
Tepukan tangan Mia perlahan membawa Januar ke alam mimpi. Pria berkaos tanpa lengan itu memeluk tubuh Mia erat. Januar menyembunyikan wajahnya di perut rata istrinya, menikmati tepukan lembut di punggungnya.
Sore ini selepas dia dan Mia menghabiskan camilan, Januar memilih untuk memejamkan kedua matanya sejenak, menikmati waktunya bersama gadis yang dia nikahi malam kemarin.
Mia yang merasa kesepian, tidak ada teman untuk dia ajak bicara- perlahan memejamkan kedua matanya sembari bersandar di kepala ranjang, namun tepukan lembut di punggung suaminya sama sekali tidak terhenti.
Sepasang pengantin baru itu terlelap dalam sekejap. Tidak menyadari, kalau di luar kediaman mereka ada beberapa orang tengah mengawasi rumah dua tingkat yang mereka tinggali.
"Kalian yakin ini rumahnya?"
Pria berkemeja kusut itu menatap tidak yakin, kedua matanya menelisik liar setiap sudut rumah dua tingkat yang ada di hadapannya.
"Saya yakin Tuan Julian. Tuan Muda Januar ada didalam rumah ini, dan dari informasi yang saya dapat- kalau Tuan Muda Januar menikahi gadis yang menolongnya kemarin malam."
Julian memijat dahinya pelan, adik tirinya menikahi mantan pengasuhnya sendiri- tanpa persetujuan Mama dan Eyang mereka.
Januar benar benar gila!
Sebenarnya apa yang ada didalam otak adik tirinya itu? setelah kabur dari kediaman Rajendra, kini Januar kembali membuat dirinya terkejut.
"Apa kita bisa masuk?" Julian merasa tidak sabar untuk menyeret keluar adik nakalnya. Kalau perlu dia akan mencencang Januar setelah mereka bertemu nanti.
"Pagarnya tidak di kunci, kita bisa masuk secara baik baik, Tuan."
Tanpa bertanya lagi, Julian segera membuka gerbang. Pria itu semakin mempercepat langkahnya, Julian merasa tidak sabaran untuk bertemu dengan Januar dan menyeret anak itu.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Spadaaa! permisi! Assalamualaikum!" Julian mengetuk dengan kencang.
Julian tidak peduli kalau ada tetangga rumah ini yang mendengar teriakannya. Yang terpenting untuknya saat ini, Julian bisa membuat sang pemilik rumah keluar.
Bisa saja dia menyuruh bawahannya mendobrak pintu- namun urusannya akan panjang nanti. Bisa jadi dirinya terkena pasal pengrusakan, dan dilaporkan oleh pemilik rumah kalau orang itu tidak menerimanya.
Julian tidak mau mengorbankan masa depannya di dalam bui, hanya karena merusak pintu rumah orang. Mengejar Maura saja belum dapat, belum lagi dirinya di penjara hanya gara gara sepele.
Tok
Tok
Tok
Teriakan Julian berhasil membuat para tetangga penasaran, begitu pula dengan orang orang yang tidak sengaja lewat.
Banyak mulut yang berbisik penuh cemoohan yang di tujukan pada sang pemilik rumah. Mereka yakin, kalau Almia memiliki hutang pada rentinir, sampai gadis itu di datangi depkolektor si rentenir.
"JANUAR KELUAR LO! KALIAN ENGGAK KELUAR DALAM 5 MENIT, GUE BAKAR NIH RUMAH!"
__ADS_1
Teriakan Julian semakin menjadi, bisik bisik tetangga pun semakin kencang dan tidak terkendali.
"Ya ampun, baru jadi pengantin baru dadakan tadi malam. Mereka udah di tagih hutang aja sama depkolektor, jadi sebelum tinggal bersama mereka ngutang dulu sama rentenir buat biaya hidup?"
Celetukan ibu ibu bermasker putih di angguki oleh ibu ibu lainnya. Jiwa kepo para tetangga yang sudah memasuki diagnosa akut parah, semakin membuat suasana memanas.
Terlebih teriakan sang dep- eh maksudnya Julian, membuat asumsi orang orang kepo itu semakin menjadi. Napas Julian memburu, tangannya siap kembali terangkat, kali ini Julian berencana untuk mengetuk dengan menggunakan tenaga dalam.
Cleek!
Tangan Julian melayang di udara, kedua mata pria itu melotot horor saat melihat orang yang membukakan pintu untuknya.
"Nah ini dia orangnya! kesini lo bocah nakal gue iket juga lo di pohon jengkol!"
Ucapan Julian kembali berhasil membuat mulut julid ibu ibu komplek kembali bersuara.
"Tuh kan, mereka punya hutang sama rentenir tapi gak sanggup bayar- sampai diancam mau di gantung di pohon jengkol. Ya ampun amit amit deh punya hutang ke rentenir, mana habis nikah lagi."
"Lihat dong cowoknya, wajar aja Almia hutang sana sini. Mana mungkin suaminya bisa nyari uang, orang kayak gitu. Ganteng tapi kayaknya begok, tau sendirilah."
Cemoohan mulut mereka semakin menjadi. Pikiran mereka yang pendek, membuat otak serta hati orang orang itu mati dan tidak dapat berpikir luas.
**SABAR YA MIA, TEBAL KAN HATI DAN TELINGA😂😂😂
__ADS_1
YUHUU SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYY MUUAAACCHH😘😘**