
Januar mengemas pakaian secepat mungkin, dia tidak lupa membawa dompet dan beberapa barang pribadi miliknya dan Mia. Ucapan yang di lontarkan Nyonya Arista masih terekam jelas di otaknya, kedua tangan Januar mengepal- menggenggam erat tas besar yang ada di hadapannya.
"Janu kecewa sama Mama!" sudah kesekian kalinya Januar mengatakan hal itu, sepertinya dia benar benar tidak menyangka kalau Sang Mama yang sudah dia sayangi, dan Januar anggap sebagai bidadari dalam hidupnya, kini menjelma sebagai iblis tanpa hati.
Nyonya Arista berniat menyembunyikan kebenaran, melindungi orang yang menabrak istrinya.
Januar menghela napas kasar, pria itu bangkit- kedua tangannya terlihat penuh karena membawa beberapa barang. Januar berjalan cepat menuju lift, tatapannya terlihat tidak tenang. Berulang kali Januar memilin jari jemarinya sendiri, karena hatinya merasa tidak nyaman.
Ting
Dentingan lift membuat kesadaran Januar kembali, dia bergegas keluar, kedua kaki panjangnya melangkah cepat- tanpa memperdulikan semua orang yang menatap penasaran padanya.
"Janu!"
Baru satu langkah Januar keluar dari rumah, suara panggilan seseorang membuat langkah pria itu terhenti. Napas Januar memburu, sudut matanya memicing kala melihat seseorang mulai mendekat kearahnya.
"Janu kamu sudah pulang, Sayang? Mama enggak tau kalau kamu sudah pu-,"
"Mama terkejut lihat Janu sudah pulang. Bahkan Janu sudah ada disini sejak Mama dan cewek itu mau nyembunyiin seseuatu dari Janu!" Januar mengucapkan semua yang ada didalam hatinya, dia tidak bisa memendam apa lagi menutupinya. Ini adalah salah satu sikap alami Januar, dia selalu tidak bisa berbohong saat melihat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya.
"Maksud kamu apa? Mama enggak nger-,"
"Mama mau lindungin Febby, Mama mau nyembunyiin semua ini dari Janu, padahal Mama tau yang nabrak istri Janu itu Febby. Dimana hati Mama buat Mia, Mah? Janu tau kalau Mama maupun Eyang enggak ada yang suka sama pernikahan aku dan Mia, tapi enggak kayak gini juga caranya!" Januar sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Baru pertama kali ini mereka berdebat hebat, walaupun dulu Januar pernah berdebat dengan Nyonya Arista saat menginginkan Mia, tapi hal itu tidak membuat Januar kecewa terlalu dalam.
"Janu kecewa sama Mama! Janu kira Mama bakalan tulus sama Mia, tapi ternyata Janu salah, Mama-,"
"Janu tolong dengerin Mama, kamu salah paham Sayang!" Nyonya Arista berusaha menggapai lengan putranya, namun Januar berhasil menepisnya terlebih dahulu.
"Enggak! Janu udah dengar sendiri kalau Mama bilang kayak gitu sama Febby. Janu kecewa sama Mama, Janu enggak mau lagi ketemu sama Mama, Janu enggak mau kalau Mama sama Febby nyakitin Mia lagi!"
Januar berbalik, dia kembali melangkah- meninggalkan Nyonya Arista yang terlihat tidak rela melihat kepergian putra bungsunya dalam keadaan marah.
"JANUAR! MAMA ENGGAK BERMAKSUD KAYAK GITU NAK. JANUAR MAAFIN MAMA, JANU JANGAN KAYAK GINI SAMA MAMA!"
__ADS_1
Teriakan Nyonya Arista diabaikan oleh Januar, bahkan Julian yang terlihat baru memasuki halaman rumah terlihat mengernyitkan dahinya, saat melihat interaksi Januar dan Sang Mama.
"Mama kenapa?" Julian menghadang langkah adiknya.
Pria berdimple di dagu itu menatap secara bergantian antara Januar dan Sang Mama.
"Kenapa? lo jawab dong, lo kan autis bukan bisu!" sarkasnya tidak sabaran.
"Mama lindungin orang yang nabrak Mia, Mama nyembunyiin Febby padahal cewek itu yang udah nabrak Mia!" lirihnya.
Kedua bola mata Julian membulat, tatapan tajamnya beralih pada Sang Mama yang terlihat mulai mendekat kearah mereka.
"Jadi gara gara ini kalian gak pulang?"
Januar mengangguk pelan, tubuhnya terlihat tidak bertenaga- terlebih saat dia mengetahui kalau Sang Mama malah mau melindungi tersangka.
"Dan Mama tau kalau Mia di tabrak Febby!"
Januar kembali mengangguk.
Julian menghela napas kasar, mengusap wajahnya- dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Julian mendorong tubuh Januar, pria berjas abu abu itu memaksa sang adik masuk kedalam mobil. Mengabaikan panggilan Mamanya, bahkan Julian dapat melihat wajah frustasi Sang Mama saat ini.
"Ini karena keegoisan Mama sendiri!" gumam Julian.
šŗSAš
Januar melangkah tergesa, pria itu tidak sabaran untuk bertemu dengan istrinya. Cukup lama Januar meninggalkan Mia sendiri, Januar takut kalau Mia merasa kesepian dan membutuhkan bantuannya.
Julian yang sejak tadi setia mengikuti langkah Januar, mulai berdecak kesal karena pria itu seakan melupakannya. Padahal saat ini dia lah yang membawa separuh barang yang Januar bawa.
Didepan sana Januar terlihat tidak sabaran, napasnya terengah hebat saat pria itu sudah berada di depan pintu ruangan. Tanpa mengetuk Januar masuk, senyuman manisnya mengembang- namun tidak lama senyumannya surut saat melihat ruang rawat istrinya terlihat ramai.
Kedua mata Januar mengerjab cepat, pandangannya terarah pada Mia yang tengah di peluk seseorang.
__ADS_1
"Lo kalo jalan kira kira dong, gue ketinggalan gara gara bawa barang lo yang-," Julian mengatupkan bibir, menguncinya rapat saat melihat Maura ada didalam ruang rawat Mia, bersama beberapa orang yang belum dia kenal.
Julian merapatkan tubuhnya pada Januar, melirik sang adik dengan ekor matanya. Januar masih terdiam tanpa ekspresi, pria itu tertanam di tempat sembari menatap pada Mia.
"Mereka kakak dan kakak iparnya Mia," ujar Maura.
Gadis berjas putih itu mendekat pada Julian, menatap Januar dan memberikan kode agar pria itu segera mendekat pada Mia.
"Ayolah, mereka keluarga bini lo. Kalo lo mau dapatin Mia, lo juga harus deketin keluarganya kayak gue!" Julian berbisik kecil, tangan jahilnya mencubit pinggang Januar agar adiknya tersadar.
Januar belum bereaksi, namun tidak lama setelah Julian berdecak kecil melihat keterdiamannya, Januar mulai melangkah perlahan mendekat pada Mia dan Kakak iparnya.
"M-Mia?" panggilnya.
Januar memilin jarinya, kedua matanya berkedip polos pada Mia, Amira dan suaminya- yang masih memakai seragam tentara lengkap.
Glek!
Januar menelan saliva susah payah, pandangannya teralih ada pria bertubuh tinggi besar, berambut cepak yang berdiri di sisi tempat tidur adiknya.
"Hai, a-aku Januar su-,"
"Kamu yang jadi suami adikku? kenapa kamu meninggalkan dia sendirian? dan kenapa kamu menikahinya tanpa seizin dari kami?!" pria bertubuh tinggi itu menyela cepat, menatap penuh intimidasi pada Januar.
Januar berkedip cepat, kedua matanya bergerak liar. Januar tengah mencari jawaban yang pas untuk menjawabnya, pria berwajah tampan itu menghirup napas cukup dalam, mengangkat wajahnya lebih tinggi- menatap berani pada kedua mata tajam pria yang ada di hadapannya.
"Kamu tidak bisa menjawab? kalau begini saja kamu tidak bisa, bagaimana caranya kamu bisa melindungi adikku-,"
"Aku masih berpikir, bapak sabar sebentar. Mia aja enggak pernah marah marah, kenapa bapak marah marah sama aku. Nanti aku jawab, aku cinta sama Mia makanya aku nikahin Mia!" cetus Januar spontan, bahkan wajahnya terlihat masam dan tidak bersahabat.
Kedua matanya menatap lurus, bahkan Mia yang ada di belakang tubuh besar kakak iparnya terlihat meringis mendengar ucapan suaminya. Mia menggigit ujung selimutnya gemas, sementara Julian dan Maura hanya bisa menepuk dahinya pelan.
"Dasar bocah!" geram Julian.
__ADS_1
**IYA DEDE JANU IYA
SEE YOU MUUUUAAAACCHHšš**