
Tiga hari berlalu...
Mia memijit pangkal hidungnya pelan, saat merasakan denyutan di kepalanya semakin menjadi.
Dirinya yang terbiasa disibukan oleh Januar beberapa bulan ini, kini diharuskan rehat- memiliki banyak waktu luang namun tidak berarti.
Mia masih belum mau mencari pekerjaan, gadis itu masih menikmati hari hari membosankan-nya. Salah satu sudut mata Mia melirik pada benda berbentuk kubus yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Tiga hari bukan waktu yang panjang bagi kebanyakan orang, namun bagi Mia- waktu tiga hari itu terasa lama sekali. Mia tidak kembali ke kost-annya, gadis itu memilih untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Rumah yang sudah dia tinggalkan beberapa tahun terakhir ini.
Mia bersyukur Amira masih memperkerjakan orang untuk membersihkannya, walau hanya satu minggu sekali. Setidaknya rumah dua lantai peninggalan kedua orang mereka, tidak dingin dan terbengkalai.
Jari jemari Mia memutari benda yang ada ditangannya, menatap lekat, dan sesekali tersenyum kecil.
"Kamu lagi apa? siapa yang mandiin kamu hari ini?"
Pikiran Mia kembali menerawang, dia mengalihkan pandangannya ke arah balkon kamarnya. Tirai putih bersih namun tipis yang ada di kaca pembatas balkon bergerak kecil, saat angin sejuk menerpanya.
Mia menggenggam erat rubik yang ada di tangannya. Gadis itu bangkit, kedua kaki jenjangnya membawa dia menuju balkon.
__ADS_1
Suasana sore hari ini lumayan cerah, angin berhembus pelan. Mia bahkan sampai memejamkan kedua matanya, saat merasakan angin menyapa wajahnya- saat dirinya membuka kaca pembatas balkon.
Mia menghirup napas dalam, satu tangannya bertumpu pada besi pembatas- sedangkan satu tangannya lagi menggenggam erat rubik milik Januar.
Pancaran kerinduan dikedua mata Mia sangat terlihat jelas. Sama seperti pria yang saat ini tengah berada di balkon kamarnya, sama seperti Mia.
Pria berkaos hitam itu menatap kosong ke arah depan. Tatapannya terlihat penuh harap, pandangannya perlahan turun- menatap kertas yang ada di tangannya.
Kertas yang dia temukan di dalam kamar mantan pengasuhnya. Selama tiga hari ini dirinya tidak keluar dari kamar. Untuk urusan makan saja, pria itu lebih memilih menunggu keadaan rumah sepi.
Mama dan Eyangnya sudah berkali kali membujuk, namun dia tetap pada pendiriannya.
Januar memejamkan kedua matanya, meremas pelan kertas yang ada di tangannya.
"Janu harus cari Mia!" ucapnya tiba tiba.
Pria itu berbalik, perlahan menanggalkan satu persatu pakaiannya- membiarkannya berserakan lalu berlalu menuju kamar mandi.
Sudah hampir tiga hari ini Januar mandi sendiri, sebisanya- walaupun kadang masih ada busa shampo dan sabun di rambut serta tubuhnya, Januar tidak peduli. Yang terpenting untuknya saat ini adalah, tidak ada orang yang menyentuh tubuhnya selain Mia.
__ADS_1
Nyonya Arista sempat membujuk Januar, namun penolakan yang dia terima. Bahkan Januar terlihat mendiamkannya selama beberapa hari ini, termasuk semua orang yang ada dikediamanan Rajendra.
Tubuh tegap tinggi Januar berdiri di bawah shower. Kedua matanya terpejam, kepalanya mendongak ke atas- menikmati butiran air dingin yang membasahi tubuh telanjangnya.
Dulu, Mia sering memandikannya di bawah guyuran air seperti ini. Namun sekarang, jangankan memandikannya- suaranya pun Januar tidak dapat mendengarnya lagi.
Januar mendudukkan dirinya di lantai, pria itu menekuk kedua kakinya- bibirnya bergetar menahan tangis. Tangisan penuh kerinduan yang selama beberapa hari ini membelenggunya dan menyesakan dadanya.
"Janu mau ketemu sama Mia. Janu kangen sama Mia. Janu mau nyari Mia kalau udah mandi!"
Januar terus saja berceloteh, dia tidak peduli saat merasakan hawa dingin mulai menyerangnya. Januar ingin berlama lama berada di bawah guyuran air shower, untuk mengenang keberadaan pengasuhnya, miliknya dan Mia-nya.
**DEDE JANU KANGEN MIAAAAA 😭😭😭
HOLLA MET SORE EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘**