Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 68 Saling Melengkapi


__ADS_3

Mia mendelik tajam kala melihat suaminya di peluk oleh wanita lain. Kedua mata Mia mengerjab cepat, menatap tidak percaya pada orang yang saat ini tengah bersikap sok akrab dengan Januar.


"Januar aku kangen banget sama kamu. Udah lama kita enggak ketemu ya," dengan nada riang wanita berwajah cantik itu terus saja berusaha berinteraksi dengan Januar, walaupun pria itu terlihat bingung.


"Janu kamu lupa sama aku? aku-,"


"Kamu siapa? enggak sopan meluk orang sembarangan. Apa lagi di depan istrinya, lihat Mia-nya Janu sampai kaget kayak gitu!"


Januar melepaskan dekapan itu dengan kasar, kedua matanya menatap tidak suka pada wanita berambut panjang yang terlihat sama terkejutnya.


"I-istri?" beonya.


Kedua mata wanita itu bergulir pelan pada Mia. Memindai Mia dari atas hingga bawah, dahi sang wanita mengernyit kala melihat gadis yang Januar klaim sebagai istrinya.


Tidak lama tawa kecil wanita itu terdengar, tawa yang terkesan tidak percaya dan menyepelekan.


"Kamu bercanda? astaga- aku hampir percaya kalau kamu memang udah nikah Januar. Aku tahu Julian gak bakalan biarin adik kecilnya nikah duluan." ucapnya lagi. Wanita itu melangkah menjauhi Januar dan Mia, dengan tawa yang masih menggema.


Sepertinya ucapan Januar hanya bualan baginya. Entah kenapa wanita itu tidak percaya pada ucapan januar, apa yang membuat dia berpikir kalau Mia bukan istri sah seorang Tuan Muda Januar. Padahal sudah jelas kedua telinganya mendengar, Januar mengatakan kalau gadis yang ada di sisinya saat ini adalah istrinya.


"Mama mau menemui Febby dulu." Nyonya Arista ikut angkat bicara. Wanita setengah baya itu berlalu begitu saja, setelah dia mengusap pucuk kepala putranya.

__ADS_1


Tanpa ingin menoleh atau pun melirik pada Mia yang berdiri tepat di sisi Januar. Mia terlihat seperti makhluk tak kasat mata- terabaikan. Tanpa sadar gadis itu mencengkram erat pinggiran mangkuk yang tengah dia pegang.


"Ayo kita ke kamar. Janu mau makan salad yang Mia buat,"


Januar meraih mangkuk yang ada di tangan istrinya. Kedua sudut bibirnya terangkat, saat melihat Mia menatap ke arahnya.


" Mas Janu?"


Panggilan Mia membuat langkah Januar terhenti. Pria itu menoleh, mulutnya terus saja mengunyah salad yang baru saja dia nikmati. Kedua manik mata indah Januar menatap dalam pada Mia, bahkan Mia terlihat salah tingkah di buatnya. Januar perlahan mundur- kembali mendekat pada Mia yang masih tertanam di tempatnya.


"Mia kena-,"


Gadis itu menunduk, dia tidak tahu harus memberitahukan pada Januar atau tidak perihal kedatangan kakaknya. Tapi kalau dirinya tidak memberitahukan hal ini pada Januar, dia yakin kalau suaminya akan terkejut nantinya.


"Apa yang harus aku lakuin? kak Mira pasti bakalan tahu kalau aku-,"


"Mia malu ya punya suami autis kayak Janu?" sela Januar cepat.


Mia tersentak, kepalanya mendongak tinggi mendengar ucapan Januar yang tidak pernah ada di benaknya. Tidak, bukan itu yang Mia pikirkan saat ini. Dia tidak pernah malu atau pun enggan mengakui Januar sebagai suaminya. Mia hanya tidak tahu apa yang akan Amira lakukan saat ibu satu orang anak itu tahu- kalau dirinya sudah menikah secara diam diam, dan secara mendadak.


Apa yang akan Amira dan kakak iparnya pikirkan tentangnya nanti?

__ADS_1


"Kenapa Mas Janu ngomong kayak gitu? Mia enggak pernah malu. Kenapa Mas Janu selalu berpikiran kayak gitu sama Mia. Apa Mia emang enggak pantes ya buat dampingin Mas Janu? dari dulu ngomongnya kayak gitu terus,"


Mia mengalihkan tatapannya ke arah lain, tenggorokannya tercekat. Dadanya terasa sesak, matanya memanas- entah kenapa dirinya merasa rendah setelah melihat sikap yang di tunjukan Nyonya Arista dan wanita yang memeluk Januar tadi.


Wanita itu saja sampai tidak percaya kalau dia adalah istrinya Januar. Apa sebegitu tidak pantasnya gadis biasa sepertinya, yang dulunya hanya menjadi seorang pengasuh anak berkebutuhan khusus- yang menjelma menjadi istri dari Tuan Muda yang di asuhnya.


"Harusnya Mas Janu tau, gimana perasaan Mia selama ini. Mia jadi makin merasa enggak pan,"


Belum sempat Mia menyelesaikan ucapannya, Januar sudah terlebih dahulu memeluknya. Mendekat erat seakan tidak ingi lagi melepaskan tubuh Mia.


"Enggak! Mia malah terlalu sempurna buat Janu. Makanya Janu berusaha belajar biar makin pintar, Janu enggak mau bikin Mia malu kalau ketemu sama orang. Janu mau jadi suami Mia yang baik, maafin Janu,"


Dada Januar dan Mia bergemuruh, keduanya terisak pelan- saling menyadari kekurangan yang di miliki. Kekurangan yang begitu nyata di mata orang lain, terlihat remeh serta mudah di kalahkan. Tanpa orang lain tahu, bahwa sebenarnya Mia dan Januar tengah saling melengkapi dan menyempurnakan kekurangan diri satu sama lain.



**PELUK JAUH MBAK MIA 😭😭😭


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2