
Melodi yang terbangun dari tidurnya, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia yang tertidur sambil mendengarkan musik mengunakan headset di telinganya itu dilepaskannya dan dimatikan lagu dalam ponselnya untuk diletakkan di atas meja yang bersebelahan dengan kasur tidurnya.
"Woah... Ternyata sudah jam 11 malam. Lebih baik aku menggosok gigi saja sebelum tidur," ucap Melodi dengan mulutnya yang sedikit menguap. Ia meregangkan kedua otot tangannya. Setelah dirasa tubuhnya stabil, barulah Melodi bangun dari posisi duduknya menjadi berdiri untuk berjalan menuju ruang toilet.
Setelah selesai menyikat gigi dan mencuci muka. Melodi melangkah keluar dari ruang toilet untuk berganti pakaian dan mengolesi cream malam di wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya yang telah mengenakan baju tidur stelan celana berwarna pink.
"Aku tetap cantik walau tidak menggunakan bedak dan make up tipis." puji Melodi. Ia menatap ke arah jendela kamarnya untuk memantau keberadaan Alex.
"Mobil Alex tidak ada di parkiran mobil, itu berarti dia belum pulang. Baiklah, aku tunggu saja di dalam kamar, untuk memastikan dia pulang ke rumah dengan selamat." Melodi mengambil ponselnya di atas meja rias dan ia berjalan menuju sofa untuk memudahkannya melihat mobil Alex.
Dengan memainkan ponselnya untuk membuka akun medsos, Melodi tampak diam dan tenang. Ia menahan rasa kantuknya yang mulai melanda dirinya untuk melanjutkan tidur.
"Tidak, aku tidak boleh tidur dulu. Aku harus menunggu Alex pulang."
Satu jam sudah Melodi menunggu Alex pulang dan jam telah menunjukkan pukul 12 malam.
"Haduh, kenapa Alex belum pulang? Tidak biasanya dia pulang selarut ini. Apa dia masih kerja lembur di kantornya? Apa aku telpon saja teman dekat Alex itu?" Melodi tampak meminang-minang keinginannya untuk menelpon Lilo yang juga teman sewaktu SMP dulu.
"Tidak, aku tidak boleh menelpon Alex. Gengsi dong cewek telpon cowok duluan. Apa kata dunia kalau Melodi si pengusaha muda di bidang Desainer menelpon suami culunnya? Sungguh, tidak ada keren sama sekali." gengsi Melodi.
"Hem... Tapi, aku rasa Alex tidak pulang malam ini. Jika aku menunggunya pulang itu berarti aku tidak tidur." Melodi memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
"Huh... Ngapain juga aku menghawatirkannya. Bukankah dia tidak penting dalam hidupku? Lalu, untuk apa aku menunggunya pulang? Terserah saja, Mau Alex pulang atau tidak. Lebih baik aku lanjutkan tidurku," ucap Melodi tegas dan mengabaikan rasa perhatian pada suaminya itu.
Melodi membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk dan ia mulai memejamkan kedua matanya. Tapi, ia terjaga dalam tidurnya membuat Melodi hanya bisa bersabar untuk menunggu dirinya merasa lelah dan tertidur.
Pagi telah menjelang, sinar matahari telah terbit menyinari bumi. Begitu juga Melodi merasa terbangun saat wajahnya terkena sinar matahari. Ia membuka kedua bola matanya dan ia menatap ke sekeliling ruang kamarnya. Sebelum ia bangun dari posisi tidurnya, ia mengatur tubuhnya agar stabil dan tenang.
Setelah Melodi merasa tubuhnya normal, barulah ia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju ke ruang toilet untuk mandi. Setelah Melodi berpakaian rapi dan wajahnya telah cantik dan glowing. Ia melirik jam menunjukkan pukul 6.30 pagi. Ia mengambil tas kerjanya untuk pergi ke kantor perusahaannya. Ia tidak betah berada di dalam rumah seharian, ia senang menjadi wanita karier dan bisa mengeluarkan ide pikirannya dalam mendesain fashion pakaian wanita dan pria.
Di ruang makan, Melodi melihat Bibi Lisa sedang menyiapkan makanan untuk sarapan paginya.
"Pagi Bi!" sapa Melodi yang berjalan menuju kursi makan.
"Pagi juga Nona!" sahut Bibi Lisa dengan tersenyum.
"Tuan, belum pulang Non." jawab Bibi.
Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran.
"Tidak biasanya Alex tidak pulang, apa dia memberi kabar Bi kalau tidak pulang?" tanya Melodi lagi.
"Tidak Nona." perkataan Bibi Lisa membuat Melodi menghentikan dirinya sedang mengisi selai di rotinya. Ia menatap intens menuju ke arah Bibi Lisa.
__ADS_1
"Bibi yakin kalau Alex tidak memberi kabar? Apa dia sering tidak pulang karena kerja lembur?" selidik Melodi.
"Tidak Nona, baru kali ini Tuan Alex bersikap seperti ini." jawab Bibi Lisa menunduk karena merasa takut dengan tatapan intens Melodi.
"Ya sudah, tidak apa-apa Bi. Aku hanya bertanya saja, Bibi bisa mengerjakan pekerjaan lain, terima kasih sudah menyiapkan sarapan pagi untukku." sahut Melodi tersenyum dan dibalas anggukan oleh Bibi Lisa.
Melodi tampak berpikir keras atas sikap Alex yang berbeda dari sebelumnya.
"Apa dia marah karena aku mengabaikannya? Apa dia beneran sibuk dengan pekerjaan kantornya? Tapi, aku rasa pegawai kantor pemerintahan jarang tidak pulang saat bekerja lembur? Apa dia sedang menginap dengan temannya?" berbagai pertanyaan muncul di pikiran Melodi membuat ia terlihat lesu untuk memakan sarapan paginya.
Mobil yang dikendarainya telah sampai di depan pintu utama perusahaannya. Ia memberikan kunci mobil pada supir pribadi perusahaannya untuk memarkirkan mobilnya di area parkiran mobil.
"Pak, tolong parkiran mobil saja di area parkiran! Kunci mobilnya bisa antarkan pada tangan kanan saya," ucap Melodi pada Pak Reki.
"Baik Nona muda." jawab Pak Reki cepat.
"Terima kasih." setelah Melodi mengatakan terima kasih, ia melangkah masuk ke dalam bangunan pencakar langit perusahaannya. Perusahaan Desainer yang dibangunnya dengan tingkat lantai 8 itu tampak mewah dan megah. Ia memilih berjalan menaiki tangga saja, ia bosan terus-terusan untuk menaiki ruang lift. Ada kalanya Melodi berhak untuk berolahraga kaki di pagi hari.
Memang terasa capek saat sampai di depan ruang kerjanya sebagai CEO perusahaan Desainer. Tapi, setidaknya ia bisa menghilangkan pikiran negatif tentang Alex.
"Akhirnya, sampai juga ruang kerjaku. Duh, capek juga aku mencoba menaiki tangga hingga sampai disini." Melodi memegang gagang pintunya untuk membuka pintu ruangan. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya dan didudukinya dirinya di kursi itu. Melodi meneguk air putih yang baru saja diantarkan oleh pembantu perusahaannya.
__ADS_1
Melodi membuka laptopnya untuk memulai bekerja untuk mendesain fashion pakaian di laptopnya. Setelah menggambar model pakaian muslim wanita dan pria, ia melakukan scan gambar untuk dimasukkan ke dalam laptop. Dengan tujuan untuk memberikan warna yang cocok pada pakaian yang didesainnya.
"Warna yang menarik dan cocok untuk desainku. Tinggal aku datang langsung ke tempat penjual kain untuk mencari warna yang ku inginkan dan memilih bahan yang nyaman untuk dikenakan oleh pembeli," ucap Melodi dengan tersenyum senang dengan tatapannya menuju ke arah layar laptop untuk diprintnya sebagai bahan fashionnya untuk dijahitnya nanti. Biasanya, setelah bagian desain fashion pakaian yang Melodi buat dan mendapatkan pilihan warna. Ia akan datang langsung ke tempat penjual kain untuk memilih kain yang nyaman. Setelah itu, ia akan menjahit satu pakaian fashion sesuai desainnya sebagai contohnya pada karyawan di perusahaannya.