berteriak saat Anton menggenggam tangannya dengan erat. Melodi terus memberontak agar tangannya dilepaskan oleh Anton. Tetapi, seketika ia tersadar dari alam mimpinya dikala Wika membangunkan dirinya.
"Nona Melodi! Nona Melodi tidak apa-apa?" ucap Wika Deng wajah cemasnya.
Melodi yang terbangun dari tidurnya, ia menatap heran pada wajah Wika yang cemas menatap dirinya.
"Eh, aku ada dimana?" tanya Melodi dengan menoleh ke arah kiri dan kanan untuk menatap ke sekelilingnya.
"Nona berada di ruang istirahat dalam ruang kerja." jawab Wika cepat.
Dari perkataan Wika membuat Melodi teringat dengan aktivitasnya tadi.
"Iya, maaf menunggu lama. Sudah jam berapa sekarang?" tanya Melodi dengan melirik jam di pergelangan tangannya.
"Jam 12 siang." jawab Wika sopan.
"Ya ampun, pasti kalian menungguku terlalu lama. Maafkan aku yang kelelahan menulis naskah novel," ucap Melodi dengan rasa menyesalnya karena melanggar batas waktu.
"Iya tidak apa-apa Nona, Tuan Anton sudah membeli makanan dan minuman untuk makan siang kita di ruang kerja Nona." lapor Wika berdiri di hadapan Melodi.
"Ya ampun, aku semakin tidak enakkan pada kalian. Baiklah, ayo kita kesana." Melodi bangun dari posisi tidurnya dan ia melangkah keluar menuju ruang istirahatnya.
Di ruang kerjanya, Melodi menatap Anton yang sedang menulis di kertas. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Melodi melangkah mendekati Anton.
"Sudah selesai membaca naskah novelnya? Maafkan aku membuat kalian menunggu," ucap Melodi dengan mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Anton.
Anton mengangkat kepalanya ke arah depan agar bisa menatap wajah cantik Melodi.
"Tidak masalah, aku maklumi dengan kegigihanmu untuk mengikuti lomba ini hingga kelelahan. Oh iya, aku sudah menambahkan garis besar per bab naskah novel. Kamu bisa membaca isi tulisanku yang bagus ini kalau ada yang tidak nyambung tolong dikomentari." jelas Anton tersenyum ke arah Melodi yang terlihat tidak enakkan pada dirinya.
__ADS_1