
Mohon maaf sebelumnya dikarenakan novel ini terlalu lama terhenti, dikarenakan author yang sebelumnya mendapatkan musibah, jadi untuk cerita selanjutnya saya sebagai adik author menjadi pengganti untuk meneruskan ceritanya hingga tamat, dan mungkin untuk tambahan bab nya tidak banyak qtau bahkan hanya 1 atau 2 bab saja karena saya sendiri tidak tau akan kelanjutan cerita sebelumnya seperti apa, karena semua tulisan yang sudah di tulis hilang, mohon untuk di maklumi atas kesalahan author sebelumnya karena menghentikan cerita begitu saja. Baiklah lanjut ke cerita nya ya.
...****************...
Setelah Peter mengejar Yudha yang sudah di kepung oleh para bawahannya, Peter pun sampai di lokasi yang sudah di beritahu oleh Roger, tanpa banyak bicara Peter yang sudah menahan kekesalannya selama ini, langsung keluar dari mobil yang dia gunakan, dan langsung menghajar Yudha yang sudah di tahan oleh beberapa bawahan hingga membuat wajah Yudha tidak lagi semulus sebelumnya, kini wajah Yudha sudah memiliki beberapa luka lebam dan robek di seluruh wajah bahkan hidungnya pun patah, dan bibir bagian bawahnya sobek, tidak sampai disitu Peter yang belum merasa puas pun terus menghajar Yudha di bagian tubuh lain, dan mematahkan tangan serta kaki Yudha sehingga Yudha semakin meringis menahan sakit yang dia alami saat ini hingga dia pun tak sadarkan diri.
"Kalian gantung dia diatas pohon itu, dan suruh 10 orang jaga dia selama 1 hari penuh jangan sampai ada yang menolong nya" Ucap Peter kepada Roger, Rio, dan Freddy, dia sudah merasa sedikit puas dengan apa yang dia telah lakukan untuk membalaskan dendam akibat perbuatan Yudha.
"Tapi dia akan mati jika di biarkan hingga besok Tuan, bukan kah kita harus mengirimnya ke rumah sakit dan setelah itu kirim dia ke penjara saja agar dia merasakan seperti kematian didalam ke hidupan" Jawab Roger kepada Peter dengan nada penuh ke hati-hatian.
Mendengar ucapan Roger, Peter pun memikirkan ucapan Roger tersebut, dan dia membenarkan ucapan Roger lebih baik menyiksa dia secara perlahan, jika dia dibiarkan mati begitu saja dia tidak akan merasakan penderitaan sebagai orang lumpuh yang dimasukan kedalam penjara.
"Baiklah, lakukan sesuai apa yang menurut kalian baik untuk menyiksa orang ini" jawab Peter setelah dia memikirkan nya dengan baik-baik ucapan Roger.
"Baik Tuan saya Rio, dan Freddy yang akan mengawasi Yudha hingga dia dipindahkan ke dalam penjara nanti" jawab Roger lagi dan langsung meminta beberapa bawahan untuk memasukan Yudha kedalam bagasi mobil, dan langsung dibawa kerumah sakit agar bisa dilakukan perawatan agar luka yang menyebabkan pendarahan dapat di hentikan untuk mencegah Yudha mati karena kehabisan darah yang keluar dari seluruh tubuhnya.
Tanpa menjawab ucapan Roger, Peter pun langsung kembali ke dalam mobilnya dan langsung kembali ke kediamannya.
Setelah kembali ke kediamannya dia melihat beberapa tamu telah pergi, dan menyisakan hanya beberapa tamu saja yang ingin menyaksikan Tuan Aska mendapatkan balasan dari keluarga Sherlock.
"Hahaha mampus kalian keluarga Aska, hancur kalian, karena berani menyinggung keluarga Sherlock"
"Benar, bodohnya dia berani menyinggung keluarga yang berada diatas keluarga nya itu, hanya karena keluarga Sherlock selama ini hanya diam saja"
"Untung saja keluarga saya sudah memutuskan kerja sama dengan keluarga Aska jauh sebelum kejadian ini terjadi dan langsung memilih untuk mengikuti keluarga Sherlock, jika saja keluarga kami tidak memutuskan hubungan dengan keluarga Aska dan memilih untuk mengikuti keluarga Sherlock, kemungkinan akan mendapatkan dampak yang buruk juga"
Beberapa tamu berbicara dengan riang melihat kehancuran Tuan Aska yang selalu menindas dan melakukan hal yang tidak terpuji kepada setiap keluarga yang tidak mau bergabung dengan keluarga nya.
Peter yang mendengar perkataan mereka hanya tersenyum melewati mereka, dan mereka segera berhenti berbicara dan merasa takut jika tadi apa yang mereka bicarakan ada kesalahan, tapi melihat Peter tersenyum melihat kearah mereka, mereka sedikit hilang rasa takut, dan langsung membungkukkan sedikit badan kearah Peter.
Peter berjalan menuju Aska, Albert, dan juga Jessy. "Bagaimana nikmat rasanya berurusan dengan keluarga ku?" ucap Peter dengan nada penuh kebencian kepada mereka.
"Peter tolong ampuni saya, saya hanya dipaksa dan digunakan sebagai alat oleh mereka, saya tidak punya niat sedikitpun untuk ikut menyakitimu" Jessy memohon sambil bersujud dan menangis agar Peter melepaskannya.
"Hahaha Apa itu benar yang kamu ucapkan?" Peter dengan suara tingginya.
"Benar Peter" jawab Jessy lagi kali ini dia mendongakan kepalanya melihat kearah Peter.
"Dasar Perempuan ******, berani sekali kamu memfitnah ku, jangan oercaya kepadanya Peter semua ini adalah ide nya dari awal bersama dengan Tuan Aska, saya lah yang mereka gunakan sebagai alat untuk mendapatkan bantuan dari Yudha" ucap Albert membentak Jessy dan berusaha mengelak.
"Kalian berdua bajingan, kalian lah yang menghasutku untuk membantu kalian untuk membalaskan dendam kalian kepada Peter ini, sekarang kalian yang memfitnah ku" sahut Tuan Aska.
"Hahaha lihatlah para ANJING sedang menggonggong satu sama lain agar mendapatkan pengampunan dari ku, padahal mereka sangat senang seandainya aku benar-benar telah mati" ucap Peter dengan sangat keras sambil memalingkan pandangannya kearah orang yang sedang menyaksikan 3 orang tersangka itu.
"Hahaha" semua orang tertawa melihat adegan dan perkataan Peter.
"Bagaimana jika kita arak mereka keliling kota menggunakan mobil pickup dan kita ikat menggunakan kayu besar agar orang-orang yang pernah merasa dirugikan oleh mereka bisa melempari mereka dengan sampah, kotoran, buah atau sayuran yang sudah busuk" ucap Peter memberikan hukuman memalukan untuk mereka sebelum mereka dikirim kedalam penjara.
"Jangan Peter. .ohh tidak saya salah, Tuan Peter jangan siksa saya seperti itu" ucap mereka berbarengan.
"Berikan alasan kepadaku kenapa aku tidak boleh menyiksa kalian seperti itu? apa karena kalian malu? apa kalian merasa kalian ini masih sederajat dengan manusia-manusia yang ada di negara ini?" ucap Peter dengan sinisnya.
__ADS_1
"itu....." gumam mereka mendengar perkataan Peter.
"untuk semua yang disini berikan info kepada seluruh masyarakat untuk bersiap-siap untuk menyiapkan bahan lemparan untuk hadiah kepada mereka nanti, dan ingat jangan ada yang menggunakan benda-benda yang bisa menyebabkan mereka terluka, karena saya hanya ingin melihat mereka sama seperti sampah bahkan makanan busuk yang tidak layak untuk di hidangkan" Peter memberi instruksi kepada semua orang yang ada di sekelilingnya.
"Dan kalian tolong siapkan 3 mobil Pickup dan desain untuk mereka agar mereka tetep bisa berdiri di mobil pickup itu" ucap Peter memberi perintah kepada para bawahan yang ada di situ.
"Baik Tuan Muda" ucap mereka serentak dan langsung bergegas melakukan apa yang di perintahkan oleh Peter.
Sedangkan keluarga Sherlock yang berada disana hanya diam melihat Peter memberi pelajaran kepoada mereka, mereka tidak berniat ikut campur atas balas dendam yang sedang dilakukan kepada Peter.
"Sayang apa kamu akan ikut berkeliling nanti nya?" tanya Adell ketika Peter sudah berada di keluarga yang sedang berkumpul menyaksikan dirinya mempermalukan 3 tersangka itu.
"Tentu saja tidak, aku akan menyerahkan semua kepada para bawahan saja, karena aku masih rindu kepada kalian, sudah cukup buat ku untuk menyiksa mereka, jadi sekarang waktunya bersama kalian semua, sisanya aku serahkan kepada para bawahan saja dan kepada penegak hukum" ucap Peter yang sudah kembali santai seperti biasanya.
"Akhirnya lega juga mendengar perkataan mu nak, kami sangat ngeri melihat mu yang sebelumnya santai, tapi kali ini begitu arogan, wajah mu seperti moster yang baru saja keluar dari sarangnya" ucap ayah Peter.
"Hahahaha" seluruh keluarga dan orang terdekat yang sedang berkumpul tertawa bersama mendengar perkataan ayah Peter.
"Huh ayah ini membuatku jadi bahan tertawaan saja" ucap Peter memelas.
"Walaupun dia seperti moster tapi aku tetap cinta kepadanya Ayah" Adell membela Peter dan langsung meraih lengannya dan memeluk erat.
...----------------...
Singkat cerita setelah seminggu yang lalu semua pembalasan yang dilakukan Peter sudah terselesaikan, sekarang waktunya untuk menikmati kehidupan dengan tenang bersama keluarga serta Orang-orang terdekat nya.
Peter berada di taman kecil tempat yang dekat dengan tempat kuburan yang sebelumnya, dia sedang menikmati secangkir kopi, Tiba-tiba Adell dan Anna datang menghampiri nya.
"Sayang boleh kah aku dan Anna duduk disini?" tanya Adell yang sudah berada didepan Peter.
"Kamu tega melihat istrimu yang sedang mengandung anak mu ini untuk duduk di atas pohon?" ucap Adell sedikit merajuk karena ledekan Peter.
"Benar, apa kamu juga tega wanita tercantik dikelasmu dulu juga duduk diatas pohon seperti hantu?" Anna ikut merajuk mendengar ucapan Peter.
"Hahaha, lagi siapa suruh kalian bertanya, toh aku tidak sedang sibuk jadi duduk saja tidak akan mengganggu aku kok, paling setelag kalian duduk aku yang pergi ahahahaha" jawab Peter dengan ledekan lagi.
mendengar jawaban Peter seperti itu, Adell dan Anna saling pandang kemudian mereka menganggukan kepala 1 sama lain, dan langsung membalikan badan untuk pergi dari sana, Peter melihat itu langsung memanggil mereka "Hey kalian mau kemana, tidak jadi duduk, sini duduk temani aku menikmati udara yang sejuk"
Adell dan Anna pun, tidak memperdulikan ucapan Peter dan tetap bergegas meneruskan jalan mereka meninggalkan Peter, Peter dengan cepat tiba-tiba sudah berada didepan mereka tanpa mereka sadari, dan membuat mereka berdua terkejut.
"Kamu mengapa begitu cepat?" "Benar cepat sekali kamu" ucap Adell disusul dengan Anna.
"Ahahaha, sudah tidak usah mempertanyakan itu, ayo kalian duduk lah temani aku" ucap Peter dan menggandeng Adell dan juga Anna untuk duduk di bangku yang kosong.
"sayang sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan dengan mu, dan ini menurutku sangat penting sekali" ucap Adell kepada Peter setelah mereka sudah duduk bersama.
"Apa itu, apa begitu penting? sehingga kamu menunjukkan muka yang begitu serius kepadaku?" jawab Peter dengan penuh rasa penasaran, sedangkan Anna, dia merasakan perasaan yang begitu tegang, karena Anna telah tau apa yang akan di bicarakan oleh Adell, karena sebelumnya Adell telah berbicara dengannya sebelum mereka menemui Peter.
#kejadian sebelum menemui Peter#
"Anna bisa aku berbicara dengan mu sebentar" ucap Adell yang mendatangi Anna yang sedang di berada di beranda sambil memandangi Peter yang sedang berada di taman.
__ADS_1
"Oh iya Adell bisa, mari kita duduk dulu" Anna kaget dengan suara Adell yang tiba-tiba saja terdengar, dengan merasa sedikit canggung dia meng iyakan permintaan Adell.
"Sudah kita berdiri saja, sambil melihat kearah orang yang sangat kita sayangi yang hampir saja pergi meninggalkan kehidupan kita" ucap Adell dengan penuh senyum kebahagiaan karena akhirnya Peter telah sehat kembali.
Mendengar ucapan Adell, Anna merasa malu karena dia ketahuan telah memandangi Peter cukup lama.
"Maafkan aku Adell..." ucap Anna karena merasa tidak enak diam" dia memandangi Peter cukup lama, dari sejak Peter ditaman, setelah dia datang ke kediaman keluarga Sherlock untuk berkunjung menemani Adell. ( niat awal dia datang )
"Anna tidak perlu sungkan atau merasa bersalah, aku kan sudah tau tentang perasaan mu dengan Peter, jadi tidak perlu seperti itu" ucap Adell dengan senyum yang penuh kejujuran bahwa dirinya tidak marah, malah sebaliknya karena ada orang lain yang begitu menyayangi Peter selain dirinya, dan orang itu Anna, wanita cantik, baik hati, dan juga tulus menyayangi Peter tanpa melihat kekayaan, ditambah disaat Peter sedang dalam keadaan buruk pun dia tetap menyayangi Peter tidak meninggalkan nya.
"Anna sebaiknya kita ungkapkan saja perasaan mu kepada Peter, tidak perlu disembunyikan lagi, bagaimanapun aku telah memberikan ijin jika memang Peter ingin memiliki mu juga, asal dia bahagia aku tidak akan mencegahnya, tapi jika dia tidak mau, aku tidak akan memaksanya, karena semua keputusan ada kepadanya"
"Itulah mengapa aku hanya berani memandangi Peter dari kejauhan serta memendam semua perasaan ini, karena aku belum siap untuk mendengar jawaban yang mengecewakan untun diriku nantinya Adell"
"Itu...., tapi sampai kapan kamu akan memendamnya? apa kamu berniat untuk menghilangkan semua rasa yang selama ini kamu pendam tanpa mengungkapkannya?"
"Mungkin.."
"Tidak Pokoknya kamu harus mengungkapkan hari ini juga, mari ikut aku, aku yang akan memberitahu Peter nanti tentang perasaan yang kamu miliki dengannya" Adell menarik pergelangan Anna agar Anna ikut dengannya menghadap Peter.
"Adell ahh Adell, aku belum siap" Ucap Anna sambil berusaha melepaskan tarikan Adell dari pergelangan tangannya, namun semua sia-sia saja, karena Adell memegang begitu erat, dengan terpaksa Anna pun mengikuti Adell menemui Peter.
...----------------...
Setelah duduk bersama dengan Peter.
"Penting atau tidaknya untuk mu, kamu akan mengetahui nya setelah mendengarkan semua pembicaraan ku ini sayang" Adell dengan raut wajah yang serius.
"Baiklah, aku akan mendengarkan" jawab Peter menanggapi dengan serius ucapan istri nya, tapi dia juga heran mengapa Anna hanya diam saja, dan kepalanya terus saja menunduk, tidak memandang kearahnya sama sekali.
Peter merasa mungkin ada kesalahan yang di perbuat Anna hingga Adell seperti ini.
"Sayang, sebenarnya ada seseorang yang mencintaimu sejak lama, dan dia tidak berani mengungkapkannya, bahkan hingga saat ini pun dia hanya bisa diam dan menundukan kepalanya tidak berani untuk menatapmu sedikitpun, makanya aku lah yang mewakili orang itu berbicara saat ini" ucap Adell tanpa basa/i sambil melirik ke arah Anna.
Mendengar ucapan istri nya Peter pun, terdiam dan mengikuti mata Adell yang melirii ke arah Anna.
"Apa itu benar Anna?" Peter pun langsung bertanya kepada Anna karena dia tau siapa yang dimaksud oleh istri nya itu, orang itu adalah Anna karena dia melirik kearah Anna ketika memberi tahu hal itu.
"Maafkan aku Peter aku tidak bermaksud apapun, aku juga tidak berencana meminta Adell untuk memberitahu mu, dan Adell pun tau itu semua karena waktu dirumah sakit aku secara tidak sengaja mengungkapkan semuanya kepada Adell" ucap Anna masih dengan menundukkan kepalanya dan sedikit bergetar menahan tangis.
"Anna biarlah Peter mengetahui semuanya, dan agar kamu juga lega karena Peter sekarang mengetahui perasaan mu" ucap Adell yang mengusap kepalanya agar Anna bisa tenang.
"Jadi apa jawaban mu Sayang? aku tidak mempermasalahkan jika kamu juga ingin menerima nya untuk menjadi yang kedua, dan pasti nantinya aku juga tidak akan merasa kesepian walaupun kamu jarang sekali dirumah nantinya" ucap Adell kepada Peter.
"Ahh aku tidak tau..." jawab Peter singkat, karena dia bingung dengan semua kenyataan ini, dulu memang dia sangat mencintai Anna, walaupun dia tidak berani mengatakan nya, tapi untuk sekarang dia tidak tau apakah perasaan itu masih ada atau tidak.
"Jujurlah kepada hati mu sayang, aku dan Anna akan memberikan waktu kepadamu untuk menjawabnya, tanya kepada hatimu yang paling dalam, jangan sampai salah dalam memikirkan semuanya" ucap Adell langsung meraih tangan Anna, dan mengajak Anna untuk kembali kedalam rumah, tanpa menunggu jawaban dari Peter, karena Adell sudah mengenal suaminya, dia sedang dilanda dilema, dan Adell juga tau bahwa Peter juga memiliki perasaan yang sama kepada Anna dulu, dia bisa melihat itu dari wajah Peter yang seperti sedang mengingat kenangannya dulu.
Setelah kepergian Adell dan juga Anna, Peter masih merenungkan semua nya, apa yang harus dia lakukan, Peter harus jujur kepada mereka atau tidak, sesungguhnya Peter merasakan getaran rasa cinta yang dulu pernah dia rasakan setelah mengingat semua masalalu nya ketika 1 kelas dengan Anna.
Disisi lain, Adell dan Anna sudah berada di kamar Adell, dia sengaja mengajak Anna masuk ke kamar nya, karena dia ingin menenangkan Anna, karena Adell tau Anna masih menahan tangis, takut terlihat oleh keluarga yang lain, Adell memutuskan untuk membawanya kedalam kamarnya.
__ADS_1
...----------------...
......Menuju akhir Cerita......