
Julian terus saja mengomel di sepanjang koridor rumah sakit. Sudah hampir tiga hari ini dia mencari Januar, namun hasilnya selalu saja nihil.
Saat ini dia kembali di kejutkan oleh Sang Mama, yang mengabarkan kalau Eyang Putri masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh.
Wanita tua itu terlalu banyak berpikir karena kehilangan Januar. Nyonya Arista ingin berurusan dengan pihak berwajib untuk membantunya mencari keberadaan Januar, namun Julian melarangnya. Pria itu mengatakan dia masih bisa mencari adik tirinya itu.
"Kira kira dimana anak nakal itu? bisa bisanya dia kabur dari rumah enggak pamit sama kita!" sungutnya kesal.
Semenjak Januar pergi, semua urusan perusahaan Rajendra- Julian yang menghandle. Mengakibatkan Julian tidak memiliki banyak waktu untuk menemui mantan tercintanya. Terlebih keamanan data base Rajendra melemah, saat Januar tidak lagi mengontrolnya.
Ini benar benar menyusahkan!
"Kalau lo sampai gue temuin, gue rante lo ya Jan! gue iket lo di pohon jengkol!" cetusnya lagi.
Julian mengusap wajahnya kasar, pekerjaan yang menuntut, waktu istirahat yang semakin terforsir membuat Julian sudah seperti zombie.
Kantung matanya menghitam, rambutnya acak acakan, bahkan kemeja putih yang dia pakai jauh dari kata rapih. Semua pemandangan miris yang ada pada Julian tidak luput dari mata seorang gadis berjas putih, yang sedang mengikutinya dari belakang.
"Kenapa mantan lakik gue udah kayak zombie gitu? dia ngapain aja sih kerjanya, jadi kayak mayat hidup?" gumamnya.
Sepatu heels 10 centi-nya menghentak lantai rumah sakit. Gadis cantik itu memasukan kedua tangannya kedalam saku jasnya, tidak berniat untuk mendahului Julian yang berjalan di depannya.
Langkahnya terkesan santai, dengan tatapan memindai dari arah belakang. Sang gadis memicingkan kedua matanya, melihat postur tubuh mantan kekasihnya yang begitu-
__ADS_1
"Astaga Maura, lo mikir apa sih? bisa bisanya lo mikir jorok!" rutuknya.
Maura memukul kepalanya pelan. Akibat lembur selama beberapa hari ini, otaknya menjadi sedikit geser.
"Si Mia kemana lagi? chat gak di bales, di telepon gak aktif. Tuh orang lagi tapa apa gimana sih, heran deh!"
Maura terus saja mengomel sendiri, tanpa menyadari kalau Julian sudah menghentikan langkahnya, dan-
Dugh!
Maura sedikit terhuyung kebelakang, saat dahinya membentur sesuatu. Gadis itu meringis pelan, kepalanya sedikit berdenyut akibat benturan itu.
"Ngikutin ya?"
Maura mengangkat wajahnya, mulutnya yang terbuka ingin mengumpat tertutup seketika, saat melihat orang yang dia tumbur dari belakang.
Gadis itu memasang wajah judesnya pada Julian. Maura mencebik kecil, kedua kaki jenjangnya kembali melangkah- namun tubuhnya kembali terhuyung kebelakang saat Julian dengan tidak berperasaan menarik kunciran rambutnya.
"Heh, lo gila ya!" pekik Maura tidak terima.
Kedua mata si calon dokter saraf itu mendelik pada Julian. Bahkan kalau Julian tidak menahan kedua tangan Maura, mungkin wajah tampannya sudah terkena hantaman tangan sang gadis.
"Temenin aku makan siang, ayo Sayang- kita udah lama enggak makan bareng!"
__ADS_1
Maura semakin mendelik, gadis itu meronta minta di lepaskan. Namun Julian sama sekali tidak menghiraukannya, pria itu seenaknya membawa Maura keluar dari rumah sakit. Membawa sang mantan kekasih ke mobil, memaksa Maura masuk walaupun gadis itu meronta hebat.
"Julian jangan gila deh! gue masih ada praktek sialan!"
"Sssttt- cantiknya aku enggak boleh ngomong kasar oke, nanti aku cium kalau kayak gitu lagi!"
Maura mengepalkan kedua tangannya, dia memejamkan kedua mata saat Julian memakaikan sabuk pengaman di tubuhnya.
"You, Canis Lupus Familliaris! " umpat Maura.
Cup!
"Jangan kira aku enggak ngerti artinya Sayang, kamu ngatain aku gukguk? ya aku gukguk- gukguk harder yang siap nerkam kamu, rrrwww!"
Maura memijat pelipisnya pelan, pria ini sudah tidak mempan dengan umpatannya. Bahkan dengan tidak tahu malunya, Julian mengecup pipinya tanpa izin.
Sialan, dasar mantan Canis Lupus Familliaris!
"Kalau kamu ngumpat lagi, bibir itu yang selanjutnya!"
**SOSOR TEROOOSS BANG
__ADS_1
SEE YOU TOMORROW
BABAYYY MUUUAACCHHH😘😘😘**