
Mia terus saja mengulum senyum, tangannya merangkul erat lengan Januar yang tengah berjalan bersamanya.
Saat ini mereka berdua tengah berada di salah satu rumah sakit. Mia berniat mengajak Januar untuk menjenguk Eyang Putri. Mia menghembuskan napas pelan, siap tidak siap dirinya harus siap. Karena cepat atau lambat Nyonya Rajendra pasti akan mengetahui hubungannya dengan Januar.
Mia berharap kalau Eyang Putri tidak akan kembali Collapse, dan Nyonya Arista tidak akan meminta Januar untuk meninggalkannya.
"Apa Mia takut?"
Mia menoleh, kedua matanya menatap lekat pada pria yang tadi pagi dia cium tanpa ampun. Bahkan Januar tidak mampu bergerak sama sekali saat dirinya menyerang suaminya tanpa ampun. Hanya berciuman tidak lebih, Mia juga tahu kalau otak polos Januar belum memahaminya. Januar baru mengerti apa arti mencintai, menyayangi, memiliki serta kehilangan.
"Kan ada Mas Janu, kenapa Mia harus takut. Mia enggak takut kok, Mia cuma khawatir sama Nyonya Eyang,"
Mia menipiskan bibir, dia berusaha untuk tenang. Walaupun didalam hatinya berbanding terbalik dengan mulutnya.
Mia semakin gugup, saat pintu VVIP ruang rawat inap Eyang Putri sudah terlihat. Genggamannya pada tangan Januar semakin mengerat, Mia menghirup napas dalam- berusaha menetralkan degupan jantungnya.
"Mia apa Janu yang buka?" tanya Januar.
"Oke biar Janu aja!"
Belum sempat Mia membuka suara, Januar sudah menawarkan diri. Pintu kaca itu terbuka, tanpa beban Januar melangkah masuk. Mia bahkan sedikit terseret, saat dirinya tidak mampu menggerakkan kedua kakinya lebih jauh lagi.
__ADS_1
Mia mencengkram lengan Januar, saat dia melihat beberapa orang tengah tertawa kecil bersama Nyonya Arista dan belum menyadari kedatangan dia dan Januar. Sedangkan Eyang Putri, wanita sepuh itu tengah bersandar ditempat tidur dan terlihat lebih baik.
"Eyang, Mama?" Januar mulai membuka suara. Pria berkaos abu abu itu menatap tenang, saat semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearahnya.
Januar membiarkan Mia mengeratkan genggamannya, Januar tahu kalau saat ini Mia tengah gugup dan mungkin sedikit takut.
"Ja-Janu?" ucap Eyang Putri dan Nyonya Arista bersamaan.
Nyonya Arista segera berdiri, dia masih tidak percaya kalau putra bungsunya sudah ada disini. Tanpa menunggu lagi Nyonya Arista memeluk tubuh besar Januar, membuat Mia di paksa untuk mundur dan melepaskan genggaman tangan mereka.
Nyonya Arista bahkan memberikan banyak kecupan di wajah serta kepala Januar. Sangat terlihat sekali kalau kedua matanya sudah berkaca kaca, namun wanita itu menahannya agar tidak menangis.
"Kemana saja kamu Sayang? apa Julian yang bawa kamu kesini?" cecar Nyonya Arista.
"Janu kesini sama, Mia!"
Senyum di bibir Nyonya Arista luntur, dahinya berkerut, wajahnya berubah datar- pandangannya beralih pada gadis yang ada di belakang tubuh putranya.
Sang Pengasuh.
"Kenapa kamu bisa sama dia? apa selama ini dia yang sudah nyembunyin kamu? jujur sama Mama Januar!" suara Nyonya Arista terdengar rendah.
__ADS_1
Tatapannya yang lembut kembali menajam, terlebih saat dia menatap pada Mia. Nyonya Arista begitu menampakan ketidaksukaannya- namun ekspresinya berubah saat wanita itu kembali menatap pada Januar.
"Enggak, Mia enggak pernah sembunyiin Janu. Janu yang sengaja datang ke rumah Mia, Janu yang enggak mau pulang, Janu kangen sama Mia- tapi Mama sama Eyang enggak pernah izinin Janu buat ketemu Mia!"
Januar mengeluarkan sebagian unek uneknya, pria itu menatap sendu pada Eyang Putri. Dari tatapannya Januar berharap kalau Sang Eyang tidak akan memarahi Mia seperti Mamanya.
"Tapi Mama khawatir Januar! kamu bikin Mama sama Eyang takut. Pokoknya nanti kamu harus pulang ke rumah kita!" tegas Nyonya Arista.
Januar melangkah mundur, " Enggak! Janu enggak mau pulang. Kalau Janu pulang Mia juga harus ikut!" kekeuhnya tak mau kalah.
"Tapi dia bukan pengasuh kamu lagi Janu, dia sudah tidak bekerja di ru-,"
"Mia memang bukan pengasuh Janu lagi Mama, tapi Mia istri Janu!" tukas Januar menyela ucapan Nyonya Arista.
Mia yang mendengar ucapan Januar tanpa beban, merasa kedua kakinya melemas. Dia tidak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri, kalau saja dirinya tidak berpegangan pada kaos Januar.
**KUATKAN MENTAL MU MIIIIIAAAAAA
SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘**