
Mia mengembangkan senyuman puas melihat hasil masakannya sore ini. Salah satu sudut mata Mia melirik jam yang tergantung di dinding, sudah pukul 3 sore- waktunya memberikan camilan untuk suaminya.
Suami?
Mia tersenyum malu, gadis itu membuka appron- senyuman di bibirnya tidak surut sedikit pun. Apakah dirinya dan Januar cocok di katakan sebagai suami istri, sementara tidur saja keduanya masih beda tempat.
Malam tadi Mia memilih untuk tidur dilantai dengan beralaskan kasur lipat, sedangkan Januar- Mia biarkan suaminya tidur diatas kasur empuknya.
Sebenarnya Mia juga tidak menginginkan itu, namun karena Mia tidak ingin membuat Januar terkejut saat bangun dan merasa tidak nyaman, jadi biarlah beberapa hari ini mereka membiasakan diri terlebih dahulu.
Dengan langkah semangat, Mia menaiki anak tangga satu persatu. Bibirnya terus saja tersenyum lebar, kedua mata Mia berbinar saat melihat pintu kamarnya.
Gadis berkaos peach itu menghela napas kasar, sebelum membuka pintu kamarnya.
"Ja-Mas Janu?"
Mia masih sering salah saat memanggil suaminya. Lidahnya terasa kelu, panggilan Mas yang dia berikan pada Januar- membuat jantung Mia berdegup dua kali lebih kencang.
Sebenarnya Mia bisa saja memanggil Januar seperti biasanya, namun menurut Mia memanggil nama pada suami tanpa embel embel Mas, rasanya tidak sopan.
Selain usia Januar lebih tua darinya, sekarang pria berwajah imut itu adalah suaminya- orang yang harus dia hormati dan hargai.
"Mia bawain camilan buat, Mas Janu."
Suara Mia kembali terdengar, gadis itu mengernyitkan dahi saat melihat Januar tengah membelakanginya.
"Mas Janu lagi ngapain?"
Januar menoleh, pria itu berkedip polos saat melihat Mia sudah berada dibelakang tubuhnya.
"Janu lagi main rubik. Mia udah selesai masaknya?"
__ADS_1
Januar berbalik, kedua matanya menatap berbinar pada isi piring yang di bawa oleh Mia. Tanpa berbicara lagi, Januar segera meraih benda itu dari tangan istrinya, mengabaikan Mia yang tidak bereaksi apa pun.
Mia lebih berminat menatap laptopnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Padahal setahunya, dia tidak bermain laptop tadi. Lalu kenapa benda itu bisa berada di atas tempat tidur? apa mungkin Januar yang memainkannya?
Pikiran Mia terus saja berkelana, perlahan gadis itu mendudukkan dirinya diatas tempat tidur. Namun kedua matanya tidak lepas dari laptopnya yang tertutup.
"Ayo Mia makan juga! sini Janu suapin,"
Tatapan Mia teralihkan, gadis itu mengembangkan senyuman tipis pads Januar. Terlebih saat Januar menyuapinya langsung dengan tangannya, setelah pria itu mencuci tangan di kamar mandi.
Mencuci tangan?
Sejak kapan Januar tahu kalau sebelum makan harus mencuci tangan tanpa dia suruh? karena biasanya Januar akan bertanya padanya terlebih dahulu sebelum melakukan apa pun.
🍭SA🍭
"Kenapa dilihatin terus? makan dong. Apa mau aku suapin? biar ro-,"
Julian mengulum senyum mendengar nada ketus Maura. Ternyata gadisnya benar benar marah, Julian tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk bisa membujuk Maura- agar mau mendengarkan penjelasannya.
"Ara?"
Panggilan lembut Julian tidak mampu membuat Maura menoleh. Si calon dokter itu lebih menikmati es krim vanila nya. Maura pura pura mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat Julian menatapnya tanpa berkedip.
Maura tidak boleh menatap kedua mata indah yang dulu selalu memabukkannya. Karena terlalu memabukkan membuat dirinya menjadi gadis bodoh dan naif. Di khianati saat cinta sedang berkembang subur di dalam hati.
Maura bukan gadis pemaaf, yang dengan mudah melupakan sesuatu. Terlebih hal tersebut sudah memporak porandakan tatanan hatinya.
"Aku mau pulang!"
Maura bangkit, namun langkahnya terhenti saat Julian mencekal lengannya. Pria itu menatap sendu pada Maura, gadis yang masih bertahta didalam hatinya sampai saat ini.
__ADS_1
Kesalahpahaman dan kebodohan dirinya, membuat Maura membenci bahkan tidak sudi lagi untuk menatapnya.
"Please, dengerin penjelasan aku dulu," Julian memohon.
Cengkraman di lengan Maura mengendur, saat gadis itu menoleh. Tatapannya terlihat tidak bersahabat, hanya ada rasa benci yang terpancar dari kedua matanya.
"Apa lagi yang mau lo jelasin? semuanya udah jelas Julian. Lo bosen sama gue, lalu lo nyari pelampiasan, lo selingkuhin gue sama kakak tingkat yang sekarang jadi senior gue di rumah sakit. Jangan lupa sama video yang dia kirim, otak gue masih ingat gimana kalian ciuman di- oke cukup! gue gak mau bahas ini lagi!"
Maura meronta, cekalan tangannya terlepas. Bahkan Maura sedikit berlari agar Julian tidak berhasil mengejarnya. Karena Maura yakin, mantan sialannya itu tidak akan menyerah begitu saja.
"Kenapa harus diingetin lagi sih!" rutuknya kesal.
Sementara di dalam cafe, Julian hanya bisa menghela napas kasar melihat kepergian Maura. Dulu dia memang hanya ingin memacari Maura untuk sementara, tapi ternyata Julian malah kena batunya. Dirinya menjadi budak cinta Maura hingga ke aliran darah.
Deringan ponsel membuat Julian kembali tersadar, pria itu merogoh benda pipih itu dengan malam.
"Apa?"
"......"
Kedua mata Julian terbelalak, pria itu segera bangkit- meraih jasnya yang tergantung di kursi.
"Kirim alamatnya! kenapa gue enggak kepikiran ke situ? Janu sialan, dia enak enakan di sana- gue engap disini!"
**DUH DEDE JANU, EH MAS JANU AHAIIII
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH😘😘😘**