
Pagi ini Melodi disibukkan untuk memeriksa semua berkas hasil kerjasama dengan rekan bisnisnya.
"Wika!" panggil Melodi.
"Iya Nona." jawab Wika yang berjalan cepat menuju ke arah kursi kebesaran Melodi.
"Apa ada jadwal rapat hari ini?" tanya Melodi sembari membaca isi laporan kerjasama.
"Tidak Nona." jawab Wika yang telah memeriksa jadwal kerja Melodi hari ini.
"Baiklah, kamu bisa kembali ke tempat dudukmu. Jika ada perwakilan dari perusahaan lain yang mengajukan berkas kerjasama. Ambil saja berkasnya dan jangan ganggu saya." jelas Melodi tegas.
"Baik Nona, saya akan laksanakan sesuai perintah." sahut Wika sopan dan ia pamit undur di hadapan Melodi.
Tidak ingin menunggu waktu yang tepat, Melodi meletakkan semua berkas laporan yang telah dibacanya di sebelah meja kerjanya. Ia berniat untuk menulis sinopsis dan alur cerita novel berdasarkan tema cerita novel pada lomba itu.
"Tema novelnya tentang bullying di masa SMA, Hem... Novel yang ditulis ini pasti menggunakan genre Teenlit." lirih Melodi mulai berpikir keras untuk mengarang judul novel yang tepat.
Melodi melirik ke arah koran yang diletakkan di atas meja sofa. Dari kejauhan, ia dapat membaca isi berita koran cetak.
"Dibully karena introvert tidak mematahkan semangat Youra, anak SMA yang memiliki predikat nilai tertinggi nasional. Semua teman selalu menyudutkannya dan tak ingin berteman dengannya hingga Youra depresi dan berusaha belajar lebih giat lagi.," ucap Melodi membaca isi berita koran cetak sekilas.
"Menarik, cerita kehidupan Youra bisa ku jadikan inspirasi dalam menulis novel." Melodi tersenyum senang karena ia mulai mendapatkan ide cemerlang dalam menulis sinopsis novel.
Setelah dirasa cocok dengan ide pokok cerita berkaitan dengan tema cerita novel. Barulah Melodi menarik kertas putih dan menulis semua kebutuhan novel, mulai dari judul novel, tema, tokoh/watak, plot/ alur cerita novel, sinopsis novel, blur novel hingga garis besar per bab novel.
"Aku Manusia Bukan Figuran," ucap Melodi saat membaca judul novelnya yang terkesan menarik dan dramatis.
"Semoga semua tulisanku banyak orang yang tertarik membaca dan dapat juara." Melodi mengetik isi bab novel yang kisahnya teramat memilukan dan menyayat hati.
Sementara Alex yang disibukkan oleh banyaknya pengajuan berkas kerjasama dari rekan bisnisnya. Ia mengusap keningnya merasa pusing karena ia teringat dengan janjinya pada Melodi siang nanti akan menemuinya di kantornya.
Alex melirik ke arah Lilo yang selalu santai dan tenang tanpa banyak beban pikiran.
__ADS_1
"Lilo, apa kamu sedang sibuk?" tanya Alex menatap ke arah Lilo yang sedang duduk memainkan ponselnya.
"Iya aku sibuk, aku sedang lomba bermain dengan lawanku." jawab Lilo tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Alex.
"Hem... Baiklah, aku tidak menggangu lagi kecuali satu tugas ini." perkataan Alex membuat Lilo menghentikan aktivitas bermain game.
"Satu tugas?" ucap Lilo mengulangi perkataan Alex.
"Iya, satu tugas menyamar sebagai Anton untuk menemui Melodi siang nanti. Tolong bantu aku untuk mencarikan pakaian keren khas laki-laki. Kamu kan paling ahli kalau mengenai fashion." jelas Alex dengan tatapan sendu menuju ke arah Lilo.
Lilo menatap kedua bola mata malas ke arah Alex.
"Baiklah, serahkan saja padaku semua model pakaian yang cocok untukmu. Agar Melodi bisa jatuh cinta padamu." sahut Lilo bersahabat membuat hati Alex menjadi bahagia.
Setengah jam kemudian, Alex telah berganti pakaian baju jas stelan celana berwarna coksu. Dengan penampilan Alex tak mengenakan kacamata bulat tergantikan dengan softlens hitam di kedua matanya dan wajah Alex telah dipolesi bedak skincare, alis tipis dan lipglos orange membuat wajah Alex sangat tampan dan keren.
"Sempurna, terima kasih Lilo sudah membantuku berdandan ala oppa korea. Aku pamit pergi dulu," ucap Alex yang telah menyamar sebagai Anton. Ia mengambil tas kerjanya dan dengan langkah kakinya tegasnya pergi meninggalkan Lilo di ruangannya.
"Ya ampun, aku ditinggalkan begitu saja. Dasar Alex, sungguh terlalu bahagianya tanpa mengajakku bahagia." keluh Lilo dan ia melirik ke arah jam tangannya.
"Lebih baik aku pergi ke kantorku saja, walaupun sepi rekan bisnis yang tidak tahu dengan keberadaan perusahaan baruku untuk bekerja sama." setelah mengatakan itu Lilo melangkah pergi dari ruangan Alex dan ia menitipkan pesan pada tangan kanan Alex agar memantau kondisi perusahaan Alex.
Di ruangan yang dipenuhi beberapa berkas dan laptop yang rapi di atas meja kerja CEO. Disinilah Melodi yang sedang berkutik dengan laptopnya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi Nona Melodi, ada Tuan Anton datang menunggu di ruang lobi atas," ucap Wika berdiri sopan di hadapan Melodi.
Melodi yang merasa terganggu dengan pemberitahuan Wika, ia langsung menghentikan aktivitasnya sejenak. Lalu, ia menatap intens menuju ke arah Wika.
"Bukankah saya sudah bilang saya sedang sibuk dan jangan ganggu saya," ucap Melodi dingin dan ia kembali mengetik cerita novel.
Wika yang mendengar penolakan dari Nona Melodi, ia merasa tidak enak karena beberapa kali ia memberitahu Tuan Anton agar jangan menggangu Nona Melodi sekarang. Nona Melodi sedang sibuk, tetapi dengan pemberian uang 2 juta pada dirinya sebagai sedekah dari Tuan Anton. Dengan terpaksa Wika menerima uang itu dan ia berjalan menuju ke ruang kerja Nona Melodi untuk memberitahu kedatangan Tuan Anton.
__ADS_1
"Maaf Nona, kata Tuan Anton memberitahu saya kalau hari ini Tuan sudah ada janji bertemu dengan Nona," ucap Wika lagi dan ia memainkan ujung roknya untuk menunggu detik-detik perang mulut dari Nona Melodi.
Seketika Melodi teringat dengan janjinya dengan Anton saat mendengar perkataan Wika. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 10 pagi. Lalu, ia menatap heran ke arah Wika.
"Masih jam 10 pagi, janji bertemu dengan Anton di jam 1 siang." sahut Melodi cepat.
Wika mengaruk kepalanya tidak gatal, ia juga ikutan teringat dengan perkataan Nona Melodi pada Tuan Anton di kantin kemarin.
"Iya juga ya, tapi saya tidak tahu Nona." balas Wika menyenggir kuda.
Melodi menghela nafas kasar saat menatap ke arah Wika.
"Baiklah, suruh dia masuk ke dalam sekarang! Tidak masalah, jadwal pertemuannya dipercepat!" titah Melodi tanpa bantahan apapun.
"Baik Nona." jawab Wika langsung pamit undur diri di hadapan Melodi dan mengikuti sesuai perintah Melodi.
Melodi mempercepat mengetik di keyboard laptopnya untuk mengeluarkan ide cerita di pikirannya.
"Selesai." lirih Melodi pelan.
Disaat yang bersamaan, pintu ruangannya terbuka lebar dan ia menatap seorang pria tampan bertubuh kekar tengah berdiri dengan senyuman manis pada dirinya.
"Selamat pagi Nona Melodi, maaf mengganggu waktunya," ucap Anton menyapa Melodi dan ia berjalan mendekati Melodi yang duduk di kursi kebesarannya.
Melodi tersenyum membalas perkataan Anton yang menyapa dirinya.
"Pagi juga, silahkan duduk Tuan Anton." Melodi mempersilahkan Anton duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan dirinya.
"Baiklah." jawab Anton masih dengan senyuman manis di wajahnya.
Melodi menoleh ke arah Wika yang berdiri sopan di hadapannya.
"Wika, ambil kursi lagi dan duduklah di dekat Anton. Saya ingin menjelaskan poin penting dalam rencana mengikuti lomba," ucap Melodi dan Wika mengangguk mengiyakan perkataan Melodi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasa keberatan dengan aku mengajakmu untuk mengikuti lomba, Anton?" tanya Melodi to the point.