Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 40 Cemas


__ADS_3

Mia menikmati makan malamnya sendirian. Hanya di temani suara televisi yang mengoceh, tidak menarik di mata Mia.


Mia mengunyah makanannya dengan malas, kalau saja dirinya tidak takut terkena maag- rasanya enggan sekali Mia menelannya.


Waktu masih menunjukan pukul 7.15 malam, masih terlalu sore- tapi kedua matanya sudah tidak dapat menahan kantuk. Mia bergegas menghabiskan makan malamnya, dia akan menonton televisi sebentar-sembari mencerna makan malamnya.


Semoga saja tidak ketiduran.


                           🍭🌺🍭


Di sisi lain...


Seorang pria bertudung terus saja berjalan tanpa arah. Berbekal selembar kertas yang berisikan alamat rumah seorang gadis yang dia rindukan.


Tidak peduli dengan rintik hujan, tubuhnya yang mulai mengigil karena kebasahan- tidak menghalangi tekad kuatnya.


Dia nekat pergi dari kediaman Rajendra, disaat seluruh anggota keluarganya makan malam. Dengan hati hati keluar dari rumah, bahkan harus merangkak dan bersembunyi di semak bunga- untuk menghindari pelayan dan penjaga rumah.


Dan kini, di tengah gerimis kedua kaki panjangnya tidak lelah menyusuri jalanan ramai- mengabaikan tatapan orang asing yang penasaran kepadanya.


"Janu harus tanya sama orang. Kata Mia, kalau kita enggak tanya nanti bisa tersesat."


Pria bertudung abu abu itu menghentikan langkahnya. Kedua matanya menelisik kesetiap sudut, mencari orang yang akan dia tanyai.


Januar menghela napas pelan, saat melihat sebuah warung tenda yang terlihat ramai. Dia yakin kalau dirinya bisa bertanya pada orang orang disana.


Namun langkahnya terhenti, saat perasaan bimbang kembali menghantuinya. Bagaimana kalau mereka itu bukan orang baik? apa yang harus dia lakukan sekarang? bertanya atau berlari?


Langkah Januar perlahan mundur, dia lebih memilih pergi dari tempat itu. Kedua kakinya kembali menyusuri jalanan, di bawah cahaya remang remang- Januar melirik pada jam tangan digital yang ada ditangannya.


Waktu sudah menunjukan pukul 8.45 malam, yang artinya sudah hampir dua jam dia berada di luar. Berjalan tidak tentu arah, meninggalkan kediaman Rajendra- tanpa persiapan apa pun.

__ADS_1


"Mia dimana? Janu takut sendirian di sini,"


Januar mencengkram lengannya sendiri, menyalurkan rasa takut dan putus asanya.


 


Disalah satu rumah tidak jauh dari Januar, seorang gadis menggeliat pelan. Akibat rasa kantuk mendera dia sampai ketiduran di sofa, dengan televisi masih menyala.


Kedua matanya terbuka, saat merasakan dingin dan lapar. Gadis itu berdecak pelan, di situasi malam seperti ini perut rakusnya kembali meronta- meminta jatah semangkok bakso hangat.


Dengan malas kedua matanya melirik jam yang tergantung di dinding. Masih pukul 8.55 malam, belum terlalu malam. Kedai bakso langganannya pasti masih buka, karena belum larut.


Gadis itu semakin meringis saat perutnya kembali bersuara. Dengan malas dia meraih ponsel yang ada di meja, membuka casingnya. Senyuman kecilnya terbit, saat melihat rupiah berwarna merah terselip indah disana.


"Maaf ya, kamu aku pakai dulu. Aku males buat naik keatas," ujarnya pelan.


"Ini perut atau apa sih Mia?! gampang banget laparnya, heran deh!" imbuhnya lagi.


Mia segera bergegas, setelah memastikan rumah terkunci rapat. Dia berjalan menyusuri jalanan komplek, dengan berjalan kaki hingga ke jalan raya.


Senyumannya mengembang, saat melihat kedai bakso langganannya masih buka. Mia mempercepat langkahnya, dengan wajah berbinar dia menyapa sang penjual.


"Bang biasa ya!"


"Wah Neng Mia, baru kelihatan lagi. Kemarin kemana aja Neng?"


Mia menggaruk pipinya yang gatal, gadis itu tersenyum kikuk.


"Kerja Bang, sekarang pulang libur dulu. Kangen sama baksonya Abang," Mia terkikik sendiri.


"Halah kangen sama baksonya apa sama tukang baksonya?"

__ADS_1


Tawa kecil Mia pecah, gadis itu menahan tawanya agar tidak mengganggu pelanggan lain. Bagi Mia candaan seperti ini sudah tidak aneh, asal tidak keterlaluan.


Mia memilih untuk duduk sembari menunggu pesanannya. Kedua matanya sibuk pada layar ponsel, namun kedua telinganya masih dapat mendengar pembicaraan orang yang ada di dekatnya.


"Orang gila kali? gue tanya juga plonga plongo aja. Dia malah manggil nama orang,"


Mia mengerutkan dahi, gerakan tangannya terhenti saat mendengar ucapan pria yang ada di belakangnya.


"Emang dia manggil siapa?"


"Eemm- apa ya tadi? Ma- eh bukan. Apa ya? Mi- Mia iya Mia kalau enggak salah. Gue cecar dia malah lari, kayaknya nangis juga."


Tubuh Mia menegang, ponsel yang ada di tangannya hampir terjatuh. Tenggorokannya kering, bahkan saat Mia menelan saliva pun terasa sulit.


"Nama emaknya kali, kalau enggak ceweknya. Terus dia lari kemana? kasihan banget pasti keluarganya nyariin dah."


"Dia lari ke arah pos kamling yang ada di ujung jalan sono. Mana bajunya basah kuyup lagi, kasihan pokoknya."


Mia semakin menegang, kedua kakinya melemas. Namun sekuat tenaga Mia bangkit, dan segera berlari meninggalkan kedai bakso- tidak peduli dengan teriakan abang tukang baksonya.


'Janu, Janu, Janu, Janu,' hanya nama itu yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Semoga saja pikirannya salah.



CEMAS MELANDA HATI



**YANG DI CEMASIN

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘**


__ADS_2