
Januar memilin ujung piyama rumah sakit yang di pakai Mia. Pria itu mengalihkan tatapannya pada Mia, enggan menatap pria berpakaian tentara yang tengah mengintimidasinya.
Sudah hampir 30 menit lamanya Januar di interogasi, terlihat menegangkan bagi Mia, Julian dan Maura- namun sepertinya tidak untuk Januar. Pria berwajah tampan itu terlihat tenang dan biasa saja.
"Jadi, kenapa kalian bisa menikah? dan kenapa tidak mengabari kami. Apa kamu sudah lupa kalau kakak dan kakak ipar mu ini masih hidup, Almia!"
Bibir Mia mengatup rapat mendengar kakak iparnya terus saja mencecar, perlahan Mia mengangkat wajahnya- memberanikan diri untuk menatap kedua kakaknya.
Walaupun sedari tadi Amira diam, namun Mia sangat tahu kalau kakak kandungnya itu sudah mempercayakan semuanya pada pria yang menjadi suaminya.
"Warga salah paham Kak. A-aku juga mau jujur sama kalian," Mia menelan saliva susah payah.
Helaan napas pelan kembali terdengar dari mulutnya. Mungkin saat inilah dia harus jujur tentang pekerjaannya selama ini. Mia tidak ingin kedua kakaknya menyalahkan Januar.
"Kamu berbohong apa sama kami?" kini Amira ikut angkat bicara, ibu satu orang putra itu menatap tajam pada adiknya.
Amira yang di didik keras dan sudah mandiri sejak kecil, merasa tidak berguna sebagai kakak saat ini karena tidak mengetahui apa pun tentang adiknya sendiri. Adik yang dia rawat sejak kedua orang tua mereka tiada, Amira yang ingin berbakti pada suaminya harus rela meninggalkan Almia sendiri setelah gadis itu lulus kuliah.
"A-aku, aku sebenarnya enggak kerja di dinas sosial kak." cicitnya.
Kedua alis Amira menukik, tatapannya semakin tajam- raut kecewa sangat ketara di wajahnya. Namun sepertinya Amira berusaha menahannya agar tidak meledak, terlebih saat merasakan usapan lembut di punggungnya.
"Dengarkan Mia berbicara?" bisik sang suami.
Amira menarik napasnya dalam, perlahan raut wajahnya berangsur tenang.
__ADS_1
"A-aku kerja sebagai pengasuh anak berkebutuhan khusus, membantu yayasan. D-dan, dan Janu adalah salah satu anak yang aku asuh." imbuhnya lagi.
Mia mengigit bibirnya, tangannya menggenggam erar lengan Januar. Bahkan tanpa sadar Mia merapatkan tubuhnya pada Januar untuk mencari perlindungan, saat melihat kedua biji mata Amira siap keluar dari tempatnya.
"Jadi, dia-,"
"Iya kakak ipar, aku adalah pria autis. Maafkan aku karena sudah menikahi adik mu tanpa izin, maaf karena pria yang tidak sempurna ini- sudah berani mencintai gadis sempurna seperti adik mu. Maafkan aku, karena aku dengan tidak tahu dirinya sudah berani menyayangi Almia. Maafkan aku-,"
Ucapan Januar terhenti saat Mia memeluknya dari belakang, gadis itu menumpahkan air matanya. Mia tidak ingin lagi mendengar Januar merendahkan dirinya di hadapan kakak dan kakak iparnya.
"Maafkan aku, karena aku tidak akan pernah bisa di pisahkan dengan Almia!" imbuhnya lagi penuh ketegasan.
Kedua mata Januar menatap lurus pada Amira dan suaminya. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, yang ada hanya keyakinan didalam matanya. Kedua tangan Januar menggenggam tangan Mia yang melingkar di dadanya, memberikan remasan lembut- menyalurkan kekuatan kalau semuanya akan baik baik saja.
Di kursi lain Maura sudah menyembunyikan wajahnya pada bahu Julian. Calon dokter muda itu terisak pelan, entah kenapa ucapan calon adik iparnya itu begitu menyayat hati. Mungkin kalau orang awam yang mendengarnya, mereka akan mengira kalau Januar adalah pria normal seperti orang kebanyakan.
"Udah jangan nangis, nanti kalau Janu denger dia bisa nangis juga." bisik Julian.
Pria itu mengusap kepala Maura, memberikan ketenangan pada kekasihnya.
"Ish kamu mah, adek kamu ngomong kayak gitu gak ada haru harunya. Kakak macam apa kamu Jul!" cebik Maura kesal.
Julian hanya terdiam, pria itu mengatupkan bibirnya rapat. Tidak ingin membalas, kalau dirinya membalas bisa panjang urusannya.
"Tapi kamu sudah menikahinya tanpa izin kakaknya. Dan kenapa kalian bisa menikah, bukannya kalian pengasuh sama-,"
__ADS_1
"Itu sudah takdir Tuhan Bu Persit. Adik saya dan Mia sudah dijodohkan sama Tuhan, kalian berdua tenang aja deh- saya yakin 1000% Januar bisa bertanggung jawab selayaknya suami. Dia memang pria berkebutuhan khusus, adik saya autis sejak dia balita karena sakit. Itu kata Mama kita, tapi jangan pernah raguin otaknya. Dia bisa bobol banyak data perusahan nakal yang berani nyerang perusahaan keluarga Rajendra." sela Julian.
Entah kenapa hatinya merasa gosong saat mendengar Januar terus saja merendahkan diri di depan orang lain.
"Jangan kan bobol data perusahaan, bobol adik kalian aja udah bisa dia!" ceplosnya lagi.
Maura yang sedari bersandar di lengannya langsung mendelik, begitu pula dengan Mia. Mulut Julian memang tidak bisa di filter, Maura bahkan memberikan cubitan mautnya di paha Julian.
Bisa bisanya Julian bercanda di situasi seperti ini, batin Mia dan Maura.
"Iya, aku pinter bobol. Bobol apa aja bisa, ya kan Mia."
Astaga ini lagi!
Mia semakin menenggelamkan wajahnya di punggung Januar, bahkan dengan gemas Mia membenturkan kepalanya pada punggung lebar suaminya.
Sedangkan Amira dan suaminya hanya saling lirik, lalu kedua orang itu terlihat menghela napas secara bersamaan.
"Temukan kami dengan orang tua kamu besok!" tegas Amira.
Januar menoleh, kedua netra keduanya bertemu saat Mia mengangkat wajahnya. Sepasang suami istri itu mengangguk pelan, mau tidak mau Januar dan Mia harus menuruti kemauan Amira.
**YANG ATU BLOM DI BOBOL MAS JANU INGET YA
__ADS_1
SEE YOU MUUUUAACCHH😘😘**