Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 42 Haruskah Kawin Lari?


__ADS_3

Kediaman Rajendra di gemparkan oleh hilangnya salah satu tuan mudanya. Nyonya Arista terlihat begitu panik dan shock, wanita itu mondar mandir tidak karuan- tangannya sibuk dengan ponsel. Sepertinya Nyonya Arista tengah menghubungi seseorang.


"Cari putra ku sampai ketemu!"


Satu jam setelah kepergian Januar dari kediaman Rajendra, Nyonya Arista dan yang lainnya baru menyadari- kalau sedari tadi Januar tidak turun kebawah. Padahal selama ini mereka sebenarnya selalu memperhatikan Januar secara diam diam.


Mereka tahu kalau sang tuan muda tengah marah, dan enggan berbicara pada siapa pun. Tapi setelah lama menunggu, Nyonya Arista yang merasa ada yang janggal segera berlari ke kamar Januar.


Disana mereka tidak mendapati Januar di mana pun, bahkan Eyang Nyonya seketika tidak sadarkan diri saat tidak menemukan cucu nya di mana pun.


Julian yang tidak tahu masalah ketiganya, hanya terdiam seperti orang bodoh. Julian tidak tahu kenapa adik tirinya yang tidak pernah berbuat yang aneh, nekat pergi dari kediaman Rajendra- di malam hari.


Nyari mati memang si Januar.


Alhasil, karena melihat Sang Mama dan Eyangnya shock serta khawatir- Julian dengan rasa kesal dihatinya ikut mencari Januar bersama dua satpam rumah mereka.


"Tenanglah Nyonya, Tuan Julian pasti bisa menemukan Tuan Muda Januar," Tiur berusaha menangkan majikannya.

__ADS_1


Nyonya Arista menghempaskan diri di atas sofa, kepalanya berdenyut- rasa pening mulai menyerangnya. Sepertinya tensi darahnya naik karena shock dan khawatir.


"Janu kamu dimana Sayang, kenapa kamu pergi. Kamu tidak pernah seperti ini," gumam Nyonya Arista frustasi.


                             🍭SA🍭


Mia membawa Januar masuk kedalam rumah. Gadis itu meletakan plastik bakso di atas lantai. Dengan cepat dan tergesa Mia melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Januar.


Pakaian basah kuyup itu membuat tubuh Januar bergetar. Januar kedinginan, bibirnya pucat dan kedua tangannya mengepal erat.


Setelah pakaian bagian atas Januar terlepas, Mia menghela napas pelan saat kedua matanya tertuju pada celana jeans pendek yang di pakai Januar. Celana itu sama basahnya, bahkan Mia dapat melihatnya dengan jelas.


Rasa dingin dari tubuh pria itu dapat Mia rasakan. Mia tersenyum miris, dia masih tidak menyangka kalau Januar akan nekat mencarinya ditengah malam seperti ini. Mia kira ucapan Januar waktu itu hanya candaan semata, Mia kira Januar tidak akan pernah nekat- karena pria itu tidak pernah keluar rumah tanpa pengawasan.


"Hidung Janu mampet, kalau nunduk enggak bisa napas. Mia aja yang lepasin celananya,"


Mia menggigit bibirnya gemas, sudah tiga hari ini dia terbebas dari sesuatu yang mampu membuatnya malu setengah mati, dan kini di awal pertemuan mereka- onderdil itu akan kembali menyapanya.

__ADS_1


"Janu duduk dulu ya, Mia mau ambil selimut dulu. Kalau Janu telanjang sekarang, nanti Janu masuk angin. Mia mau nyiapin air hangat dulu buat Janu mandi,"


Januar berkedip pelan, dengan ragu Januar mengangguk- ada rasa tidak rela saat melihat Mia pergi darinya. Januar takut kalau Mia akan meninggalkannya lagi.


Jari jemari Januar saling bertautan, saling memilin. Januar menatap kosong kearah depan, ada rasa khawatir mulai menyergap hatinya.


"Mama sama Eyang pasti lagi nyariin Janu di rumah. Tapi Janu mau ketemu sama Mia, maafin Janu ya Eyang, Mama. Nanti kalau Janu udah enggak kangen lagi sama Mia, Janu bakalan pulang," gumam pelan Januar.


Pria itu menggosok hidungnya yang berair, Januar tidak menyadari kalau saat ini Mia mendengar semua ucapannya.


Air mata Mia kembali menganak, ucapan Januar semakin membuat gadis itu terperosok jatuh kedalam pesonanya.


Hanya karena rindu, Januar nekat mengabaikan keselamatan serta kesehatannya. Apa yang harus Mia lakukan setelah ini? apa Nyonya Arista dan Nyonya Eyang masih belum memberikan izin? haruskah Mia membawa Januar pergi agar mereka bisa kawin lari?



**MIA LAGI INTEROGASI DEDE JANU

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYY MUUUAAACCHHH😘😘**


__ADS_2