Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 70 Nekat


__ADS_3

Julian menyisir rambut kelimisnya kebelakang. Pria berdimple di dagu itu melebarkan senyum, kala melihat penampilan sempurnanya di spion mobil.


"Cakep, anak Bapak Ginanjar emang gak ada yang jelek." gumamnya.


Lihat betapa bangganya Julian pada sang Papa. Walaupun Ginanjar hanya Papa sambungnya, tapi Julian tidak pernah menganggap Ginanjar sebagai Papa tiri. Begitu pula dengan Ginanjar dulu, saat pria itu masih hidup. Ginanjar tidak pernah membedakan Januar putra kandungnya sendiri dengan Julian, di kedua matanya sama saja.


"Ayo Jul, lo pasti bisa. Jangan malu maluin Papa, lo harus berani biarpun gak ada yang nganter, hiks!" Julian melipat bibirnya dramatis.


Pria tampan itu mengerucut, betapa malang nasibnya saat ini. Berencana melamar seorang gadis seorang diri karena usulan gila adiknya- Januar. Entah ide itu yang gila, atau Julian yang sudah kebelet.


Julian menghembuskan napas kasar, kedua tangannya mengepal ke udara- menyemangati dirinya sendiri. Julian melangkah pelan namun terlihat yakin- dia meyakinkan dirinya sendiri. Satu tangan Julian menggenggam sebuah buket besar bunga tulip merah, senyuman di bibirnya perlahan terbit. Julian berusaha agar terlihat tenang, tidak gugup atau pun gerogi.


Pria berdimple di dagu itu menghela napas kasar saat sudah berada di depan pintu. Satu tangannya yang menganggur terulur untuk menekan bell rumah kekasihnya.


Bell berbunyi, Julian semakin tidak tenang. Detak jantungnya semakin tidak karuan, rasanya dia akan mendapatkan serangan jantung sekarang. Sementara kedua orang yang saat ini tengah mengawasinya dari balik semak, hanya meneropong dari jarak yang cukup jauh.


"Apa Julian bakalan berhasil?" ucap pria yang saat ini tengah menopangkan dagu diatas kepala istrinya.


Wanita yang ada di bawahnya mendongak, tidak menyahut- tapi dia terlihat mengawasi Julian lewat teropong kecil yang di bawanya.


"Berdoa aja Om Halim lagi dalam mode malaikat. Kalau lagi mode Demon, wasalam aja kakak kamu Mas." balasnya tidak yakin.


Didepan pintu, Julian terlihat mulai gelisah. Sudah berkali kali dia menekan bell- namun tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu untuknya. Padahal Julian sudah memastikan kalau hari ini Maura dan Papa nya ada di rumah.


"Apa mereka lagi pergi ya? tapi Ara bilang dia ada-,"


Clek!


Gumaman Julian terhenti saat pintu rumah terbuka, pria itu reflek mundur sembari berdehem pelan- menetralkan debaran jantungnya yang semakin menggila. Tapi sepertinya Julian akan bertambah gila setelah ini, di ambang pintu seorang pria bertubuh besar, berkumis tebal, berotot dengan kulit tan yang menambah kesan garang.


Glek!


Secara tidak sadar Julian menelan salivanya susah payah, kedua kakinya melemas- namun Julian berusaha untuk tetap berdiri tegap.


"So-sore Om," sapa Julian ramah.


Pria muda berdimple di dagu itu menampilkan senyuman manis, berharap agar pria paruh baya yang ada di depannya ini sedikit melunak.


"Mau cari siapa?"


Julian berdehem untuk kesekian kalinya, jujur saat mendengar suara bass itu seluruh bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


'Buset dah, kalo diliatin kayak gini terus bisa cepirit di celana gue,' hati Julian meringis.


"Sa-saya mau nyari A- Maura sama Papanya, Om."


Pria berkumis bak Pak Raden itu menatap datar pada Julian. Terlihat tidak suka, namun sepertinya rasa penasaran lebih mendominasi saat ini.


"Mau apa?" tanya lagi.


"Mau, saya mau me-,"


"Julian!" seruan seorang gadis dari belakang tubuh pria setengah baya itu, membuat bibir Julian kembali mengatup.


Kedua matanya berbinar, senyuman tipisnya terbit- Julian merasa hidup kembali saat melihat gadis kesayangannya datang menyelamatkannya.


"Kamu kenal sama dia?"


Maura menoleh, gadis itu mengerjab pelan mendengar suara Sang Papa. Maura tidak menyahut, gadis itu hanya meringis saat melihat wajah berbinar Julian.


"Perkenalkan Om, saya Julian Rajendra. Kedatangan saya kesini buat nge-,"


"Pah, Mao mau ngomong dulu sama Julian!" Maura memotong cepat ucapan kekasihnya.


"Kamu mau ngapain ketemu sama Papa?" bisik gemas Maura.


Ekor matanya terus saja melirik ke arah Halim Wibisono, Maura menatap penuh penasaran pada Julian.


"Ya mau ngelamar kamu lah, ya kali mau ngelamar pembantu kamu. Udahlah awas, aku belum selesai ngomong sama Papa mertua aku!"


Julian menyerahkan buket bunga tulip pada Maura, lalu melenggang pergi meninggalkan sang gadis yang menatap tidak percaya.


"Astaga Julian! kamu bisa abis sama Papa," cicit Maura.


Gadis berwajah cantik itu melangkah lunglai. Maura mendekap buket bunga mahal itu erat, seolah tengah memberikan kekuatan pada orang yang saat ini tengah bersikap keras kepala.


Maura semakin mendekat, samar samar gadis itu dapat mendengar obrolan kedua pria beda usia yang tidak jauh darinya.


"Jadi?"


"Saya mau melamar putri tunggal Om! saya harap Om akan menerimanya, karena kalau enggak saya tetap memaksa!"


Maura meringis, dia sampai mengigit ujung kartu ucapan yang ada di buket. Kedua matanya menatap memohon pada Julian agar tidak melanjutkan ucapannya. Ekspresi yang Maura tunjukan saat ini, sama seperti kedua anak manusia yang tengah menguping pembicaraan mereka di balik semak bunga kediaman Maura.

__ADS_1


Entah sejak kapan kedua orang itu masuk ke area rumah Maura, yang pasti saat ini Mia dan Januar terlihat saling pandang- yang pastinya dengan raut wajah khawatir mendengar ucapan Julian.


"Melamar?"


Julian mengangguk penuh semangat, kedua matanya berbinar saat Halim meresponnya. Jakun Julian naik turun, dia berharap kalau calon Papa mertuanya ini akan mengabulkan niat baiknya.


"Sejauh mana hubungan kalian? apa yang membuat kau berani melamar putriku? bahkan dengan mengancam ku, kau juga akan memaksa, apa alasannya?!" Halim terus saja mencecar, pria itu bahkan sudah bersidekap dada. Menaikan dagunya angkuh, melihat keterdiaman pria muda yang ada di hadapannya.


"Karena saya mencinta Maura, saya tidak mau kehi-,"


"Klasik!" tukasnya cepat.


"Alasanmu terlalu klasik anak muda. Cinta, mencintai, tidak ingin di pisahkan, semua itu hanya alasan klasik. Kau bilang cinta? aku tidak yakin kau akan tetap mencintai putri ku saat dia tidak muda lagi, aku tidak yakin kalau kau tidak akan mencari pengganti saat Maura pergi meniggalkan mu nanti, aku tidak yakin kau bisa cukup hanya dengan satu wa-,"


"Kenapa Om Halim bisa berpikiran seperti itu pada saya? bukannya kita baru bertemu, belum mengenal satu sama lain. Harusnya Om bisa melihatnya lebih dalam lagi, mungkin saya memang bukan pria baik. Saya memang pria brengsek yang pernah menyakiti putri kesayangan Om. Tapi dari sanalah saya belajar, saya belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan-," Julian menjeda, ekor matanya melirik pada Maura yang terdiam ditempat.


"Maka dari itu, saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Maura untuk saya. Saya akan membuktikan kalau apa yang saya ucapkan padanya selama ini, tidak pernah main main!" Julian menatap Halim dengan tegas.


Pria itu terduduk, menekuk satu lututnya- mendongak menatap Halim Wibisono yang saat ini tengah terkejut di buatnya.


"Papa Halim Wibisono, maukah kau menerima lamaran pria tidak sempurna ini?"


Maura menutup mulutnya, menatap tidak percaya pada Julian yang saat ini tengah berlutut di hadapan Papanya, sembari mengulurkan sebuah kotak hitam elegan berisikan cincin indah berwarna putih.


Dua orang yang ada di balik semak pun sama terkejutnya, Mia bahkan sudah mengigit lengan Januar karena gemas. Ada rasa iri di hatinya, saat melihat Maura di lamar begitu romantis oleh kekasihnya.


"Kayaknya besok Janu juga harus kayak Julian," gumamnya pelan, namun tidak di dengar oleh Mia, karena gadis itu masih terpesona pada lamaran dramatis kakak iparnya.



BAPAKE MAO



MANTUNE SING MAKSA



**KANG NGINTIP PLUS YANG BAKALAN NIRU ADEGAN BERBAHAYA😂😂😂


SEE YOU MUUUAAAACCHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2