Suamiku Autis

Suamiku Autis
Permintaan Julian


__ADS_3

Januar memeluk erat tubuh Mia, kedua matanya terpejam erat- namun kedua tangannya enggan menjauh dari sang istri.


Saat ini tinggal mereka berdua, Julian dan Maura sudah pulang begitu pula dengan Amira serta suaminya. Amira dan sang suami memberikan waktu pada Januar untuk membawa mereka menemui orang tuanya sampai Mia pulih.


Sepasang suami istri itu hanya menurut, demi kelangsungan masa depan mereka. Cepat atau lambat toh mereka harus mempertemukan kedua keluarga.


Walaupun Mia dan Januar harus menyaksikan drama kasta dan derajat yang akan di bahas oleh Nyonya arista atau pun Eyang Putri, mereka yakin itu.


"Mia jangan tinggalin Janu." januar mengigau.


Pria berwajah baby face itu semakin menyerukan wajahnya di leher Mia. Terdengar isakan kecil keluar dari bibirnya, Mia juga dapat merasakan kalau bahu Januar berguncang kecil.


"Ssssttt- Mia enggak kemana mana. Mas Janu bobok ya, Mia juga mau bobo biar kita bisa cepat pulang." lirih Mia sembari mengusap lembut kepala suaminya.


Sesekali Mia memberikan kecupan kecil dan dalam di pucuk kepala serta pelipis suaminya. Bahkan dengan gemas Mia membalas dekapan Januar dengan satu tangannya.


"Mia sayang sama Mas Janu. Mas Janu harus kuat ya, biar kita bisa terus bersama. Mas Janu tau, Mia enggak mau jauh dari Mas Janu." Mia berbisik pelan di telinga Januar.


Bahkan dengan gemas Mia mengecup ujung hidung Januar saat pria itu merubah posisi tidurnya.


"Eemm- Janu enggak mau Mia jauh jauh." igaunya lagi.


Kedua mata Mia yang hampir saja terpejam, terbuka kembali. Bahkan kedua sudut bibir Mia berkedut kecil mendengar Januar mengigau.

__ADS_1


"Gemes banget sih, jadi pingin gigit."


🍭 SA 🍭


"Kamu mau kemana, Julian?!"


Langkah Julian terhenti, pria berkemeja abu abu itu menatap malas pada wanita setengah baya yang tengah menuruni anak tangga bersama seorang gadis.


"Kenapa Mama masih nampung dia di sini?!" Julian berdecih tidak suka pada gadis yang di gadang gadang akan di jodohkan dengannya itu.


"Julian, jaga sikap kamu!" Nyonya Arista memperingatkan putranya. Jelas sangat terlihat kalau Nyonya Arista tidak suka mendengar nada ketus dan sinis Julian.


"Tante udah, Febby enggak apa apa kok."


"Aku enggak nyangka kalau Mama lebih milih cewek ini dari pada anak Mama sendiri. Bahkan Mama udah bikin Janu kecewa, harus Mama tau- Januar bilang kalau dia enggak mau ketemu lagi sama Mama." Julian menaikan satu garis bibirnya.


Kedua matanya menatap remeh pada Febby yang tengah menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling memilin karena gugup, sudah pasti gadis itu gugup. Lihat saja tatapan tajam dan raut wajah Julian yang begitu tidak bersahabat sama sekali.


"Febby enggak sengaja Nak. Dia enggak sengaja nabrak Mia, Mama cuma ingin kalian ngerti dan bicarakan masalah ini baik baik. Mama- Julian kamu mau kemana, Mama belum selesai bicara!"


Nyonya Arista berjalan cepat menyusul Julian, meninggalkan Febby yang terlihat jengkel karena Julian sama sekali tidak mau melirik ke padanya. Febby bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mendapatkan simpati Julian, jangankan simpati- lirikan dan tatapannya dari Julian saja dia tidak pernah mendapatkannya.


Di sisi lain Nyonya Arista masih mengejar putra pertamanya. Wanita setengah baya itu terlihat panik saat melihat Julian hendak memasuki mobilnya.

__ADS_1


"Julian dengerin Mama!"


Braak!


Julian kembali menutup pintu mobilnya. Pria itu mengusap kasar wajahnya, didalam hatinya saat ini ingin rasanya dia memaki dan berteriak. Namun akal sehatnya masih berfungsi, Julian masih ingin menikah dengan Maura dan tidak ingin di kutuk jadi batu oleh Mamanya.


"Mama yang harus dengerin aku sama Januar! coba Mama ngertiin perasaan anak anak Mama. Mama mati matian belain Febby, emangnya kalau Mama punya masalah cewek itu yang ada buat Mama!" Julian menjeda ucapannya dengan napas tersengal.


"Enggak kan! kita yang selalu ada buat Mama. Bukan dia atau pun orang lain, cuma aku, Janu, Eyang dan sekarang Mia dan bentar lagi istri Julian Ma. Kita yang bakalan ada buat Mama, jadi tolong aku sama Janu enggak minta yang aneh aneh sama Mama, cukup kasih kita restu sama doa baik Mama udah cukup." imbuhnya.


Julian menarik napasnya dalam, dadanya bergemuruh dan terasa sesak. Sementara Nyonya Arista masih bungkam, wanita bersanggul itu menatap sendu pada Julian.


"Sekarang terserah Mama. Aku yakin Mama bisa bedain mana yang baik dan yang buruk buat kita, Julian cuma berpesan sama Mama- tolong jenguk Mia kalau Mama masih mau di percaya sama Januar. Aku juga minta sesuatu sama Mama, tolong lamarin Maura buat Julian Ma- cuma itu yang anak anak Mama minta, enggak macem macem kok."


Julian mengakhiri ucapannya, pria itu berbalik- Julian segera memasuki mobilnya. Dia berharap kalau Sang Mama akan mengerti ucapan dan keinginan anak anaknya, semoga saja Sang Mama bisa paham dan mau memahami keinginan sederhana dia dan Januar.



LAUT TOLONG SAMPAIKAN GOMBALANKU PADA DIA



**GIMANA CARA BOBOL MIA YANG AMAN JAYA?

__ADS_1


SEE YOU MUUUUAAACCHH😘😘😘**


__ADS_2