
Julian mende*sah kasar, sudah hampir 2 jam lamanya dia duduk diatas kap mobil. Kedua matanya terus saja menatap ke arah loby rumah sakit. Waktu sudah menunjukan pukul 8.30 malam, bahkan Julian sampai melewatkan makan malamnya- hanya karena ingin mengajak Maura makan malam.
Tapi ternyata gadis itu harus lembur menurut informasi yang dia dapat, terpaksa Julian menunggu Maura di parkiran. Julian berharap mantan kesayangannya itu akan segera keluar.
Plak!
Sudah berkali kali Julian menjadi pembunuh berdarah dingin bagi kaum nyamuk. Pria berkulit putih namun tidak seputih Januar itu, mengedarkan pandangannya- suasana sepi dan remang membuat Julian sedikit bergidik.
Ditambah lagi angin malam yang sedikit berhembus, menambah kesan horor untuknya.
"Maura, kamu lama banget sih? apa aku harus susulin kamu kedalam?"
Julian menjentikkan jarinya, pria bercelana jeans itu melompat dari tas kap mobil BMW metaliknya. Julian melangkah sembari bersiul, namun baru beberapa langkah dia berjalan- gadis yang dia tunggu sedari tadi keluar dari loby rumah sakit.
Senyuman Julian mengembang, pria itu mempercepat langkahnya- tapi sekali lagi Julian harus menghentikan langkahnya, saat melihat ada seorang pria berkemeja cream tua berjalan mendekat pada Maura.
Julian terdiam, dia tetap di tempatnya- bahkan saat Maura dan sang pria berbicara Julian masih mampu mendengarnya.
__ADS_1
"Ini sudah malam, apa Dokter Maura mau ikut dengan saya. Kebetulan kita sejalan, Dokter Maura tidak membawa mobil kan?"
Julian mengepalkan kedua tangannya mendengar pria itu menawarkan sesuatu yang dia harapkan sedari tadi. Padahal dirinya sudah dua jam lamanya menunggu dan belum sempat mengajak Maura, tapi pria berkacamata itu sudah mendahuluinya.
"Ini masih belum terlalu larut, Dokter Rendi. Saya juga harus mampir dulu ke tempat lain, taksi online yang saya pesan juga sudah on the way kesini." tolak halus Maura.
Calon dokter muda itu menipiskan bibirnya, Maura berusaha seramah dan sebiasa mungkin. Jujur sebenarnya Maura risih, dia tipe orang yang tidak ingin di ganggu saat lelah dan dalam mood yang berantakan. Hari ini moodnya benar benar berantakan, selain jadwal prakteknya lebih padat dari hari hari biasa. Maura juga harus berurusan dengan selingkuhan mantan kekasihnya. Wanita sialan itu ikut dalam timnya dan menjadi salah satu senior yang mengawasi dokter koas sepertinya.
Mereka berdua memang tidak terlibat pembicaraan apa pun, bahkan wanita itu lebih banyak diam- saat Maura tengah menjalankan tugasnya. Namun Maura tahu, diam diam mata wanita itu memperhatikan- dan bahkan memancarkan rasa ketidaksukaan padanya. Padahal kan harusnya dialah yang bersikap seperti itu.
Maura menundukkan tubuhnya sedikit, gadis itu segera berlalu meninggalkan dokter muda itu tanpa menunggu jawabannya. Maura menghela napas kasar, wajahnya terlihat begitu lelah. Bahkan Maura melewati Julian begitu saja, tanpa menyadari kalau pria yang dia lewati itu adalah mantan kekasihnya.
Maura berdiri di tepi jalan, gadis berkulit putih itu menatap sekitar- Maura berharap taksi online yang dia pesan agar segera sampai. Tubuh lelahnya sudah meminta diistirahatkan, Maura benar benar lelah hari ini- lelah jiwa dan raga.
Lima menit berlalu, senyuman Maura terbit saat melihat taksi yang dia pesan sudah sampai. Maura mendekat, namun belum sempat dia membuka pintu mobil- sebuah tangan menariknya.
"Kamu pulang sama aku!" tegasnya.
__ADS_1
Kedua mata Maura mendelik, bibirnya sedikit terbuka- dia menatap tidak percaya pada orang yang tengah memaksanya saat ini.
"Kamu ngapain sih Jul?! awas deh aku mau pulang, aku gak berminat ribut sama kamu hari-,"
"Ini bayarannya Pak. Istri saya batalin pesanannya!" ucapnya lagi.
Mulut Maura terbuka lebar, baru saja dia akan memukul Julian- pria tampan berdimple di dagu itu menangkap tangannya, lalu menciumnya lembut.
"Kita harus bicara Sayang. Aku enggak mau kita kayak gini terus!" finalnya.
**SABAR JUL SABAR
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘**
__ADS_1