
Baru saja Melodi ingin berbicara, ia mendengar suara berat milik Alex yang telah berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum Ma, Pa, maaf Alex belum menemukan kebenaran Melodi," ucap Raka tanpa menyadari Melodi yang berada di sebelah Papa Max.
"Alex?" ucap Melodi dengan tatapan mata menuju ke arah Alex yang mengenakan pakaian kaos santai berwarna biru navi dan celana panjang yang mirip dengan pakaian yang dikenakan oleh Anton.
"Kenapa pakaian Alex mirip dengan Anton? Apa jangan-jangan dia?" Tidak-tidak, wajah Alex itu culun dan tidak setampan Anton." batin Melodi.
Alex tersenyum manis membalas perkataan Melodi, ia mencium punggung tangan Papa Max dan Mama Siska.
"Maaf Alex baru pulang," ucap Alex sopan.
"Tidak masalah Lex, kamu pasti capek keliling mencari kebenaran Melodi yang ternyata dia sudah pulang sendiri. Lebih baik kamu beristirahat sebentar setelah itu menunggu adzan sholat magrib untuk sholat berjamaah." sahut Papa Max.
"Iya, lihat suamimu, Melodi. Dia rela mencarimu sepanjang hari. Sementara kamu pergi tanpa arah." celetuk Mama Siska mulai memojokkan Melodi.
Melodi menghela nafas kasar saat dirinya disalahkan oleh kedua orang tuanya sendiri. Kedua orang tuanya lebih membela Alex si suami culunnya. Ia heran pada kedua orang tuanya, sebenarnya siapa anak kandung mereka?
"Iya Pa, Ma, Alex, maafin aku tidak memberi kabar pada kalian. Tadi pagi hingga sore itu aku memeriksa kesehatan aku ke dokter Lia dan bertemu rekan bisnisku." jelas Melodi jujur.
"Iya Papa mengerti dengan rutinitasmu hari ini sangat sibuk. Tapi, kamu sudah punya suami dan lebih baiknya kalau pergi kemana-mana wajib bersama suami. Itulah fungsi jika wanita sudah menikah, dia harus dijaga oleh suami dimanapun dia pergi." sahut Papa Max mulai memberitahu Melodi agar tidak menjadi istri durhaka pada suaminya.
"Satu lagi, jangan kamu sakiti hati suamimu dengan berselingkuh Melodi. Apalagi, jangan mengecewakan suamiku dengan meminum obat pil KB. Umur Papa dan Mama tidak muda lagi dan sudah saatnya menimang cucu." lanjut Papa Max membuat Melodi menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Baiklah." jawab Melodi cepat.
Alex yang merasa Melodi terlihat sedih dan bersalah, ia tidak ingin Melodi semakin membenci dirinya. Ia langsung mengandeng tangan Melodi di hadapan Papa Max dan Mama Siska.
"Pa, Ma, Alex dan Melodi mau ke kamar dulu. Kami mau mandi dan mengambil air wudhu sholat." pamit Alex di hadapan kedua orang tuanya.
"Baiklah Alex, jangan terlalu memanjakan Melodi. Sesekali marahi Melodi jika dia berbuat salah biar dia sadar atas kesalahannya,' ucap Papa Max.
"Baik Pa, terima kasih sarannya." setelah mengatakan itu Alex langsung membawa Melodi menuju anak tangga agar mempercepat mereka sampai di dalam ruang kamarnya.
__ADS_1
Di dalam ruang kamarnya, Alex menatap Melodi yang sedang duduk di kursi sofa yang berhadapan dengan dirinya.
"Melodi, darimana saja kamu pergi hingga pulang sore begini?" tanya Alex memulai pembicaraan pada Melodi.
Melodi yang sedang menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah Alex yang menatap intens ke arah dirinya.
"Bukan urusanmu." jawab Melodi cetus.
"Tentu saja kamu urusanku, Melodi. Kamu sudah sah menjadi istriku dan milikku seutuhnya. Kamu tidak boleh bersikap dingin seperti ini lagi. Kamu harus belajar mencintaiku, aku sangat mencintaimu Melodi. Jangan sampai aku kecewa dan memilih pergi darimu. Aku ingin kamu berubah menjadi istri yang berbakti pada suaminya dan tidak bersama pria lain di belakangku." jelas Alex panjang lebar pada Melodi yang terlihat diam sejenak.
"Aku bersama pria lain di belakangmu? Darimana kamu tahu Lex?" tanya Melodi mengulangi perkataan Alex yang menuduhnya tadi.
Seketika mulut Alex menjadi bungkam, lidahnya terasa keluh untuk mengeluarkan satu patah kata pun.
"Ya rekan bisnismu rata-rata seorang pria. Tentu saja, kamu tidak boleh sendirian menerima rekan bisnismu diluar jadwal kerja." jawab Alex sesuai logika dan dapat diterima oleh Melodi.
"Benar juga ya katamu, tapi aku kan tidak sengaja Lex bertemu dengan rekan bisnisku itu. Dia sendiri yang mengajakku jalan-jalan hingga pulang sore. Aku akui nasehat kamu benar Lex, aku sudah menjadi istrimu dan aku milikmu seutuhnya. Tetapi, untuk belajar mencintai seseorang itu memerlukan waktu yang lama Lex. Aku sangat trauma dengan kejadian masa lalu itu kamu tidak akan pernah mengerti dengan semua cobaan hidupku karena aku tidak pernah merasakannya." sahut Melodi dengan tatapan sendunya ke arah Alex.
Alex mendengar suara Isak tangis dari Melodi pelan dan memilukan.
"Iya, maafkan aku belum bisa mengerti dirimu Mel. Maafkan aku memaksakanmu agar belajar mencintaiku. Aku sangat serakah dan membuat kamu merasa tidak nyaman."
Melodi mengangkat kepalanya untuk menatap wajah culun Alex di hadapannya. Ia menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Tidak Lex, aku sangat memahami kamu selalu melakukan pengorbanan yang sangat besar untukku. Mulai hari ini aku tidak akan membuat kamu kecewa atas sikapku lagi. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu, dengan seiringnya waktu cinta akan tumbuh karena terbiasa."
Alex tersenyum menanggapi perkataan Melodi, ia mendekatkan keningnya ke arah kening Melodi. Hembusan nafas Melodi terdengar jelas di indera pendengaran Alex. Ia sangat mencintai Melodi, mau sejahat apapun Melodi memperlakukan dirinya. Ia tetap mencintai Melodi apa adanya.
Ketika kedua matanya terbuka dan tatapan matanya terfokus pada bibir mungil Melodi. Ia ingin menyentuhnya lagi dan ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melodi yang sepertinya Melodi tidak melawan dengan pendekatan jaraknya yang tak ada sisa. Hingga ia mencium bibir mungil Melodi dan rupanya Melodi membalas ciumannya hingga bulan madu terjadi lagi.
Keesokan harinya, Alex dan Melodi pamit pulang pada Papa Max dan Mama Siska pagi-pagi hari. Sebab, Alex dan Melodi mau masuk kerja di hari senin. Meskipun Alex dan Melodi merupakan pemilik perusahaan, mereka tetap disiplin kerja dan tidak suka menyia-nyiakan waktu.
Setelah sampai di rumah mewah Alex, Alex dan Melodi langsung berganti pakaian casual Jaz hitam setelah celana panjang. Alex dan Melodi sudah makan pagi dan mandi di rumah Papa Max dan Mama Siska. Kini mereka hanya berganti pakaian kerja saja.
__ADS_1
Melodi menatap heran ke arah pakaian Alex yang mengenakan pakaian Jaz hitam setelah celana panjang. Tetapi, bukan pakaian dinas pemerintahan.
"Kenapa kamu mengenakan pakaian Jaz? Bukannya kamu masih bekerja di kantor dinas pemerintahan, Lex?" tanya Melodi to the point.
Alex yang mengikuti tatapan mata Melodi ke arah pakaiannya, ia langsung teringat dengan niat pengunduran dirinya bekerja di honor dinas pemerintahan kemarin lalu.
"Iya, sekarang aku fokus bekerja di perusahaan yang aku bangun dan aku telah mengajukan surat pengunduran diri di kantor dinas pemerintahan." jawab Alex mantap.
"Kamu serius Lex sudah mengajukan pengunduran diri di tempat kerja itu? Kenapa aku tidak tahu kamu tidak bekerja disana?" tanya Melodi polos.
"Karena kamu tidak mau tahu tentang aku dan mengabaikan semua yang berkaitan denganku. Sudahlah, abaikan saja, aku sudah memantapkan hati untuk bekerja di perusahaanku yang sudah mulai memiliki anak cabang." jawab Alex cepat dan ia tersenyum tulus ke arah Melodi.
Entah kenapa senyuman Alex membuat hati Melodi berdebar tak karuan. Melodi langsung memalingkan wajahnya ke arah samping untuk mengurangi rasa tak biasa dari Alex.
"Lex, sudah jam setengah 8. Sebaiknya kita pergi ke kantor saja," ucap Melodi mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah, biar aku antar ke kantor." sahut Alex dan Melodi menggeleng cepat tidak setuju.
"Tidak, aku bisa bawa mobil sendiri." tolak Melodi cepat dan ia memilih pergi meninggalkan Alex di ruang keluarga sendirian.
Alex tertawa kecil menatap ke arah Melodi terlihat salah tingkah pada dirinya.
"Sepertinya semua perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Sepertinya Melodi mulai mencintaiku." lirih Alex pelan. Ia memilih berjalan keluar dari rumahnya menuju ke tempat kantor perusahaannya.
Di depan pekarangan rumah mewah Alex, ia melihat mobil Melodi telah keluar dari gerbang pagarnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Raka menatap ke arah mobil merah milik Melodi yang telah menjauh dari hadapannya.
Alex berjalan masuk ke dalam mobil dan menstarterkan laju mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mewahnya menuju jalan raya.
Sementara Melodi telah sampai di kantor perusahaannya, ia disibukkan dengan berbagai banyak berkas laporan kerjasama dengan perusahaan lain. Ia membaca satu persatu penawaran keuntungan kerjasama perusahaan. Tetapi, ia menyipitkan matanya saat menatap wajah seorang pria yang sangat dirindukannya.
"Miko? Kenapa wajah Miko ada pada identitas pria ini?" tanya Melodi pada dirinya sendiri.
__ADS_1