
Julian bersiul riang memasuki loby rumah sakit, senyum di bibirnya tidak luntur sedikit pun. Hari ini dia sengaja membolos dari kantor hanya untuk menjenguk Eyang Putri.
Sejak hubungannya bersama Maura kembali, tiap detik yang Julian lalui terasa indah. Tidak sia sia dia memaksa dan menunggu Maura, sampai menjadi santapan lezat kaum nyamuk di parkiran rumah sakit.
Akhirnya gadisnya mau mendengarkan penjelasannya yang terdengar menyebalkan untuk Maura, namun Maura tetap saja membiarkan Julian berbicara.
Dan sekarang, setelah mengantar sang pujaan hati ke rumah sakit lain untuk melalukan tugasnya, kini Julian sudah berada di rumah sakit tempat Eyangnya di rawat.
Dahi Julian mengernyit, saat melihat sang Mama masuk kedalam lift. Ternyata Nyonya Arista juga membolos dari kantor, Julian menghentikan langkahnya- dia bingung harus lanjut atau berbalik.
"Kalau Mama disini bisa kena omel gue," gumamnya.
Tapi tak urung Julian tetap melanjutkan langkahnya. Sepertinya pria itu tidak peduli kalau sang Mama yang merangkap sebagai atasannya akan memotong gajinya bulan depan.
Julian memasuki lift, suasana lift yang ramai membuatnya tidak nyaman. Julian berharap kalau benda ini cepat sampai, selang lima menit kemudian lift yang Julian naiki berhenti. Pria berpakaian formal itu segera keluar, menghembuskan napas kasar karena tidak kuat menghirup berbagai wangi parfum saat berada di dalam lift.
"Berasa di kamar jenazah," ujarnya pelan, Julian mengibaskan tangannya guna menghilangkan bau yang mengganggu sistem pernapasannya.
Pria berdimple di dagu itu segera membuka pintu ruang rawat Eyang Putri, Julian menaikan sebelah alisnya saat melihat Januar dan Mia berada di dalam.
"Kalian masih di sini?"
Suara Julian mengejutkan ketiga orang yang tengah mengobrol itu. Eyang Putri tersenyum melihat cucu pertamanya. Sekalipun Julian bukan cucu kandungnya, Eyang Putri tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Bagi Eyang Putri, Julian dan Januar adalah cucu nya- walaupun terkadang keduanya tidak akur, baginya adalah hal biasa.
"Kamu jenguk Eyang enggak bawa apa apa, Jul? padahal Eyang berharap kamu bawa sesuatu," Eyang tertawa kecil mendengar Julian berdecak.
__ADS_1
Pria itu melepaskan jasnya, mendudukkan diri di dekat Januar. Satu tangannya meraih buah Apel yang tersedia diatas meja.
"Aku udah bawa beban hidup Eyang. Harus bawa apa lagi, nanti deh aku bawain tugas kantor aku kesini,"
Eyang Putri menggelengkan kepala, sedangkan Januar menatap tak berkedip pada Julian. Januar seakan tengah memindai penampilan kakak nya dari atas hingga bawah.
"Janu juga mau pakai baju kayak, Julian," cetusnya.
Julian hampir saja tersedak, kedua matanya memicing pada adik tirinya. Namun tidak lama Julian menghembuskan napasnya kasar. Pria itu menggeser tubuhnya agar semakin merapat pada Januar.
"Lo mau pake baju kayak gue?"
Januar mengangguk mantap, kedua matanya berbinar cerah. Bahkan Januar tersenyum saat melihat Julian menampilkan senyuman jahilnya.
"Jul, Eyang bakalan lempar kamu pakai jeruk kalau kamu ngajarin yang gak bener sama Janu!"
Julian melirik pada Eyang Putri, pria itu mengedipkan sebelah matanya genit pada wanita sepuh yang tengah menatap garang padanya.
"Ini urusan cowok, Eyang gak usah tau!" cetusnya.
Julian menarik lengan adiknya, menuntun Januar menjauh dari pengawasan Eyang Putri dan Mia tentunya.
Sebenarnya Mia ingin mencegah, tapi saat ini dia membiarkan kedua pria itu menyelesaikan urusannya.
"Janu harus apa?"
__ADS_1
Julian tersenyum lebar, kedua matanya menatap serius pada Januar.
"Sini gue bisikin!" tegasnya.
Januar masih diam di tempat, pria itu belum menuruti perintah Kakak tirinya. Namun tidak lama tubuhnya terhuyung merapat pada Julian, saat Julian menarik kepalanya.
Dahi Januar mengernyit, bahkan raut wajahnya terlihat seperti orang bingung. Dia mendengar semua yang Julian bisikan, tapi dirinya belum menangkapnya dengan baik.
"Gimana lo ngerti kan? buat sebanyak mungkin, tapi pelan pelan aja kan baru perdana. Nah kalau lo udah bisa buat, nanti gue bawa lo kekantor dan lo kerja di sana!"
"Tapi Janu enggak tau caranya," lirih Januar.
Julian melunturkan senyumannya, raut wajahnya berubah datar dan dingin. Giginya gemertuk menahan rasa kesal yang sudah berada di ubun ubun.
"Gunain insting lo sebagai pemangsa! paham kagak? kalau gak paham juga entar gue kirim caranya!"
Januar tidak menjawab, pria itu hanya menatap bingung pada Julian sembari mengangguk pasrah.
**JUL LO JAN MACEM MACEM DAH, ATU MACEM AJA SAMA MAURA SANA😂😂😂
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUAACHH😘😘**
__ADS_1