
Kini Melodi telah duduk di kursi kebesarannya, ia memanggil Wika -- Tangan kanannya agar masuk ke dalam ruangannya.
"Wika, cepat berikan nomor ponsel Tuan Anton," ucap Melodi tanpa mengalihkan pandangannya fokus menatap berkas laporan perusahaan.
"Baik Nona Melodi." Wika menyerahkan ponselnya yang menyimpan nomor ponsel Anton pada Melodi.
Melodi langsung menerima ponsel Wika dan ia menekan tombol sambungan panggilan masuk.
"Hallo Nona Melodi," ucap seseorang melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
"Hallo Tuan Anton, saya ingin menanyakan perihal kerjasama dalam pembuatan pakaian untuk karyawan di perusahaan kamu. Ada tambahan bahan untuk dijahit dan saya dengar Tuan mengadakan acara fashion show busana muslim untuk pembuatan pakaian?" tanya Melodi to the point.
"Benar Mel, maafkan saya lupa memberitahumu. Untuk pembuatan pakaian kali ini saya ditawarkan oleh perusahaan lain. Tetapi, jika Nona ingin mengajukan kerjasama lagi, saya bisa membatalkannya dan melanjutkan pembuatan pakaian busana muslim di perusahaan Nona." jawab Anton merasa tidak enak hati pada Melodi.
"Hem... Saya tidak marah jika Tuan tidak mengajak kerjasama mengenai pembuatan pakaian lagi itu hak Tuan sendiri. Saya ingin memberitahu bahwa semua pakaian yang dipesan telah selesai dijahit dan perlu dipromosikan pada konsumen." sahut Melodi mengeluarkan keinginan hatinya pada rekan bisnisnya karena ia tidak ingin adanya kesalahpahaman antara dirinya dan Anton.
"Baiklah, saya mengerti dan saya menerima penawaran promosinya. Terima kasih sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan saya." balas Anton cepat.
"Iya, sama-sama. Saya juga terima kasih pada Tuan Anton sudah menggunakan jasa di perusahaan saya." imbuh Melodi.
"Iya Nona Melodi, saya ingin mengajak Nona agar datang ke acara lomba fashion show, untuk lombanya terbuka secara umum."
"Baiklah, jika tidak ada halangan, saya akan datang ke acara Tuan. Terima kasih." setelah mengatakan itu Melodi mematikan sambungan panggilan masuk secara sepihak.
"Wika, ada jadwal rapat siang ini?" tanya Melodi pada Wika yang berdiri sopan di hadapannya.
"Tidak Nona." jawab Wika cepat.
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja di ruanganmu," ucap Melodi dan Wika pamit undur diri di hadapannya.
Sementara Alex yang menyamar sebagai Anton yang ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan Melodi. Ia tampak frustasi karena tersebarnya acara lomba fashion show di perusahaan tekstil fashion milik sepupu perempuannya membuat ia takut ketahuan atas penyamarannya.
"Haduh, jika Melodi datang ke acara lomba fashion show busana muslim di perusahaan Tekstil fashion Rani. Bisa terbongkar penyamaranku. Apa bisa Rani mau menolongku lagi agar aku berpura-pura menjadi CEO di perusahaannya? Hem... Aku jadi pusing sendiri jika karyawan Rani yang tidak tahu siapa aku jika menyamar sebagai CEO mereka." lirih Alex dalam hati. Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia mencari ide menarik untuk menyelesaikan permasalahan yang sengaja dibuatnya ini.
"Aku yakin semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Baiklah, aku akan melanjutkan rencana ini tanpa menyalahkan orang lain, karena aku ingin mendapatkan cinta Melodi untukku selama-lamanya." Alex mengambil ponsel dari saku celananya dan ia mencari nomor seseorang.
"Hallo, ada apa Kak Alex?" ucap seseorang yang telah mengangkat sambungan ponsel Alex.
"Hallo Rani, apa boleh aku meminta bantuan padamu lagi?" tanya Alex to the point.
"Boleh, katakan saja." jawab Rani cepat.
"Tolong bantu aku menyamar sebagai CEO di perusahaanmu saat acara lomba fashion show busana muslim." pinta Alex melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
Rani yang sedang sibuk membaca semua laporan keuangan perusahaan membuat ia terkejut bukan main.
"Apa? Kakak ini permintaannya ada-ada saja padaku. Mana mungkin aku bisa mengabulkan permintaan kakak itu sementara semua rekan bisnisku datang menghadiri acara perusahaanku. Apa belum selesai rencana permainannya kak?" tanya Rani dengan kedua bola mata malas ke arah layar ponselnya. Saat ini, Rani sedang berada di ruang studio perusahaannya. Ia baru selesai live produk pakaian di medsos pribadinya. Dengan memperkenalkan semua produk pakaian baik secara online maupun offline memudahkan konsumen mengenali produk.
Tetapi, Rani yang memahami Kak Alex yang sangat mencintai istrinya sampai melakukan sesuatu yang aneh membuat ia bisa mengelus dada saja.
"Apa aku harus menyetujui permintaan Kak Alex lagi? Tapi, dia semakin aneh meminta bantuan padaku. Mana mungkin Kak Alex mengaku sebagai CEO di perusahaan Tekstil fashion ku baru membuka bagian penjualan produk pakaian." batin Rani dengan ragu-ragu.
__ADS_1
Alex yang menjelaskan panjang lebar pada Rani, ia menunggu jawaban dari Rani yang tidak ada tanda-tanda sepatah kata pun dari Rani.
"Rani? Rani? Apa kamu sedang sibuk?" tanya Alex melalui sambungan panggilan masuk di ponselnya.
Rani yang mendengar perkataan Kak Alex, ia langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya kak, aku dengar semua penjelasan kakak. Nanti kita telpon lagi ya kak, aku sedang banyak kerjaan." setelah mengatakan itu Rani mematikan sambungan panggilan secara sepihak.
Alex yang melihat sambungan telponnya terputus, ia menghela nafas kasar.
"Huh, kenapa serumit ini hidupku. Apa aku hentikan saja skenario berpura-pura menjadi Anton ya. Melodi kan sudah mulai menerimaku sebagai suaminya." lirih Alex dalam hati.
Jam telah menunjukkan pukul 4 sore yang menandakan waktunya pulang kerja. Tidak berlaku dengan Melodi yang sedang menatap fokus ke arah layar ponselnya.
Wika yang telah membereskan semua barangnya dan siap untuk pulang ke rumah. Disaat ia melewati ruangan CEO Nona Melodi. Ia menatap heran pada Nona Melodi yang tidak seperti biasanya mengabaikan jam pulang. Dengan langkah kaki tegasnya, Wika berjalan menuju ruangan Nona Melodi.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja, pintu tidak dikunci," ucap Melodi masih berkutik dengan ponselnya.
Wika yang mendengar perkataan Melodi, ia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Nona Melodi.
"Sore Nona Melodi, sekarang sudah jam 4 sore," ucap Wika sopan.
"Iya saya tahu, saya sedang sibuk." sahut Melodi cepat.
"Maaf Nona, tidak ada jadwal lembur kerja hari ini." balas Wika mencoba mengingat Melodi lagi.
Melodi yang sedang memikirkan sesuatu dari pengumuman adanya lomba membuat video film pendek dan menulis novel, membuat ia tertarik untuk mengikutinya.
Wika yang masih berdiri di hadapan Melodi, ia tersenyum mengangguk.
"Iya, saya mau Nona." jawab Wika cepat.
"Kamu lulusan S1 Ilmu Komunikasi sama seperti saya dan lulus SMK Multimedia seperti saya?" tanya Melodi memastikan.
"Benar Nona Melodi." jawab Wika cepat.
"Baguslah, pelajaran apa yang kamu sukai sewaktu menjadi anak SMK Multimedia? Pelajaran apa yang kamu sukai sewaktu menjadi anak Ilmu Komunikasi?" tanya Melodi lagi.
"Sewaktu saya masih duduk di bangku SMK Multimedia, saya suka membuat desain poster dan banner produk di bidang desain; saya suka mengedit foto, audio dan video di bidang editing; serta saya suka mengambil foto dan video di bidang kameramen. Untuk pelajaran yang saya sukai saat kuliah jurusan Ilmu Komunikasi yaitu menulis opini, berita, novel di bidang jurnalistik; Saya suka memberikan fasilitas melayani masyarakat di bidang humas; Saya suka berbicara di depan publik sebagai MC atau Moderator." jawab Wika mulai menjelaskan pengalaman hidupnya pada Melodi yang sedang diam menatap intens ke arah dirinya.
Melodi tersenyum tipis menuju ke arah Wika.
"Keren, ternyata keahlianmu sama seperti diriku. Tetapi, sayangnya saya bekerja bukan di bidang saya. Melainkan membuka bisnis sesuai hobi saya suka belanja." sahut Melodi.
"Tidak masalah Nona, banyak di jaman sekarang orang-orang berkerja tidak sesuai jurusan kuliahnya. Tetapi, mereka bisa sukses dan kaya seperti Nona Melodi." celetuk Wika jujur.
"Benar juga, kalau begitu, saya mau mengajakmu melakukan kerjasama." perkataan Melodi membuat Wika merasa heran karena baru kali ini Nona Melodi menawarkan hubungan kerjasama dengan dirinya.
"Maaf Nona, bentuk kerjasama seperti apa?" tanya Wika meminta penjelasan lebih pada Melodi.
__ADS_1
Melodi langsung mengarahkan layar ponselnya di hadapan Wika.
"Bentuk kerjasamanya seperti ini, kamu bisa baca kan tulisannya." jawab Melodi dengan memegang ponselnya agar Wika dapat membaca isi layar ponselnya.
Wika menatap fokus ke arah layar ponsel Melodi untuk membaca semua isi pengumuman lomba.
"Lomba membuat video film pendek dan menulis novel," ucap Wika dan Melodi mengangguk mengiyakan perkataan Wika.
"Kamu setuju tidak membantuku mengikuti lomba ini? " tanya Melodi.
"Iya Nona, saya mau membantu Nona." jawab Wika cepat.
"Bagus, sekarang kita bisa pulang ke rumah." akhirnya Melodi dan Wika pulang ke rumah masing-masing.
Setibanya Melodi di rumah mewah Alex, ia memarkirkan mobilnya di depan pekarangan rumah mewahnya. Ia menatap mobil Alex yang telah terparkir rapi di parkiran mobil.
"Pak Mukis, tolong parkiran mobilku!" titah Melodi seraya memberikan kunci mobil pada Pak Mukis.
"Baik Nona." jawab Pak Mukis.
Melodi melanjutkan langkah kakinya menuju pintu utama rumah mewahnya. Ia berjalan menelusuri ruangan di lantai dasar rumahnya. Ia memilih menaiki ruang lift saja karena tubuhnya terasa lelah dan butuh istirahat.
Ting!
Pintu telah terbuka dan ia melangkah masuk ke dalam ruang lift. Ia masih memikirkan judul novel dan sinopsis novel untuk dijadikan video film pendek dalam lomba. Bukan hanya memikirkan tentang bahan menulis dan pembuatan video film pendek. Melodi wajib mencari siapa pemeran yang tepat untuk bermain dalam video film pendeknya.
"Aku harus mempersiapkan semua kebutuhan perlombaan termasuk pemain dalam film video pendek. Untuk menulis sinopsis novel dan bahan pengeditan gampanglah aku selesaikan. Tetapi, orang yang berperan sangat penting untukku dapatkan." kata Melodi dalam hati.
Kemudian, Melodi melangkah keluar dari ruang lift setelah pintu ruang lift terbuka lebar. Ia berjalan menuju ruang kamarnya dan membukanya dengan cepat.
Disaat pintu ruang kamarnya terbuka lebar, ia menatap seorang pria bertubuh kekar dan berwajah tampan sedang duduk di atas kasur tidurnya. Hal itu membuat Melodi terkejut bercampur menjadi murka.
"Hei Anton! Kenapa kamu masuk ke dalam kamarku? Kamu mau maling ya?" ucap Melodi berteriak keras membuat Pria yang sedang duduk memainkan ponselnya langsung terkejut dan untung saja ponsel yang digenggamnya tidak jatuh di atas lantai. Bisa hilang total semua laporan pentingnya.
Alex yang berhasil merubah dirinya selama 3 jam menjadi pria tampan dan keren setelah pulang cepat dari kantornya dan ia berhasil bisa melatihkan diri untuk pintar dandan. Ia dikejutkan dengan kedatangan Melodi yang baru pulang dari kantor perusahaannya.
Seketika wajah Alex memucat seperti mayat hidup dikala Melodi menatap galak ke arah dirinya.
"Sepertinya ada perang ketiga diiringi kesalahpahaman yang berlarut-larut." kata Alex dalam hati.
"Ngapain kamu disini, Anton? Apa kamu tidak pernah diajarkan etika sopan santun supaya tidak sembarangan masuk ke dalam kamar orang," ucap Melodi cetus dan ia melipatkan kedua tangannya di atas pinggangnya. Tatapannya masih melotot tajam ke arah Anton yang berdiri diam di tempat.
"Kenapa diam saja? Malu sama aku karena ketahuan maling?" tanya Melodi cepat.
Alex yang menyerupai Anton hanya diam menatap ke arah Melodi, ia sedang mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Melodi.
"Apaan coba Mel, kamu ini menuduhku yang tidak-tidak. Kedatanganku di ruang kamarmu ini atas izin Tuan Alex yang menyuruhku mengambil pakaian baju stelan celana hitam karena dia kerja lembur." jawab Alex tersenyum ramah ke arah Melodi.
Melodi menyerhitkan keningnya merasa heran atas perkataan Anton.
"Alex menyuruhmu agar mengambil pakaian baju stelan celana hitam karena dia kerja lembur," ucap Melodi mengulangi perkataan Anton.
__ADS_1
"Iya, aku baru saja kenal dengan Alex pagi tadi. Ternyata suamimu itu baik dan asyik diajak berteman ya. Dia mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya." sahut Anton asal.
"Oh benarkah begitu? Aku baru tahu dengan sikap bodoh Alex yang mudah mempercayaimu, Anton. Seharusnya Alex tidak mempercayaimu karena kamu orang asing dan tidak pantas masuk ke dalam kamar orang sembarangan. Tetapi, apa boleh buat dengan perintah Alex seperti itu aku akan membantumu memberikan pakaian Alex." balas Melodi membuat Anton dapat bernafas lega karena Melodi mempercayai perkataannya yang tidak benar terjadi.