Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 37 Mengundurkan Diri


__ADS_3

Mia memilin jari jemarinya gugup, kepalanya tertunduk dalam saat wanita sepuh yang ada dihadapannya menatap dalam ke arahnya.


Tatapan yang membuat Mia membisu, tubuhnya membeku, lidahnya pun terasa kelu. Mia tidak dapat mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan untuk sekedar menatap Nyonya Besar Rajendra saja Mia tidak mampu.


"Apa yang mau Janu omongin sama Eyang?"


Janu yang sedari tadi memainkan rubik, namun tatapannya terus mengarah pada Mia- mengalihkan kedua matanya pada Sang Eyang.


"Janu mau nikah sama Mia!"


Tidak ada lagi basa basi, tujuan Januar menemui Sang Eyang memang untuk meminta izin, jadi Januar tidak mau membuang waktu lagi.


Tatapan cucu dan nenek itu saling terkunci, Januar menatap Eyang Putri dalam penuh harap. Pria itu berharap kalau Eyang Putri akan mengabulkan keinginannya.


"Menikah?" beo Eyang Putri.


Januar mengangguk semangat, kedua matanya berbinar. Satu tangannya meraih jemari Mia, membuat gadis itu tersentak.


"Iya, Janu mau nikah sama Mia. Tapi Mama enggak izinin Janu, Mama enggak suka kalau Janu nikah sama Mia,"


Januar menunduk dalam, jari jemari besarnya memainkan jari kecil dan lentik milik pengasuhnya. Januar terlihat sendu, dia merasa sedih karena Sang Mama tidak mau mengabulkan permintaannya.


"Kenapa Janu mau nikah sama Mia?"


Eyang Putri mulai mencecar Januar, tatapannya terlihat serius- bahkan wanita sepuh itu semakin mendekatkan diri pada Januar.

__ADS_1


"Kenapa? Eyang mau dengar apa alasan Janu? Janu tau kan, kalau menikah itu tang-,"


"Tanggung jawabnya besar, kayak Almarhum Papa," Januar menyela, menjeda sejenak ucapannya.


"Janu tau Eyang, Janu bakalan jadi kaya Papa. Janu bakalan ngelindungin Mia, sama kayak Mia yang selalu ngelindungin Janu." sambungnya.


Eyang Putri tidak berekspresi, wanita sepuh itu melirik kecil pada Mia. Gadis berambut panjang itu masih menundukkan kepalanya, sama sekali tidak berani menatap pada Eyang Putri.


"Eyang juga bisa melindungi Janu, kenapa Janu harus menikahi Mia?" Eyang Putri belum puas dengan jawaban yang di berikan oleh Januar.


"Karena Janu cuma mau sama Mia! Janu enggak mau ada orang lain yang deket sama Janu kalau Mia pergi. Eyang pasti tau, kalau Mia enggak bakalan selamanya sama Janu, iya kan?!" napas Januar memburu, tangannya mencengkram erat rubik. Tatapannya menghunus tajam pada Sang Eyang.


Januar mulai emosi karena merasa di sepelekan. Apa yang sedang di pikirkan orang lain tentangnya? apa karena dia pria autis, semua orang menganggap dirinya tidak pantas untuk menikahi wanita normal seperti Mia.


"Kalau Janu enggak nikah sama Mia, nanti Mia nikah sama orang lain. Mia enggak mungkin selamanya di sini, jadi Janu mau nikah sama Mia- Janu janji bakalan-,"


"Buktikan janji kamu. Buktikan kalau kamu bisa jadi suami yang baik, bertanggung jawab, dan menyayangi istri kamu nanti, Januar!" tegas Eyang Putri.


"Tapi sepertinya Eyang tidak melihat keseriusan Almia, sedari tadi kamu diam- kenapa Mia?"


Kali ini Eyang memfokuskan diri pada Mia. Gadis yang sedari tadi menyimak, tanpa berani menatap atau pun ikut berbicara. Mia menghela napas pelan, perlahan Sang Pengasuh menegakan kepalanya- memberanikan diri untuk menatap Sang Nyonya Besar.


Mia menipiskan bibirnya gugup, dalam diam sudut matanya melirik pada Januar yang juga terdiam.


"Apa yang harus saya katakan Nyonya Eyang? saya tidak tahu harus berkata apa. Nyonya Eyang pasti berpikir kalau saya gadis yang tidak tahu diri sekarang. Gadis yang sudah tidak tahu malunya, memanfaatkan keluguan cucu Nyonya Eyang," Mia menjeda.

__ADS_1


"Saya paham kenapa Nyonya Eyang dan Nyonya Arista tidak memberikan izin dan restu. Saya hanya anak yatim piatu, dari keluarga biasa yang memang tidak pantas untuk mendampingi Tuan Muda keluarga Rajendra. Saya mohon maaf apa bila kedatangan saya di rumah ini, hanya membuat gaduh. Tapi-," napas Mia tercekat, kedua matanya sudah berembun. Cairan bening siap tumpah, tapi Mia sekuat tenaga menahannya.


"Tapi demi Tuhan, saya ikhlas merawat Januar sepenuh hati saya. Saya tidak pernah mengharap apa pun darinya, apa lagi berharap di cintai olehnya. Saya sama sekali tidak pernah memikirkan hal sedalam itu. Apa bila Nyonya Eyang dan Nyonya Arista merasa tidak nyaman, saya akan mengundurkan diri sebagai pengasuh Tuan Muda Januar. Tapi berikan saya waktu untuk memberikan dia pengertian, apa Nyonya Eyang mengizinkan?"


Mia mengembangkan senyum mirisnya, tatapannya mengarah pada Januar yang saat ini tengah menatap sendu dan lekat padanya.


Mia yakin kalau pria itu tengah kecewa padanya. Inilah yang Mia harapkan, Januar akan kecewa dan tidak meminta pada Sang Eyang atau Mamanya untuk menikahinya.


'Maaf Janu, aku menyayangi mu. Tapi aku memang tidak pantas buat kamu, kamu terlalu sempurna.' lirihnya dalam hati.


Tanpa berkata apa pun, Januar bangkit- pria itu meninggalkan Mia dan Eyang Putri dengan perasaan tidak menentu.


"Mia mau pergi? Mia enggak mau nikah sama Janu. Kenapa? kenapa Mia memilih pergi?"


Januar terus saja bergumam sepanjang langkahnya, kedua tangannya terkepal erat. Dia tidak menyangka kalau Mia-nya akan memilih untuk pergi darinya..



**SAMA GUGUK AJA SAYANG, APA LAGI SAMA MIA


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2