Suamiku Autis

Suamiku Autis
Apa Pun Dilakukan


__ADS_3

Januar menatap sendu ke arah pintu kaca UGD rumah sakit. Kedua matanya terus saja mengalirkan air mata, bahkan sesekali Januar menyeka air hidungnya yang mengalir tanpa permisi.


Januar sudah terlihat seperti anak yang tengah khawatir pada keadaan ibunya. Pria berwajah tampan itu menempelkan wajahnya di kaca pembatas. Tidak peduli dengan tatapan orang orang padanya, termasuk para petugas kebersihan yang saat ini tengah bekerja.


Kalau saja petugas kebersihan itu tidak takut kehilangan pekerjaannya, mungkin sedari tadi dia sudah berteriak kencang mengatakan-


'MENJAUH DARI KACA ITUUUUUUU!'


Tapi karena tidak ingin melakukan hal itu, dan merasa tak tega saat melihat air mata pria bertubuh tinggi yang tengah mengotori kaca, wanita setengah baya itu memilih untuk undur diri, dia membiarkan Januar menangis.


Sroot!


Tangisan Januar terdengar, lirih dan seperti gumaman. Bahkan tanpa ragu Januar membuang cairan hidungnya di tissue, entah dari mana dia mendapatkannya- yang terpenting benda itu cukup membantu untuknya saat ini.


Kedua mata Januar basah kuyup, pria itu segera menjauhkan wajahnya dari kaca pembatas saat melihat tim medis sudah menyelesaikan tugasnya. Januar segera mendekat ke arah pintu, netra sembabnya menatap penuh harap pada dokter UGD yang menangani istrinya.


"Bagaimana keadaan Mia, Dokter?"


Dokter pria itu tersenyum, dia melepaskan sarung tangan karet di tangannya.


"Tidak ada yang di khawatirkan, luka di kepalanya tidak terlalu parah."


Januar menghela napas lega, dia kembali mengalihkan pandangannya pada Mia, yang saat ini tengah berbaring tidak sadarkan diri di bad hospital.


"Tapi pasien harus kami rawat selama beberapa hari ke depan, sampai keadaannya membaik. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat, silahkan anda urus segala keperluannya, kalau begitu saya permisi."


Dokter setengah baya itu berpamitan, melewati Januar dengan sopan. Sementara Januar, pria itu terlihat menunduk, dia yakin banyak hal yang harus diselesaikannya setelah Mia menempati ruang rawat inapnya.


🌺SA🌺


Januar menatap tidak rela pada Mia, saat dia harus meninggalkan istrinya sendiri. Saat ini dirinya harus menyelesaikan pembayaran rumah sakit, Januar juga bingung dengan apa dirinya membayar biaya rumah sakit.


Semua ATM didalam dompetnya tidak dia bawa, saat ini yang ada di tangannya hanya ada ponsel milik Mia dan tas kecil berisikan identitasnya dan identitas istrinya.

__ADS_1


Januar menunduk, dia menutup pelan pintu ruang rawat istrinya. Kedua kaki lemas nya berjalan pelan- menyusuri lorong rumah sakit kelas ekonomi. Januar tidak tahu kenapa perawat malah menempatkan Mia di ruangan kecil, padahal dia meminta kelas VIP.


Pria itu menghela napas pelan, kedua matanya menatap sayu ke arah resepsionis rumah sakit. Dia harus bertanya berapa biaya pengobatan istrinya dan ruang inap.


Dengan cepat Januar melangkah, pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan kala melihat antrian di resepsionis sudah tidak ada.


"Pe-permisi, apa aku bisa membayar biaya rumah sakit atas nama Almia Puspa Dewi Ra-,"


"Anda mau melakukan pembayaran?"


Januar mengangguk, pria itu memutar rubik yang ada di tangannya dengan mudah, walau hanya menggunakan satu tangannya.


"Atas nama pasien Almia Puspa Dewi, totalnya 8 juta 8 ratus ribu untuk 3 hari ke depan."


Kedua mata Januar berkedip, pria itu mengigit bibir bawahnya mendengar total biaya rumah sakit. Januar terlihat bingung, dia bingung bukan karena tidak memiliki uang- masalahnya semua uang yang Januar miliki tidak dia bawa.


"Emm- apa aku boleh-,"


"Tidak bisa! walaupun pasien berada di kelas ekonomi anda harus melunasinya sekarang, karena kalau tidak pasien tidak dapat kami tangani!"


Sepasang sepatu mahal terlihat berkilau di kedua matanya, sepatu yang menjadi kado ulang tahun dari Sang Mama satu tahun yang lalu. Januar memang tidak tahu seberapa mahal harga sepatu yang di belikan oleh Nyonya Arista, tapi dia yakin harga sepasang benda itu tidak kurang dari 20 juta.


Dengan cepat Januar melepaskan sepatunya, kedua kaki telanjangnya menginjak lantai dingin rumah sakit tanpa ragu.


"Bagaimana, apa an-,"


"Apa ini bisa di jadikan jaminan? sama KTP aku juga. Aku enggak punya uang cash, jadi harus ngambil dulu ke rumah,"


Dengan sopan Januar menyerahkan kedua sepatu dan kartu tanpa pengenalnya pada sang resepsionis. Kedua resepsionis rumah sakit itu saling tatap, terlihat bingung saat melihat wajah memohon pria tampan, namun bersikap seperti anak kecil di hadapan mereka saat ini.


"Sepatu?" bisik salah satu dari mereka.


Bahu Januar sudah melemas kala melihat kedua resepsionis itu tidak merespon. Januar sudah melipat bibirnya dalam, satu tangannya mengerat.

__ADS_1


"Ini sepatu mahal, bahkan bisa bayar biaya rumah sakit Mia sampai satu minggu ke depan!" Januar mulai tidak sabaran, dia merasa terlalu lama menunggu. Dirinya bukan pria penyabar di depan orang lain, terlebih orang itu tidak menghargainya.


Mungkin hanya Mia yang bisa membuat Januar bersabar diri sampai kapan pun.


"Kalau kalian enggak mau, tunggu di sini biar aku ngambil dulu uangnya di rumah!" tukas Januar lagi.


🌺SA🌺


Kedua kaki telanjang Januar melangkah cepat menuju ruang rawat Mia. Setelah berdebat dengan kedua resepsionis, akhirnya pria itu dapat mempertahankan argumennya. Januar menyuruh kedua resepsionis itu untuk mengecek kedua sepatunya, membuktikan kalau benda itu asli.


Setelah melalui pengecekan dan tanya kesana kemari, akhirnya kedua wanita itu menyerah. Mereka menerima jaminan yang di berikan oleh keluarga pasien.


Dan sekarang Januar tengah menuju ruang rawat istrinya, pria tampan itu bertelanjang kaki sembari menenteng tas kecil milik Mia.


Jakun Januar naik turun, tatapannya kembali menyendu saat melihat Mia masih terbaring lemah di bad hospital. Januar perlahan mendekat, dia mendudukkan diri di sisi tempat tidur. Satu tangannya terulur untuk mengusap lembut wajah pucat Mia.


Perlahan Januar menaikan kedua kakinya, satu tangannya memeluk tubuh Mia, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri. Perlahan air matanya kembali mengalir, ingatan dimana Mia tertabrak mobil demi bisa menyelamatkannya kembali terngiang.


"Maafin Janu yang enggak bisa lindungin Mia. Padahal Janu udah janji mau lindungin Mia, tapi malah Mia yang lindungin Janu,"


Januar terus saja bergumam, air mata dan isakannya terus saja terdengar. Dekapannya mengerat, namun terlihat hati hati agar tidak mengenai punggung tangan istrinya yang terinfus.


"Maafin Janu,"


Januar terus saja meminta maaf, pria itu mengangkat wajahnya. Mendekatkan bibirnya pada wajah Mia, perlahan namun pasti.


Cup!


Satu kecupan lama dan dalam Januar berikan di pipi Mia, lalu berpindah menuju pelipis istrinya yang di perban, dan berakhir di dahi nya.


"Mia istirahat ya, Janu juga mau bobo dulu." gumamnya lirih sebelum Januar menutup kedua matanya.


__ADS_1


**DEDE JANU GADAIIN SEPATU, HATI NYA DI GADAI JUGA GK YA, AKU MAU BAYARIN SOALNYA 😥😥


SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘😘**


__ADS_2