Suamiku Autis

Suamiku Autis
Kekecewaan


__ADS_3

Januar menguap kecil, dia menggeliat saat merasakan seluruh tubuhnya pegal- kedua matanya mengerjab pelan ketika menyadari sesuatu.


Januar mendongak, pria itu menatap polos pada Mia yang saat ini tengah mengusap lembut kepalanya. Januar membatu sejenak- kedua matanya menatap lekat pada Mia yang tengah tersenyum padanya.


"M-Mia?" lirihnya.


Mia semakin melebarkan senyumannya, wajah pucat Mia sangat terlihat jelas sekali. Kedua tangannya perlahan turun, menangkub kedua pipi suaminya.


"Mas Janu udah makan?" suara lirih yang Mia keluarkan, membuat Januar semakin terdiam.


Perlahan pria itu bergerak, mendekat pada Mia tanpa memutuskan tatapannya. Kedua matanya terlihat menyendu bahkan sudah berembun, napas Januar terlihat naik turun menahan sesuatu yang siap meledak.


"Mas Janu-,"


"Huaaaaaa Mia jangan tidur lagi! Janu takut kalau Mia tidur. Enggak ada yang mau ngomong sama Janu kalau Mia enggak ada!" Januar menangis di dada istrinya, pria bertubuh besar itu terisak bahkan sesegukan karena terlalu mendalami tangisnya.


"Kok nangis sih? malu loh kalau ada suster masuk. Nanti mereka ngomongin Mas Janu cengeng, padahal kan enggak- Mas Janu enggak cengeng cuma gampang nangis."


Mia terlihat panik, dia tidak tahu kenapa suaminya menangis saat melihatnya sadar. Apa mungkin Januar begitu takut saat melihatnya tidak sadarkan diri selama beberapa jam?


Mia berusaha menenangkan Januar, namun sepertinya pria itu masih menikmati tangisannya. Januar bahkan enggak menjauh dari tubuh istrinya, dia terus saja merengkuh Mia dengan erat.


"Mas Janu udah jadi suami loh. Kata orang kalau cowok udah jadi suami gak boleh nangis apa lagi cengeng, nanti istrinya bisa-,"


"Enggak! Janu enggak nangis kok. Lihat, Janu tadi cuma kelilipan."

__ADS_1


Kedua sudut bibir Mia berkedut, gadis itu menahan senyumannya saat melihat wajah dan hidung memerah suaminya, apa lagi saat melihat kedua mata sembab Januar yang terus saja mengalirkan air mata tanpa henti. Padahal pria itu sudah menyekanya berulang kali.


"Senyum dong, tahan air matanya biar gak keluar lagi. Nanti air matanya bisa abis kalau Mas Janu nangis terus," bujuk Mia dengan lembut, bahkan sebenarnya dia ingin sekali tertawa geli melihat ekspresi Januar saat ini.


Januar tidak menggubris, pria itu kembali memeluk tubuh Mia- membenamkan wajahnya di dada istrinya tanpa ragu. Mungkin bagi Januar perbuatannya terlihat biasa saja, namun bagi Mia hal itu mampu membuatnya salah tingkah.


Terlebih hembusan napas hangat yang Januar keluarkan, membuat bulu roma di seluruh tubuhnya meremang. Mia menghela napas pelan, dia tidak dapat berbuat apa pun saat ini, bahkan Januar sama sekali mengabaikan ucapannya.


Pria bertubuh tinggi itu lebih memilih untuk kembali memejamkan kedua matanya, mendekap tubuh ringkih Mia tanpa ragu.


"Ya udah kalau Mas Janu masih ngantuk tidur aja." Mia menarik kedua sudut bibirnya, satu tangannya yang terbebas membalas dekapan Januar tidak kalah erat.


🌺SA🍭


Sudah hampir 24 jam lebih Mia di rawat. Tidak lama setelah Mia sadar, seorang dokter dan perawat kembali memeriksa keadaannya. Menurut penuturan sang dokter, kondisi Mia sudah lebih baik- tapi dia harus tetap istirahat total.


Januar tidak banyak bicara, dia hanya mengangguk paham. Bahkan saat dokter dan perawat itu selesai melaksanakan tugasnya- Januar sama sekali tidak berbicara apa pun pada Mia perihal hal itu.


Januar hanya meminta izin pada istrinya untuk pulang kekediaman Rajendra sekejap, untuk mengambil beberapa barang pribadinya dan milik Mia juga.


Awalnya Mia ragu dan tidak mengizinkan, namun saat dia melihat betapa serius dan dalamnya tatapan yang Januar berikan- Mia melihat ada sesuatu yang beda. Mia melihat kedewasaan di antara kedua netra indah itu, kedewasaan dan tanggung jawab seorang suami pada istrinya.


Bermodalkan selembar uang berwarna merah dari istrinya, Januar bergegas menaiki taksi untuk membawanya kekediaman Rajendra. Januar berulang kali menghela napas, memilin jari jemarinya gugup- dia menyesal tidak membawa rubik kesayangannya turut serta.


Disepanjang perjalan Januar hanya diam, dia tidak bersuara sedikit pun kecuali saat dirinya menyebutkan alamat yang akan dituju. Tidak lama taksi yang Januar tumpangi berhenti, pria itu segera keluar setelah melakukan pembayaran. Januar ingin secepatnya masuk lalu mengambil dompet serta beberapa pakaiannya dan Mia, setelah itu dirinya harus segera kembali lagi ke rumah sakit.

__ADS_1


Januar berjalan cepat, dia mengabaikan tatapan para pelayan. Januar yakin kalau para pelayan itu pasti bertanya tanya kenapa dirinya dan Mia tidak pulang tadi malam.


Bahkan Januar yakin kalau saat ini Sang Mama dan Julian tengah menanti kepulangannya. Januar membuka pintu utama tanpa menunggu siapa pun, kedua kaki panjangnya melangkah cepat menuju lift. Namun sebelum dia menjangkau lift, langkah Januar terhenti kala mendengar suara dari arah ruang tengah.


Entah kenapa, Januar yang biasanya tidak peduli dengan obrolan orang lain- kecuali Mia, kini terlihat ingin sekali mengetahuinya. Januar melangkah perlahan, mendekat ke arah pintu masuk dan bersembunyi di balik tembok.


"Sumpah Tante, aku enggak sengaja. Aku yakin Januar sama cewek itu lagi di rumah sakit sekarang makanya mereka enggak pulang."


Dahi Januar berkerut dalam, kedua tangannya terkepal mendengar ucapan gadis yang tengah berhadapan dengan Mamanya.


"Kenapa bisa?!" sentak Nyonya Arista.


Kedua alis Sang Nyonya Rajendra menukik, menatap tajam pada gadis muda yang ada di hadapannya.


"A-aku lagi nelepon seseorang, aku enggak tau kalau di depan aku ada orang dan lampunya udah merah. Aku enggak sengaja nabrak istrinya Januar Tante, sumpah aku enggak sengaja!"


Tatapan Januar semakin dingin, jakunnya naik turun menahan sesuatu yang hampir meledak sekarang. Tapi dia berusaha tenang, mendengarkan percakapan kedua perempuan itu.


"Tenanglah Febby, kalau kamu kayak gini Tante juga ikut bingung. Apa lagi kalau sampai Janu tau, Tante gak tau harus ngapain. Yang penting sekarang kamu tenang, jangan bilang sama siapa pun tentang masalah ini- biar Tante yang akan menyelesaikannya. Tante pastiin kalau Janu atau siapa pun enggak akan tau, kalau kamu yang menabrak Mia kemarin!"


Nyonya Arista memeluk tubuh Febby, menepuk punggung gadis itu pelan- guna menenangkannya. Tanpa mereka sadari, kalau Januar sudah mendengar semuanya, dan terlihat kecewa dengan ucapan yang di lontarkan Sang Mama.


"Janu kecewa sama Mama." gumamnya pelan, sebelum dia berbalik dan bergegas menuju lift.


__ADS_1


**SEE YOU MUUUUAAAACCHH😘😘😘


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAHNYA 😘😘😘😘**


__ADS_2