Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 45 Mas Janu


__ADS_3

"Sah?"


"Sah!"


Mia memejamkan kedua mata, napasnya berhembus lega saat para saksi mengesahkan ucapan ijab kobul Januar. Mia hampir di buat serangan jantung, karena Januar harus mengulang ijab kobul.


Bukannya Januar tidak bisa, namun menurut para saksi suara Januar terdengar kecil dan tidak tegas.


"Selamat, kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Jaga hubungan kalian baik baik, bicarakan dengan otak dingin jika kalian tidak sejalan. Nak Janu, sekarang kamu sudah menjadi seorang suami- jadi mulai saat ini Nak Almia bertumpu di pundak kamu. Jadilah suami yang baik, dan buat Nak Almia- jadilah istri yang berbakti. Semoga Allah memberikan rahmatnya pada keluarga kalian,"


"Aamiiin!" sahut para warga.


Mia dan Januar mengaminkan doa Pak Penghulu, keduanya masih terdiam- Mia malah terlihat canggung saat Januar meliriknya diam diam.


"Kalau begitu saya pamit Pak RT, jangan lupa minggu depan kedua pengantin harus datang ke kantor KUA untuk mengambil buku nikah dan menyerahkan syarat nikah yang kurang."


"Baik Pak Penghulu!"


Mia menjawabnya pelan, jujur saat ini dirinya masih tidak percaya kalau sudah menikah dengan Januar. Tuhan mengabulkan doa Januar secara ekspres. Ternyata benar, doa anak yatim itu langsung di ijabah sama Yang Maha Kuasa. Lalu apakah kalau Mia meminta pada Tuhan, doanya akan cepat terkabul?


Mia meminta agar Nyonya Arista dan Eyang Putri tidak murka, saat mengetahui kalau dia dan Januar sudah menikah malam ini. Semoga Tuhan mengabulkan doa anak yatim piatu sepertinya.


Belum lagi kakak serta kakak iparnya, sepasang suami istri itu pasti akan menginterogasinya saat mereka tahu, cepat atau lambat.


"Saya kira Neng Almia mau nikah sama abdi negara kayak Amira. Eh ternyata nikah sama cowok kayak gitu, lihat dia nunduk terus kayak gak berani sama orang. Padahal anaknya Buk Cokro dulu naksir berat sama Neng Almia. Udah ganteng, abdi negara, gagah, pastinya gak kayak suaminya yang ini."

__ADS_1


Januar menunduk semakin dalam, pria berkaos dan bersarung itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun setelah kepulangan Bapak Penghulu dan para warga.


Terlebih saat dia mendengar celetukan ibu ibu yang melintas di dekatnya. Januar sudah biasa mendapatkan perlakukan seperti itu, disepelekan dan di rendahkan.


Benarkah dia tidak pantas untuk Almia? seburuk itukan dirinya di mata mereka?


"Janu?"


Panggilan lembut Mia sama sekali tidak membuat Januar tersadar dari lamunannya. Pria itu tetap menunduk, menatap kosong kearah lantai.


"Janu?"


Mia memanggil suaminya untuk kedua kalinya. Tepukan kecil yang di berikan Mia berhasil membuat Januar menoleh.


Gadis itu tersenyum tipis melihat Januar menatapnya. Pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu terlihat menggemaskan saat memakai kaos putih, sarung dan kopiah. Sudut bibir Mia berkedut geli, baru pertama kali ini dia melihat seorang pengantin pria memakai kaos di acara ijab kabulnya. Mia tidak menyadari, kalau dirinya juga sama kacaunya- Mia hanya memakai gamis putih milik Amira kakaknya.


Januar mulai bersuara, tatapan lembut namun terlihat serius begitu menghipnotis Mia. Gadis bersanggul asal itu membalas tatapan Januar tidak kalah serius.


"Iya, apa yang mau Janu tanyain?"


Januar menghela napas pelan, pria itu memejamkan kedua matanya sejenak- lalu kembali menatap lekat pada istrinya.


"Maafin Janu ya,"


Mia mengernyitkan dahi, gadis itu belum bersuara- dia membiarkan Januar mengeluarkan semua yang ada didalam hatinya.

__ADS_1


"Gara gara Janu, kita di nikahin orang. Kalau aja Janu enggak pergi dari rumah, terus Mia enggak bawa Janu kesini- pasti kita enggak bakalan-,"


Ucapan Januar terhenti, tubuhnya menegang saat Mia menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Mia menggeleng pelan, dengan perlahan gadis itu menggeser tubuhnya. Tubuh Januar mematung, kala Mia meletakan kepala di dadanya.


Kedua tangan Mia melingkar erat di tubuhnya, gadis itu memejamkan kedua mata- merasakan detak jantung Januar yang mulai menggila.


"Janu seneng gak nikah sama Mia?"


Gumaman Almia masih dapat di dengar oleh Januar. Pria itu mengangguk cepat, perlahan kedua tangannya naik untuk membalas dekapan istrinya.


"Janu seneng banget. Janu bisa sama Mia terus."


Mia mengembangkan senyumnya, dekapannya semakin mengerat. Bahkan tanpa sadar Mia memberikan kecupan kecil di rahang Januar saat dirinya mendongak.


"Kalau gitu, Janu enggak usah ngomong macam macam lagi. Mia juga seneng nikah sama Janu, Mia sayang Mas Janu,"


Mia melipat bibirnya rapat, mulut tidak tahu dirinya semakin berani saja. Bahkan mulutnya sudah berani memberikan panggilan sayangnya pada Januar.


Mas Janu, Januar tersenyum mendengarnya. Panggilan itu terdengar begitu manis.



**MAS JANU ENGGAK BISA BOBO MIA


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘**


__ADS_2