
Julian menjambak rambutnya sendiri, saat melihat Maura sudah pergi dari rumah sakit. Umpatan kekesalan terus saja keluar dari bibirnya, Julian bahkan menendang beberapa ban mobil sebagai pelampiasan.
Pria berdimple di dagu itu segera berlari menuju mobilnya. Julian berniat mengejar taksi yang di tumpangi oleh mantan kekasihnya.
Laju mobil BMW metalik yang di kendarai Julian semakin cepat. Kedua matanya menatap liar ke segala arah, Julian berharap taksi yang Maura tumpangi tidak terlalu jauh darinya.
"Pingin gue cekek tuh cewek. Ngapain sih dia tugas di rumah sakit itu, bukanya Reo udah buang tuh cewek ke LA?!"
Julian mencengkram erat kemudinya. Otaknya semakin blank saat dia tidak juga kunjung melihat taksi yang di tumpangi oleh Maura.
"Sialan! kemana sih tuh taksi? perasaan belum lama perginya."
Umpatan demi umpatan Julian lontarkan. Impiannya untuk pulang bersama Maura, dan mengajaknya makan malam gagal total. Sepertinya dia harus menjalankan misi yang kedua- yaitu mendatangi apartment Maura secara langsung.
Julian berharap Maura tidak akan mengusirnya seperti yang sudah sudah.
🍭SA🍭
__ADS_1
"Eyang?"
Januar membuka pintu besar yang ada dihadapannya. Perpustakaan adalah tujuannya, Januar yakin kalau wanita sepuh itu ada didalam ruangan penuh buku ini.
"Eyang? apa Eyang di dalam?"
Januar semakin mengencangkan laju jalannya. Bahkan Januar sampai melupakan Mia yang masih mematung di depan pintu. Mia terlihat ragu untuk melangkah, hatinya belum siap menerima penolakan dari anggota keluarga Rajendra lainnya.
Mia menelan saliva kasar, saat mengingat perkataan Nyonya Arista. Wanita itu pasti mengira kalau dirinya yang sudah mempengaruhi Januar.
Dan Mia yakin kalau Nyonya Eyang, akan berpikiran sama dengan Nyonya Arista.
Mia harus apa sekarang? ikut masuk, atau kabur saja?
Gadis itu menghela napas kasar, ternyata berurusan dengan anak dari keluarga konglomerat itu begitu merepotkan. Apa lagi dirinya yang nota bene hanya anak dari seorang prajurit biasa, bahkan sang prajurit sudah gugur di medan perang.
Mereka tidak memiliki harta dan tahta, hanya pengorbanan yang bisa Mia contoh dari Sang Ayah serta ibunya. Sang ibu meninggal dunia disaat usianya masih belia, hidup bertiga bersama kakak serta Ayahnya- sebelum Sang Ayah gugur, membuat Mia paham apa itu arti sebuah pengorbanan.
Dan sekarang, apa Mia harus mengorbankan perasaannya sendiri. Mia tidak ingin Januar di jauhi oleh Mama serta keluarga Rajendra lainnya, hanya karena bertekad untuk menikahinya.
__ADS_1
"Apa aku ngundurin diri aja ya? kalau harus bayar pinalti, aku bakalan bayar walaupun nyicil," gumam Mia.
Gadis itu bimbang, Mia bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Kalau dia mengundurkan diri dari rumah ini sebagai pengasuh Januar, lalu bagaimana nasib pria itu nanti?
Januar sudah bergantung padanya sekarang. Bahkan memakai pakaian saja, Januar sudah tidak ingin kalau bukan dia yang memakaikannya. Tapi Mia juga tidak mau kalau sampai keinginan Januar membuat perpecahan diantara anggota keluarga Rajendra.
"Aku harus gimana?" lirih Mia.
Kedua kaki Mia melemas, gadis itu mendudukkan dirinya di lantai. Mia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri saat ini. Kepalanya berdenyut sakit, belum lagi dia harus berhadapan dengan Nyonya Besar Rajendra setelah ini.
Apa yang harus dia laku-
"Mia kenapa duduk di lantai? Janu nyariin Mia. Ayo, Eyang udah nunggu Mia di dalam,"
Mia tersentak, tubuhnya semakin lemas mendengar ucapan Januar. Tebakannya benar kan, setelah ini dia harus berhadapan dengan Sang Nyonya Besar. Mia berdoa didalam hati, semoga hatinya tetap kuat saat mendengar ucapan wanita sepuh itu nanti.
**SENYUM DALAM KEBIMBANGAN
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘😘**