
Januar merapatkan tubuhnya pada Mia, kala melihat Julian menatapnya. Saat ini mereka bertiga tengah berada di dalam mobil, setelah Halim menolak lamaran Julian.
Julian hampir sempat tidak sadarkan diri, bahkan serangan jantung di buatnya. Namun saat Halim kembali bersuara nyawa yang tadinya hampir terlepas kini masih bisa masuk lagi.
Halim mengatakan kalau Julian hanya perlu membawa orang tuanya, karena pria berkumis itu tahu kalau Julian masih memiliki orang tua. Demi kelangsungan hidup dan masa depannya, akhirnya mau tidak mau Julian mengangguk- walaupun dalam hati kecilnya sangat keberatan.
Julian menghela napas kasar, pria berdimple di dagu itu meletakan dahinya di stir mobil.
"Kita pulang naik taksi aja deh. Mending Julian ngomong sama pacar Julian dulu, ya kan Mia?" Januar bersuara, pria itu menatap polos pada istrinya.
Di sisinya Mia hanya bisa mengangguk, dia tidak tahu harus berkata apa. Saat ini Julian tengah dilanda gegana gelisah galau merana dan tidak di terima. Hati dan pikirannya tengah kacau balau, Mia yakin kalau Julian memerlukan waktu untuk menenangkannya.
"Kita duluan ya. Kamu ngomong aja sama Mao, kalian bicara dari hati ke hati buat nyari solusinya." kali ini Mia ikut angkat bicara. Dia yakin saat ini Julian sedang butuh solusi dari seseorang.
Julian tidak menjawab, pria itu hanya mengangguk lemas sembari mengibaskan tangannya pada Mia dan Januar. Merasa Julian sudah lebih baik, sepasang suami istri itu keluar dari mobil. Mia segera meraih tangan Januar dan menggandengnya. Keduanya berjalan beriringan, mengayunkan tangan mereka yang bertautan seperti anak kecil.
Sesekali Januar tersenyum saat kedua mata mereka bertemu. Januar terlihat begitu senang, walaupun mereka hanya berjalan kaki. Jalan raya cukup jauh dari area pemukiman rumah Maura, jadi Januar dan Mia di haruskan berjalan kaki beberapa ratus meter untuk sampai di jalan raya.
Tapi sepertinya Januar tidak terlihat lelah, begitu pun dengan Mia. Keduanya begitu santai, dan menikmati perjalanan mereka berdua.
Hampir 15 menit lamanya mereka tempuh, kini Januar dan Mia sudah berada di halte bus. Sekedar untuk meluruskan otot kaki, karena Mia tidak akan membawa Januar naik bus.
__ADS_1
"Mas Janu capek?" Mia menatap pada Januar, tangannya terulur untuk mengusap lembut keringat di dahi suaminya.
Pria berwajah tampan itu menggeleng yakin, kedua matanya menatap rubik yang sedari tadi dia pegang.
"Mas janu haus?" Mia kembali bertanya.
Kali ini Januar kembali menatap istrinya, senyum tipisnya terbit. Pria itu mengangguk kecil membuat Mia mengulum senyuman gemas. Mia mendekat pada Januar, kedua tangannya terulur untuk mengusap wajah suaminya.
Kebetulan halte sedang kosong, Mia tidak perlu takut dan malu kalau ada mata kepo yang melirik atau menatap padanya saat ini.
Kedua mata Mia bergulir, memindai seluruh area untuk mencari pedagang yang berjualan di area itu. Mia menghela napas pelan, kala kedua matanya menangkap seorang pedagang di seberang jalan.
"Mas Janu mau ikut atau-,"
Mia berhati hati, tangannya memegang erat lengan suaminya. Keduanya berjalan cepat saat jalanan mulai sepi, Mia sedikit menyeret Januar membuat langkah pria itu sedikit susah.
"Mia," panggilnya.
"Iya?" Mia menjawab tapi tidak mengalihkan pandangannya.
"Mia, Janu-,"
__ADS_1
Belum sempat Januar berbicara dari arah depan ada sebuah motor besar melaju kencang, kedua mata Mia membulat melihat pengendara motor itu terarah pada suaminya.
Dengan cepat Mia menarik lengan suaminya, menabrakan Januar pada tubuhnya agar pria itu tidak terjilat sepeda motor.
Tinnnnn!
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang tubuh Mia. Lampu lalulintas sudah berwarna hijau, tanpa Mia sadari, dan naasnya-
Braak!
Tubuh Mia terpelanting, saat mobil putih mewah itu menabraknya- sesaat setelah Mia mendorong tubuh Januar menjauh darinya.
Tubuh Mia menabrak kaca depan, terjatuh dan tergeletak di jalan raya dengan kondisi tidak baik. Januar yang jatuh karena didorong oleh Mia, membatu di tempat. Tubuh pria itu bergetar, dengan susah payah Januar bangkit- pria itu bahkan merayap saat merasakan kedua kakinya lemas tidak berdaya.
"M-Mia? Mia dengerin Janu. Mia jangan tidur! Mia dengerin Janu!" Januar menepuk kedua pipi istrinya, kedua mata Mia yang masih terbuka dan sayu, membuat Januar berusaha bangkit dan mengangkat tubuh istrinya.
"PANGGILKAN TAKSI!" suara Januar menggelegar, bahkan banyak mobil yang berhenti- suasana di zebra cross terlihat kacau. Januar sudah menangis tanpa suara, kedua tangannya bergetar hebat saat melihat darah mulai membasahi lengan dan kaosnya.
"Mia jangan tidur! kalau Mia tidur Janu bakalan cium bibir Mia sampai bengkak!" Januar kembali menyentak, sentakan spontan dan polos yang membuat semua mata melotot mendengarnya.
__ADS_1
JANGAN GANAS GANAS MAS, MIA LAGI CELAKA TUH 🙄