
Gerakan tangan Nyonya Arista berhenti di udara, dia terlihat ragu untuk menggapai handle pintu di depannya. Berkali kali wanita setengah baya itu menghela napas kasar, detak jantungnya bergemuruh.
Sejujurnya Nyonya Arista belum sanggup untuk bertemu putra bungsunya, apa lagi harus melihat wajah tidak bersahabat yang akan di tunjukan Januar padanya nanti.
Namun setelah dia memikirkan ucapan Julian, merenunginya, melihat lagi kebelakang, rasa bersalah dan egois terasa sangat menghantuinya. Dia memang berstatus hanya sebagai ibu sambung bagi Januar, orang asing yang masuk kedalam hidup pria lugu itu sejak 24 tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Januar masih berusia 1 tahun.
Awal pertemuan yang langsung membuat Nyonya Arista jatuh cinta pada sosok kecil yang selalu menatap penuh binar padanya. Uluran tangan kecil itu selalu membuat dia bergetar, kedua tangannya menghangat kala ada dua tangan kecil yang terus menggenggamnya setiap waktu.
Julian dan Januar, dua sosok yang selalu membuatnya merasa menjadi wanita sempurna, terlebih ada pria yang mau menerima dirinya serta Julian tanpa syarat.
"Maafkan aku Mas, Mbak- aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Januar. Maafkan Mama Janu."
Arista bergumam lirih, kedua matanya menatap lurus ke depan- dalam hatinya bertekad, kalau dirinya akan berbicara dari hati ke hati dengan Januar. Tadi pagi Nyonya Arista sudah menyuruh Febby pulang, walaupun gadis itu menolak dan sangat tidak mau- Nyonya Arista memaksa demi kebaikan semuanya.
Cleek!
Pintu terbuka, Nyonya Arista segera masuk kedalam ruang rawat Mia. Saat ini Mia sudah di pindahkan ke ruang rawat kelas VVIP, atas kemauan Januar- saat pria itu kembali dari kediaman Rajendra.
Langkah Nyonya Arista terhenti sejenak, kedua netra sendunya menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Helaan napas kembali terdengar, dengan yakin wanita setengah baya itu kembali melangkah mendekat pada mereka.
"Mama?" gumam Julian.
Dahi pria itu berkerut melihat kedatangan Mamanya, namun tidak dapat di pungkiri kalau dia juga senang akhirnya Sang Mama mau mendengarkan ucapannya.
"Eyang pikir Mama mu enggak bakalan kesini. Gara gara ngelonin anaknya si Baskoro, untung saja Eyang enggak pulang ke rumah. Kalau Eyang sampai pulang, udah Eyang tendang tuh si Febby!"
Semua orang yang ada di ruangan itu menahan senyuman, kala mendengar ocehan Eyang Putri. Wanita sepuh itu memang baru kembali ke kota ini, sebenarnya kemarin Julian yang menjemputnya di bandara tanpa memberitahu Sang Mama.
Julian bahkan tidak membawa Eyang Putri pulang kekediaman Rajendra, melainkan ke rumah sakit di mana Mia tengah di rawat saat ini. Eyang Putri sempat mengomel pada kedua cucunya karena tidak memberitahu dirinya dari jauh jauh hari.
Apa lagi saat Januar menceritakan kalau Mia terluka karena ingin menyelamatkannya, kalau saja Mia tidak mendorongnya mungkin saja dirinya yang menempati ranjang rumah sakit sekarang. Eyang Putri juga semakin geram, saat Julian bercerita kalau Sang Mama mau menjodohkannya dengan Febby, anak dari pengusaha garmen yang bernama Baskoro Raharjo.
__ADS_1
Dan yang lebih membuat Eyang Putri murka adalah, saat Januar menceritakan kalau orang yang menabrak Mia itu adalah Febby, dan Sang Mama malah ingin melindungi serta menyembunyikan kenyataan itu dari mereka.
"Ibu sudah pulang? kenapa ibu enggak pulang ke-,"
"Saya mending di sini nungguin cucu mantu saya, dari pada harus satu rumah sama orang yang sudah menabrak cucu saya. Heh Arista, kamu enggak tau ya kalau Mia itu celaka gara gara menyelamatkan anak kamu, terus kenapa kamu malah mau melindungi penabraknya. Dimana otak sama pikiran kamu Arista?!"
Eyang Putri sudah tidak bisa menahan emosinya. Raut wajahnya terlihat begitu kesal.
"Maaf Bu, aku memang salah. Enggak seharusnya aku bersikap egois pada kedua putraku. Julian, Janu, maafin Mama ya. Mama-,"
Belum sempat Nyonya Arista menyelesaikan ucapannya, Januar sudah terlebih dahulu menubruk tubuhnya. Jujur selama beberapa hari ini Januar membohongi dirinya sendiri, sebenarnya dia sangat merindukan Arista, ingin memeluk wanita itu, bermanja, dan menceritakan semua hal yang baru dia rasakan saat bersama Mia.
"Janu udah maafin Mama," gumamnya.
Ekor mata Januar melirik pada Julian yang masih belum bergerak dari tempatnya. Decakan kecil keluar dari bibir pria berdimple di dagu itu, walaupun tak ayal Julian akhirnya mendekat pada adik dan Mamanya. Memeluk kedua orang itu, bahkan menggumamkan kata maaf pada Sang Mama.
Tidak jauh dari ketiganya, Mia menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum tipis saat melihat suami serta Mama mertuanya telah berbaikan. Mia sebenarnya juga terkejut, saat mengetahui kalau mobil yang menabraknya itu ternyata milik Febby. Karena selama dirinya di rawat, Januar belum pernah menceritakan apa pun padanya. Mungkin Januar tidak ingin dia berpikir berat sebelum sehat total.
Mia menoleh, kedua netranya begitu berbinar mendengar penuturan wanita sepuh yang ada di sisinya. Mia tidak menyangka, kalau Eyang Putri mau menemui kakak serta kakak iparnya.
"Iya Nyonya Eyang, nanti Mia-,"
Belum sempat Mia berbicara, pintu ruang rawat inapnya kembali terbuka. Diambang pintu sudah ada 3 orang dewasa dan satu bocah laki laki berusia 4 tahun tengah menatap ke arah mereka.
"Kak Amira?" lirih Mia.
Bukan hanya Mia yang terkejut melihat kedatangan Amira dan yang lainnya, tapi juga Eyang serta ketiga orang yang masih berpelukan satu sama lain.
"Apa itu kakak kamu?" Eyang Putri berbisik.
Mia mengangguk, tangannya memilin ujung selimut rumah sakit yang membalut tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
Mia melihat Amira dan kakak iparnya mendekat, sedangkan Maura- sahabatnya itu memilih untuk membawa keponakannya duduk di sofa.
"Gimana keadaan kamu? maaf kakak kesiangan datangnya," Amira membelai wajah adik semata wayangnya.
Ekor matanya melirik pada wanita sepuh yang tidak jauh darinya. Amira tersenyum ramah, dan senyumannya itu di balas oleh Eyang Putri tidak kalah ramah.
"Perkenalkan, saya Amira kakak Almia."
Amira mengulurkan tangannya, senyuman ramah masih terpatri di wajah ayunya.
"Saya Rosita, Eyangnya Januar. Saya senang bisa bertemu dengan kakaknya cucu mantu saya. Maaf, karena kami sudah lancang menikahkan mereka tanpa-,"
"Tidak apa apa Bu, mungkin mereka sudah berjodoh. Saya cuma berharap, tolong jaga Mia selama saya tidak ada di sini, karena saya tidak bisa meninggalkan suami dan anak saya. Apa lagi saat beliau bertugas, mau tidak mau saya harus ikut selama putra kami belum memasuki jenjang sekolah." Amira menatap penuh permohonan. Kedua matanya menyiratkan banyak hal, apa yang di ucapkan Amira memang benar dirinya tidak dapat selamanya bersama Almia.
Saat ini Amira berharap kalau Januar dan keluarganya akan menjaga Mia selama dia tidak ada.
"Kamu tenang saja, saya berjanji akan menjaga Mia dengan baik." bukan, itu bukan Eyang Putri yang menjawab, melainkan Nyonya Arista yang masih di peluk oleh kedua putranya.
"Terimakasih," ujar Amira tulus.
Wanita beranak satu itu kembali menatap Mia dengan wajah bahagia, sedangkan Mia masih terkejut dengan pernyataan Mama mertuanya. Dia tidak menyangka kalau Nyonya Arista akan berbicara seperti itu. Apa itu artinya Nyonya Arista merestui pernikahannya dengan Januar sekarang?
"Ekhem! aku juga mau mengenalkan seseorang sama Mama dan Eyang." Julian mulai berbicara, pria itu melepaskan dekapannya- perlahan mundur mendekat pada Maura yang tengah bermain bersama putra Amira.
"Perkenalkan, ini Maura. Dia calon istri aku Ma, Eyang, aku minta restu dari kalian dan tolong lamarin dia buat aku. Tolong, aku udah enggak tahan lihat Mia sama Janu, Mama please ngertiin aku kali ini aja!" Julian menatap penuh harap pada Mamanya, bahkan pria itu terdengar merengek seperti anak kecil.
Maura bahkan terlihat mengernyit geli mendengar rengekan kekasihnya.
**OTW BOBOL WKWKWK
__ADS_1
SEE YOU MUUUUAAAACHH😘😘**