Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 44 Dadakan


__ADS_3

Mia berusaha tenang, tatapan para warga yang begitu menusuk berusaha dia abaikan.


Sudut matanya melirik pada Januar, yang saat ini tengah menunduk sembari memainkan rubik nya.


Mia sengaja memberikan benda itu pada Januar, setelah dia mengganti pakaian Januar. Untung saja ada beberapa kaos Sang Ayah dan celana pendeknya yang masih tersimpan rapi di dalam lemari.


Warga sempat tidak terima, tapi Mia menjamin kalau mereka tidak melakukan hal yang macam macam.


Dan kini, Mia dan Januar tengah mereka sidang. Bahkan beberapa dari mereka sudah memanggil penghulu yang tidak jauh dari area komplek.


"Jadi, sekarang kita harus apakan mereka bapak bapak?"


Mia memejamkan kedua matanya, tuduhan mereka benar benar tidak tanggung. Mia dan Januar di sangka sudah melakukan hal senonoh di dalam kamar mandi.


"Maaf, tapi saya dan Janu enggak macam macam Pak. Saya cuma bantu dia buat man-,"


"Nah kan, kalian dengar sendiri. Mereka mandi bareng, astaga ini gila! jaman memang sudah berubah, cowok sama cewek mandi bareng adalah hal lumrah. Mau jadi apa negara kita ini?"


Mia semakin mengigit bibirnya gemas, orang orang yang tengah menginterogasinya terlihat sudah di buta kan oleh amarah.


"Saya mau tanya sama cowoknya. Sekarang apa yang mau kamu lakukan?"


Januar yang sedari tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Menatap ragu pada orang orang yang tengah menghakiminya.


Januar perlahan menggerakkan kedua bola matanya, menatap lekat pada gadis yang ada di sisinya.


"Janu- Janu mau nikah sama Mia."

__ADS_1


Pria yang bertanya tadi menatap tidak percaya, beberapa ibu ibu saling berbisik mendengar suara pelan Januar.


"Cowoknya kenapa ya? kok kayak anak kecil gitu suaranya, enggak tegas." bisik salah satu dari mereka.


"Iya, lihat dari tadi dia cuma mainin kotak. Enggak ngomong apa apa, sebenarnya dia kenapa?" timpal mereka lagi.


"Kayak cowok idiot ya!"


"Masa iya Almia mau sama cowok idiot? dia cantik pintar sekolah tinggi, masa dapat cowok kayak begitu. Ganteng sih, tapi kalau dongo dan gak tegas buat apa, beban aja!"


Mia yang tengah menunduk, terlihat mengepalkan kedua tangannya terkepal erat- saat mendengar bisikan pedas para ibu ibu kompleknya.


Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap serius pada aparat RT yang juga tengah menatapnya dan Januar.


"Kalian mau di nikahkan? jangan main main dengan pernikahan, kalian berdua harus memanggil kel-,"


Mia menyela ucapan Pak RT, tatapannya terlihat serius. Tidak pernah Mia seserius ini sebelumnya, gadis itu menoleh pada Januar. Memberikan senyuman manisnya, meraih satu tangannya- membuktikan kalau semuanya akan baik baik saja.


'Aku tidak peduli orang mau menilai kamu apa, aku mencintai kekurangan dan kelebihan kamu Janu,'


Mia bersuara didalam hati, kedua netranya menatap lekat pada Januar. Dia sudah memutuskan untuk menerima usulan para warga, Mia tidak peduli walaupun harus menikah karena salah paham.


"Kalian serius?"


Pak RT kembali bertanya, pria setengah baya itu masih tidak yakin. Bisa saja karena terdesak, keduanya memilih opsi yang mudah, yaitu menikah. Dan setelah menikah keduanya bisa saja berpisah, karena tidak memiliki persiapan hati.


"Janu mau nikah sama Mia!"

__ADS_1


Kini Januar kembali bersuara, pria berwajah baby face itu menatap yakin. Januar memberanikan dirinya, dia harus bisa melindungi Mia-nya.


"Baiklah, sekarang yang jadi masalahnya- apa mas kawin kalian?"


Mia terdiam, otak gadis itu blank. Dia tidak memikirkan hal itu, apa yang harus di jadikan mas kawin mereka berdua.


Mia masih berpikir, otaknya masih berputar untuk mencari sesuatu yang-


"Janu cuma punya ini. Ini kalung punya Mama Janu yang udah pergi. Janu mau ngasih ini buat Mia!"


Mia tersentak, kedua matanya mengerjab pelan. Tatapan Mia tertuju pada kalung putih yang berliontin kan berlian, yang selalu terpasang di leher Januar.


Mata Mia memanas, tenggorokannya tercekat, dia tidak menyangka kalau Januar memiliki pikiran itu.


"Ini bisa di jadikan mas kawin kalian. Silahkan Pak Alkan, nikah kan mereka. Wali nikah perempuan ada di tangan anda, karena Ayah kandung dari si perempuan sudah meninggal dunia,"


Pak Penghulu mendekat, tatapannya terlihat tenang- namun semua orang tahu kalau ada beban yang siap dia tanggung sebagai wali dan orang yang menikahkan anak gadis orang.


"Terimakasih, Insya Allah saya akan menjalankannya dengan baik. Mari Nak Janu, kita berbicara sebentar," ujar lembut pria setengah baya, yang memiliki lesung pipi itu.



**PAK PENG, AKU KANGEEEEEEEENNNN AKU BERHARAP KAMU BISA MASUK WEB SERIES PASTI KEREN 😫😫


ET DAH TINGGI AMAT CITA CITA LU THOR😜


SEE YOU NEXT TOMORROW

__ADS_1


BABAYYY MUUUUAAACCHH😘😘**


__ADS_2