
"Mas Janu, ngapain?"
Tubuh Janu menegang, pria tampan itu segera menoleh- kedua matanya mengerjab pelan saat melihat Mia berjalan mendekat ke arahnya.
"Janu lagi lihat film Marsya,"
Kini giliran Mia yang terlihat mengerjabkan kedua matanya cepat. Gadis itu menyipit, tatapannya tertuju pada ponselnya yang ada ditangan Januar.
"Film Marsya? Marsya and the Bears?" Mia memiringkan kepalanya, mencoba melihat video yang tengah Januar tonton saat ini.
"Iya, Janu lagi nonton Marsya. Mia duduk sini, nonton sama Janu!"
Januar menepuk tempat kosong yang ada di sisinya, kedua matanya terlihat sibuk melihat serial anak yang memakai bahasa Rusia itu. Mia mengerucutkan bibirnya, dia menarik lengan Januar agar pria itu menghadap ke arahnya.
"Mas Janu pakai celana dulu, ayo Mia pakein!"
Kali ini Januar menurut, pria tampan berwajah baby face itu menggeser tubuhnya secara perlahan. Kedua kakinya dia turunkan, dan segera berdiri di hadapan istrinya. Tanpa malu Januar menatap Mia yang tengah merona di buatnya.
Tampilan Januar yang setengah telanjang, membuat Mia harus mengalihkan pandangannya ke arah depan- bukan ke bawah atau pun melihat wajah Januar.
"Angkat kakinya satu!" titah Mia.
Januar menurut, kedua tangannya sigap berpegangan di bahu Mia. Sedangkan salah satu kakinya dia angkat, saat sang istri hendak memasukan kaki itu kedalam celana.
"Udah, sekarang Mas Janu tidur- Mia mau mandi dulu," Mia mengusap lembut wajah Januar, kedua bibirnya terangkat saat melihat wajah polos yang di tampilkan suaminya.
'Jadi pingin gigit!' gemas Mia dalam hati.
Mia terus saja tersenyum, gadis itu menghela napas pelan saat melihat Januar mulai kembali ke tempat tidur. Persis seperti anak kecil yang patuh pada ucapan ibunya.
Mia berbalik, gadis itu berjalan menuju kamar mandi setelah memastikan kalau Januar sudah merebahkan dirinya dengan nyaman diatas tempat tidur.
Ceklek!
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi terkunci, Januar mengangkat kepalanya perlahan. Sudut matanya melirik ponsel yang ada di atas bantal, perlahan tangan Januar merayap- meraih benda pipih yang sempat dia mainkan.
Raut wajah Januar terlihat serius, apa lagi saat dia dapat membuka kembali web haram yang sempat ditutupnya- karena takut ketahuan Mia.
Sebenarnya serial kartun Marsya and the Bears hanya pengalihan, Januar memang sedang menonton film- tapi bukan film kartun anak anak selayaknya. Film Marsya and the Bears versi dewasa.
Januar berulang kali menoleh kearah pintu kamar mandi, bersyukurlah karena Mia selalu berlama lama di kamar mandi. Entah apa yang tengah gadis itu lakukan, tapi untuk saat ini cukup membantu Januar.
Januar meremas selimut yang menutupi tubuhnya, tidak ada suara yang keluar- tapi video haram yang dia lihat dapat menjelaskan semuanya. Tidak layak ditiru, ini hanya edukasi secara langsung untuk Januar yang buta akan hal berbau percintaan.
Kedua mata Januar berkedip pelan, bahkan jakunnya naik turun saat melihat dua bibir sepasang kekasih bergulat, bertukar napas, saling menghisap penuh naf*su. Januar menggosok pundaknya yang terasa dingin- rasanya seluruh bulu di semua tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kakinya meremang.
Terlebih, saat Januar melihat kedua sepasang anak manusia berwajah bule itu, mulai menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuh mereka.
Januar reflek memejamkan kedua matanya, dia menutup video laknat yang sudah membuat sesuatu didalam dirinya memberontak. Selimut yang membalut tubuhnya terhempas, Januar segera mematikan ponsel Mia- lalu kembali meletakkannya diatas nakas.
Januar merebahkan dirinya ditempat tidur, keringat dingin mulai membasahi dahi serta punggungnya. Bayangan video laknat itu terus saja terngiang di kepalanya. Januar memeluk tubuhnya sendiri seperti bayi, pria tampan itu menelan saliva nya susah payah.
Tangan Mia hendak terulur untuk menyentuh suaminya, namun urung dia lakukan. Mia memilih mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, bahkan tanpa Mia sadari kalau saat ini tubuh Januar terlihat menegang.
"Mas Janu?" panggilan lembut Mia membuat Januar semakin memejamkan kedua matanya erat.
Januar mencengkram ujung bantal yang dia tiduri. Napasnya tertahan kala tangan Mia mulai menyentuh tubuhnya, bayangan video gila yang terus saja berputar di kepalanya, menambah kadar keringat dingin yang keluar dari tubuhnya.
"Mas Janu udah tidur?" Mia merapatkan tubuhnya, bahkan gadis itu melingkarkan satu tangannya pada tubuh Januar. Menyembunyikan wajahnya di punggung lebar suaminya, bahkan tanpa canggung Mia mulai memberikan kecupan disana.
Tidak ada kata yang keluar dari keduanya, Mia dan Januar tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Mas Janu marah ya sama Mia, kenapa diam terus sih? Mia tau kalau Mas Janu belum tidur,"
Mia mengangkat kepalanya, tangannya yang saat ini berada di perut Januar, berpindah menuju pipi milik suaminya. Mia menekan kecil salah satu pipi Januar, memberi cubitan hingga tusukan agar pria itu merespon.
Namun beberapa kali Mia melakukannya, Januar tetap tidak bergeming- pria itu masih membisu dan tidak bergerak sedikit pun.
__ADS_1
"Mas Janu?" Mia belum menyerah, namun gadis itu sudah menghela napas pelan.
Mia tidak tahu apa kesalahannya hingga Januar mendiamkannya begini. Bahkan sepertinya bergerak saja tidak, Mia tidak tahu apa kesalahannya- kalau Januar diam seperti ini mana dia tahu apa kesalahannya.
"Ya udah deh, Mia tidur dulu ya. Kalau Mas Janu belum ngantuk- nanti tidurnya jangan malam malam. Selamat malam suami Mia yang ganteng, mimpi indah ya,"
Cup!
Mia berbisik lirih, sebelum dia memberikan satu kecupan ringan di pelipis Januar. Setelah itu Mia berbalik, gadis itu tidur membelakangi suaminya. Dengan perasaan campur aduk, Mia masih belum mengerti kenapa Januar mendiamkannya, padahal tadi mereka baik baik saja.
Tidak ingin berspekulasi buruk, Mia mencoba memejamkan kedua matanya- berharap kalau akan ada mimpi indah datang menghampiri. Selang beberapa belas menit, Mia yang masih berada diantara nyata dan mimpi- merasakan sebuah rengkuhan hangat dan lembut dari arah belakang tubuhnya.
Bahkan Mia dapat merasakan kecupan ringan di batang leher hingga daun telinganya. Mia melenguh pelan saat merasakan kecupan itu semakin dalam, sentuhan tidak teratur di area perutnya membuat tubuh setengah sadar Mia meremang.
Diantara dunia nyata dan mimpi, Mia merasakan melayang- kala sesuatu yang basah dan lembab mulai meraup bibirnya. Tubuhnya bereaksi namun kedua matanya enggan terbuka, entah mengapa Mia malah menikmatinya dan berharap kalau semua ini bukanlah mimpi, apa lagi harus berakhir.
"Mas Janu?" igauan yang Mia ucapkan, membuat pria tampan yang saat ini berada diatasnya, segera melepaskan tautan bibir mereka dengan wajah tidak rela.
"Bibir Mia enak, Janu suka. Nanti Janu minta lagi ya," bisiknya.
Cup!
Kembali satu kecupan dalam dia berikan di bibir terbuka dan memerah istrinya.
**HAYOOLOHH DEDE JANU
SEE YOU TOMORROW
BABAYY MUUAACHH
SATU PART TAPI DURASI PANJANG, SEMOGA SUKA**
__ADS_1