
Disinilah Mia dan Januar sekarang, duduk bersama di satu meja dengan Nyonya Arista, Julian dan Febby- gadis berambut pirang yang Nyonya Arista bawa tadi siang.
"Emm- Mia?" Julian melipat bibirnya, dia melirik ragu pada Mia, karena lewat sudut matanya- Julian dapat melihat Januar tengah melirik tajam padanya.
"Iya," sahut Mia pelan.
Dia tidak tahu harus menjawab apa, gadis itu sempat melirik pada Januar yang diam diam meraih jari telunjuknya di bawah meja.
"Apa orang tua Maura ada di kota ini? maksudnya enggak lagi pergi ke mana pun- keluar kota apa keluar negeri begitu?" Julian terlihat mengusap tengkuknya kikuk, pria itu tersenyum canggung kala melihat wajah bingung Mia.
"Kayaknya enggak deh, Om Halim ada kok di rumahnya. Paling keluar kota buat bisnis doang, emangnya kenapa?" Mia menatap penasaran, kedua netra bulatnya menatap menyelidik pada Kakak iparnya.
"Eng-enggak ada apa apa kok. Mau lebih kenal lagi aja sama calon mertua." cetusnya.
"Uhuk!"
Kedua wanita yang ada disebelah Julian terbatuk keras, keduanya reflek meraih air di gelas yang sama- namun dengan tidak berperasaan nya Julian malah meraih gelas itu lalu meneguknya hingga tandas.
"Mama kenapa? kok kayak kaget gitu denger omongan aku. Bukannya itu omongan biasa ya, kan Mama tau kalau aku udah serius sama Ara!"
Julian mengabaikan Nyonya Arista yang terlihat tidak menyukai ucapannya, namun sepertinya Julian sama sekali tidak ingin menanggapi wajah tak bersahabat sang Mama.
__ADS_1
"Kamu u-dah punya pacar?" kali ini Febby angkat bicara.
Febby menatap bergantian pada Julian dan Nyonya Arista. Sementara Januar dan Mia terlihat kembali melanjutkan makannya. Sepasang suami istri itu terlihat tenang dan tidak mau ikut campur.
Terlebih Mia, dia akan bersuara saat ada yang memerlukannya- kalau tidak Mia akan lebih memilih untuk diam. Dia tidak mau kalau semakin membuat Nyonya Arista tidak menyukainya, yang terpenting untuknya saat ini- dirinya bisa membuat Januar selalu tersenyum.
Mia tengah mempersiapkan mental dan jawaban yang sebentar lagi akan mencecarnya saat Amira dan suaminya kembali.
"Tante Rista enggak pernah bilang kalau Julian sudah punya pacar." Febby tersenyum tidak percaya, gadis itu menaikan salah satu sudut bibirnya. Terkesan sinis dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Memangnya kenapa kalau gue punya cewek? gatel pantat lo kalau gue punya cewek!" mulut pedas Julian tidak dapat di tolerir lagi. Pria berdimple di dagu itu menatap tak berminat pada Febby.
"Julian!" sentak Nyonya Arista.
"Tante juga enggak tahu kalau Julian udah punya pacar. Tapi Tante pastiin kalau semuanya akan baik baik saja," bujuk Nyonya Arista.
"Ma! Mama apa apaan sih, maksud Mama apa ngomong kayak gitu sama Febby?!" sentak Julian tidak terima.
Biarlah dia cap anak durhaka saat ini karena menaikan nada suaranya, tapi demi apa pun Julian tidak menerima dan segera paham maksud ucapan Mamanya.
"Jangan bilang Mama mau jodohin aku sama dia?! astaga Ma, Mama kenapa sih? Mama suka banget maen jodoh jodohan kayak gini, ini abad ke 21 Ma bukan jaman Majapahit!"
__ADS_1
Julian meraup wajahnya frustasi, selera makannya hilang. Kedua matanya menyipit tidak suka pada Nyonya Arista, bahkan Julian terdengar berdecih pelan kala melihat Febby menunduk untuk menyembunyikan wajah sendunya.
"Julian kayak Janu ya, di paksa nikah padahal enggak suka. Dulu Mama juga maksa Janu nikah sama April, tapi Janu udah nikah sama Mia- jadi Mama enggak mau jodohin Janu lagi," ujar Januar santai, bahkan pria berkaos putih itu terlihat lahap memakan makan malamnya.
Januar tidak peduli dengan tatapan orang orang yang ada didekatnya. Mia yang sedari tadi diam ikut menahan napas, dia tidak menyangka kalau Januar akan berbicara seperti itu.
"Mas Janu?" bisik Mia, gadis itu menarik ujung kaos yang di pakai oleh suaminya.
Mia merengkuh lengan Januar, membisikan sesuatu agar pria itu menoleh ke arahnya.
"Julian nikah aja sama pacar Julian, kalau Julian nikah pasti Mama enggak bakalan maksa Julian buat nikah sama Febby." cetusnya lagi.
Mia semakin meringis, gadis itu meletakan dahinya di lengan atas suaminya- bahkan mengigit gemas lengan berotot itu hingga Januar menoleh dengan tatapan heran.
"Kenapa Mia gigit Janu? peluk aja enggak usah gigit, sakit tangannya,"
Astaga Mia di buat speechless dibuatnya, Mia semakin terpejam. Dia tidak mau melihat siapa pun, Mia yakin kalau saat ini diantara manusia berempat itu tengah perang dingin.
"Oke, besok gue bakalan nikahin Maura. Bagus juga ide lo, enggak sia sia gue ajarin lo jadi cowok bener!" tukas Julian, dengan senyuman sinis yang tercipta di bibir tipisnya.
__ADS_1
ADA YANG KANGEN SAMA MAS JANU😘😘😘😘
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA😘😘😘