
Kedua kaki jenjangnya melangkah pelan, Mia mencengkram handuk yang ada di tangannya. Kedua mata bulat Mia menatap sendu pada Januar, dadanya terasa sesak saat melihat pria yang selalu diasuhnya, tengah menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut.
Perlahan Mia mendudukkan diri, tatapannya terus saja tertuju pada Januar. Tangannya terulur mengusap kepala pria itu, usapan lembut yang Mia berikan membuat Januar mengangkat kepalanya.
Pria yang tengah bertelanjang dada itu menoleh, netra keduanya bertemu. Mia dapat melihat manik mata sendu milik Januar, mata yang selalu dia lihat- namun tidak untuk beberapa waktu ini.
"Janu mau mandi?"
Mia mengembangkan senyum, handuk yang ada ditangannya dia lampirkan pada bahu Januar.
"Apa Mia mau mandiin Janu?"
Januar mencicit, dia kembali menundukkan kepalanya. Jari jemarinya bertautan satu sama lain, dan itu tidak luput dari penglihatan Mia.
Menggemaskan! pekik hati Mia.
Mia berdehem pelan, gadis itu menegakan tubuhnya- menatap lekat pada mantan anak asuhnya.
"Janu mau Mia mandiin?"
Sudut bibir Mia berkedut melihat Januar mengangguk malu malu. Jujur Mia juga sama malunya saat menawarkan hal itu, namun entah kenapa dirinya rindu memandikan bayi besarnya.
"Oke, ayo kita mandi!"
Mia meraih kedua tangan Januar, menariknya sekuat tenaga- agar pria itu segera berdiri. Bahkan ukuran tubuh Mia dan Januar tidak sebanding. Mia hampir tersungkur kedepan saat Januar bangun- dan dirinya hampir terjungkal kebelakang kala Januar bangkit secara tiba tiba.
Keduanya berjalan menuju lantai dua, Mia sengaja membawa Januar ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Karena hanya di sanalah peralatan mandinya berada.
🍭SA🍭
Suasana di depan rumah Mia terlihat ramai. Beberapa warga dan aparat komplek saling tatap, entah apa yang tengah mereka pikirkan sekarang.
__ADS_1
"Sumpah demi Tuhan, saya melihat Almia masuk sambil bawa cowok. Tadi saya lagi keliling komplek, sekitar jam 9 malam saya lihatnya,"
Tutur seorang warga yang terlihat begitu menggebu, tatapannya tidak pernah teralih dari rumah dua lantai yang ada di hadapannya.
"Kita grebek aja lah, jangan kelamaan!" cetus salah satu dari mereka lagi.
"Tenang saudara saudara, siapa tahu laki laki itu adalah saudaranya. Jangan berpikiran negatif dulu, kita kan tahu Almia itu anak siapa. Kakaknya juga siapa, enggak mungkin kalau dia-,"
"Bibit enggak menjamin Pak RT! apa lagi dia tinggal sendiri. Udahlah biar lebih jelas kita datangin aja rumahnya. Ayo Pak Joko, jangan sampai komplek kita kena dampaknya!"
Beberapa pria berusaha masuk kedalam kediaman Mia. Mereka sampai melompati pagar bunga karena pintu gerbang kecil rumah itu terkunci.
Sementara di dalam rumah
Mia dan Januar tengah asik berada di dalam kamar mandi. Mia begitu telaten menggosok punggung Januar, bahkan tanpa sadar Mia memberikan pijatan lembut yang membuat Januar memejamkan kedua matanya.
"Mia, depannya belum,"
"Janu duduk di kloset ya, kalau Janu berdiri Mia enggak sampai,"
Januar mengangguk, dia segera mendudukkan diri diatas kloset. Kepalanya mendongak saat melihat Mua sudah berdiri depannya.
Januar mengembangkan senyum, saat Mia mulai menyabuni tubuh polosnya. Membiarkan jari jemari Mia bergelayar liar di permukaan kulitnya.
"Janu mau di mandiin sama Mia tiap hari."
Gerakan tangan Mia terhenti, Mia mengangkat wajahnya- menatap dalam pada netra lembut Januar.
"Janu mau nikah sama Mia, biar Mia selalu sama Janu. Kalau Mama sama Eyang enggak ijinin, Janu mau maksa,"
Mia menghela napas pelan, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Tangan Mia terulur mengusap wajah pria yang memang sudah menempati hati terdalamnya.
__ADS_1
"Mia juga mau nikah sama Janu,"
Kedua mata Januar mengerjab pelan, pria itu tersenyum lebar. Tanpa aba aba Januar memeluk tubuh Mia, menyembunyikan wajah tampannya di perut rata sang gadis.
"Mia enggak bohong kan?" cicitnya.
Mia terenyuh, tangannya reflek mengusap pucuk kepala Januar. Membiarkan pria itu menyelesupkan wajah diperut ratanya.
"Mia enggak bo-,"
Brakk!
"Nah, saya juga bilang apa. Mereka pasti sedang berbuat yang iya iya di kamar mandi!"
Mia dan Januar terkejut setengah mati, saat mendengar pintu kamar mandi di dobrak. Terlebih di luar kamar mandi begitu banyak orang yang terlihat menatap penuh intimidasi pada mereka berdua.
"Maaf, ini ada apa ya Pak?" Mia berusaha tenang, bahkan tangannya masih mengusap kepala Januar.
Tubuh pria itu bergetar, jujur Mia pun sama namun sebisa mungkin dia untuk tetap tenang.
Ini salah paham pemirsa.
"Neng Almia, bisa kita bicara dulu!"
**MENANG BANYAK DEDE JANU😂😂😂
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAAACCHH😘😘**