
Disisi lain Peter yang sedang mengalami koma, dia seperti sedang bermimpi, dia bertemu dengan seorang kakek Tua di sebuah hutan yang sangat hijau dan indah yang mengajarkan dia beberapa ilmu pengobatan tradisional, dan tentunya dengan menggunakan bahan-bahan yang alami, dan juga di ajarkan beberapa jurus bela diri, dan banyak hal lain yang dia pelajari dari kakek tua itu, sampai dia benar-benar menjadi seperti Dewa dalam hal yang dia pelajari dari kakek tua itu, Peter sangat senang sekali dengan dirinya yang sedang berada di alam bawah sadarnya, dan tentu dia juga sangat tenang dengan suasana di sana yang begitu tenang tidak ada suara bising dari kendaraan, yang dia dengan hanya suara dari hewan-hewan yang ada disekitarnya, suara semilir angin, dan juga suara air sungai, ya sangat terasa nyaman sekali yang Peter rasakan.
Namun setelah Peter mendapatkan gelar itu, tiba-tiba dia seperti berpindah tempat begitu saja, dia berpindah ke tempat yang hanya terlihat putih dan putih saja di sekelilingnya, Peter berjalan kesana kemari tapi tidak menemukan jalan keluar dari tempat itu, sampai dia merasakan lelah karena mencari jalan keluar tapi tak kunjung ketemu dan menghentikan langkahnya dan duduk sampai dia mendengar ada suara tangisan seorang perempuan yang memanggil namanya, namun dia melihat sekeliling nya tidak melihat siapapun, dia merasakan takut disitu dia mendengar suara namun tidak ada orang, sampai akhir nya Peter pun berteriak "Siapa itu, dimana kamu? apa kamu mengalami sesuatu yang buruk" teriak Peter sambil melihat sekeliling nya. tidak ada jawab tentang teriakan nya, hanya suara tangis yang tanpa henti, dan lama kelamaan Peter pun tidak perduli lagi dengan tangisan itu, dan Peter melanjutkan jalannya lagi entah kemana dia tidak tahu, karena semua hanya terlihat putih saja, sampai akhir nya dia melihat ada titik hitam dan dia berjalan mendekati titik hitam yang semakin dia dekati semakin terlihat jelas seperti pintu, namun selama dia berjalan tidak kunjung sampai, entah sudah berapa kali dia berhenti untuk beristirahat, dan melanjutkan perjalanannya, tetap tidak kunjung sampai.
Peter yang sudah merasakan putus asa dikarenakan tidak bisa mencapai pintu itu, dia pun duduk bersila dan memejamkan matanya saja, namun entah berapa lama dia memejamkan mata, ketika dia membuka matanya, dia melihat jika pintu itu berada tidak jauh darinya, paling hanya membutuhkan 20 langkah jika dia lihat, melihat itu keputusan asaan yang tadi dia rasakan holang begitu saja dan dia pun bergegas berdiri dan melangkah menuju pintu itu, namun lagi-lagi tidak kunjung sampai entah sudah berapa ratus langkah tapi tetap saja tidak bisa menjangkau nya.
"Bagaimana bisa, pintu itu terlihat sangat dekat sekali tapi mengapa tetap saja aku tidak bisa menjangkau nya, ada apa ini sebenarnya" gumam Peter sudah merasa putus asa kembali, dan lagi-lagi dia kembali duduk dan bersila kemudian memejamkan matanya lagi, dan lama dia melakukan itu dia membuka matanya, namun Pintu yang dia lihat kini menjauh, dan dia kembali memejamkan matanya lagi, dan membuka matanya lagi kembali pintu itu mendekat, dia ulang begitu terus memejamkan mata terus membuka nya, dia lakukan entah berapa kali, dan entah berapa lama antara memejamkan mata dan membuka matanya itu, dan ketika dia membuka mata nya untuk yang terakhir kalinya, Pintu itu ada tepat didepan matanya dan terlihat ada cahaya yang keluar dari pintu itu, dia bergegas berdiri dan langsung masuk dan ternyata dia berpindah tempat yang kali ini suasana gelap gulita tapi ada cahaya yang begitu silau dari kejauhan dan dia mendekati cahaya itu dengan susah payah sambil mengangkat tangannya dan melebarkan telapak tangannya didepan muka agar tidak silau melihat cahaya itu, semakin dekat semakin silau sampai akhirnya dia seperti ketarik kedalam cahaya itu.
...----------------...
Disisi lain salah satu bawahan Dokter Reynold yang sedang duduk di dekat tubuh Peter di dalam ruangan Khusus itu melihat kelopak mata Peter dan juga jari Peter sedikit bergerak, dia lalu bangkit dan langsung memeriksa Peter tapi dia terkejut karena detak jantung Peter semakin melemah, dia buru-buru keluar untuk memanggil dokter Reynold yang sedang berada di luar, Danny yang melihat bawahan Dokter Reynold keluar dari ruangan Khusus itu langsung berdiri karena melihat raut wajah bawahan Dokter Reynold sedikit panik, dan langsung membisikkan sesuatu yang tidak Danny bisa dengar.
"Dokter Reynold ada apa, apa yang terjadi?" tanya Danny ikut panik, karena Dokter Reynold langsung bergegas berdiri dan langsung melangkah cepat menuju ruangan khusus itu
"Maaf Tuan Danny bawahan ku memberitahu, bahwa kondisi Tuan Muda Peter memburuk, aku akan segera memeriksa nya, dan melakukan tindakan" ucap Dokter Reynold yang langsung meneruskan langkah nya yang terhenti karena Danny bertanya.
Danny yang mendengar perkataan Dokter Reynold langsung segera menghubungi Wanda melalui panggilan tlp, karena dia takut memberi kabar ini secara langsung.
"Ada apa paman, kenapa tidak langsung ke kamar saja, mengapa harus melakukan panggilan?" tanya Wanda ketika sudah menerima panggilan dari Danny.
"Nona Wanda, aku ingin memberitahu kabar buruk, bawahan Dokter Reynold baru saja memberitahu tentang kondisi Tuan Muda yang sedikit memburuk, tapi sekarang Dokter Reynold sudah masuk dan sedang memeriksanya kembali"
__ADS_1
"Apa........" Wanda terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh Danny, dan langsung memutuskan panggilan dan langsung bergegas keluar tanpa memberitahu Adell, Anna, dan Ibu Peter yang berada di kamar itu.
Adell, Anna, dan Ibu Peter yang melihat Wanda buru-buru keluar, Adell bertanya kepada Wanda "Wanda adaapa?" tanya Adell sedikit teriak, namun Wanda hanya menoleh sedikit dan terlihat dari matanya mengeluarkan air mata, Adell, Anna, dan Ibu Peter melihat itu langsung berdiri dan langsung mengejar Wanda yang sudah keluar. Setelah sampai di luar Adell melihat Danny yang terlihat panik, dan berlari dengan susah payah karena perutnya yang telah membesar dan langsung bertanya kepada Danny.
"Paman ada kabar apa? mengapa kamu terlihat begitu panik, apa yang terjadi, mana dimana dokter Reynold? apa terjadi sesuatu yang buruk dengan suami ku?" Adell memberondong pertanyaan kepada Danny, dan mulai menangis karena doa merasakan bahwa terjadi sesuatu yang buruk tentang kondisi Peter.
"Kak tenang kak tenang, dokter Reynold sudah didalam dan sedang memeriksanya" ucap Wanda mencoba menenangkan Adell.
Tidak lama Dokter Reynold keluar dari dalam ruangan Peter, sambil menyeka keringat yang bercucuran di dahinya.
"Dokter Reynold apa yang terjadi? bagaimana keadaan suami saya?" Adell bertanya dengan suara keras di iringi tangisan.
"Nyonya Muda, Nyonya Besar, Nona Wanda, Nona Anna, dan Tuan Danny, sebelumnya saya meminta maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tetap tidak bisa menyelamatkan Tuan Muda" ucap Dokter Reynold dengan sedih menyampaikan itu kepada mereka semua"
Anna dan Wanda juga menangis, namun mereka masih tetap berusaha untuk tetap sedikit tegar, dan membantu Ibu Peter dan Adell yang terduduk di lantai dibantu oleh 2 bodyguard yang berjaga, sedangkan Danny langsung memberi kabar kepada Nadine untuk memberitahu Tuan Besar / Ayah Peter, dan juga Tuan Ricky / mertua Peter.
Nadine terkejut mendengar berita duka itu dan dia menjatuhkan hp nya, dan langsung menangis, bagaimana pun Peter sudah dianggap sebagai adiknya. Tuan Petrus, dan Tuan Ricky yang kebetulan sedang berada dalam 1 ruangan kaget melihat Nadine yang tiba-tiba saja menangis setelah menerima tlp.
"Ada apa Nadine? mengapa kamu menangis?" tanya ayah Peter.
"Tu...tu..tuan muda Tuan......." ucap Nadine terputus dia tidak kuat mengatakan nya.
__ADS_1
"Ada apa dengan anak / menantu ku...? tanya ayah Peter dan Tuan Ricky bersamaan, dengan raut wajah panik.
"Tu...tu..tuan Muda tidak terselamatkan" ucap Nadine sambil sesegukan.
"Apa.........Anak / Menantu ku meninggal dunia?" ucap ayah Peter dan Tuan Ricky bersahutan, tapi Ayah Peter seakan tidak percaya, langsung menghubungi Danny, dan bertanya langsung kepada Danny, dan ternyata benar kabar itu. Ayah Peter langsung lemas dan raut wajah ayah Peter berubah seketika, terlihat sangat datar dan tatapan matanya terlihat kosong dan mengeluarkan air mata namun tanpa suara tangisan, dia masih tidak menyangka bahwa anak Tunggal nya yang akan menjadi harapan untuk keluarga nya meninggal dunia.
Tuan Ricky yang melihat itu langsung menggoyangkan tubuh ayah Peter. "Besan..Besan.Besan sadar lah, kita harus segera ke rumah sakit." Tuan Ricky memanggil ayah Peter berulang kali agar dia sadar dari keterkejutan nya dan agar bergegas ke rumah sakit. "Nadine panggil bawahan mu untuk membantu ku memapah Tuan Petrus , dan suruh Vivian siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang" tambah Tuan Ricky dengan suara yang di buat tegas karena dia menahan kesedihan karena meninggal nya Peter.
"Baik tuan" ucap Nadine singkat
"2 Orang masuk, 2 orang siapkan mobil kita akan segera kerumah sakit" ucap Nadine melalui interkom, dan tidak menunggu waktu lama hanya butuh waktu kurang dari 1 menit, 2 orang bawahannya langsung masuk dan membantu memapah ayah Peter untuk berjalan.
"Vivian, segera tunggu di lobby kita kerumah sakit sekarang, serta hubungi ayah mu, Pak Renaldi, dan Oliver, minta mereka semua kerumah sakit, dan suruh mereka melalui pintu belakang" ucap Nadine dan langsung membereskan semua berkas yang masih berserakan di atas meja, dan kemudian menyusul ayah Peter dan Tuan Ricky yang sudah berjalan duluan bersama anak buahnya.
...----------------...
Kalo karakter utamanya meninggal sih biasanya tanda-tanda mau end nih😁
Jangan lupa Follow, Vote, Gift, Like, Share, dan komennya ya.
Jangan lupa juga untuk kritik dan sarannya, agar bisa membantu Author untuk melanjutkan cerita nya, dan tambah semangat tentunya.
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian para Readers yang telah vote gift like share dan juga komen yang membuat saya ingin terus meneruskan cerita Peter. Dan untuk yang belum, boleh lah vote dan gift nya hehehe. .sekali lagi terimakasih kasih untuk semua nya ya. kita bertemu lagi di bab selanjutnya besok😁