
Seminggu sudah Mia kembali kekediaman Rajendra. Saat ini Mia tengah sibuk membungkus beberapa parcel bersama para pelayan dan Nyonya Arista. Besok keluarga Rajendra akan berkunjung ke rumah Wibisono untuk meminang putri tunggal keluarga itu.
Kedua sudut bibir Mia terangkat, hatinya ikut berbahagia saat Maura sahabatnya, sudah mendapatkan tambatan hati yang sebenarnya. Dengan semangat Mia memasukan dua pasang sepatu mahal kedalam kotak parcel. Sepertinya bukan hanya benda ini yang Julian berikan untuk calon istrinya, namun masih banyak lagi.
Beruntung sekali sahabatnya itu.
Ekor mata Mia melirik kearah jam yang tergantung di dinding. Mia sedikit terkejut, ternyata hari sudah mulai sore- tapi dia belum sempat memberikan camilan dan obat untuk Januar. Mia segera bangkit, kedua tangannya menepuk potongan kertas yang menempel di pakaiannya.
"Emm- Ma, aku mau lihat Mas Janu dulu ya," ujar Mia terbata.
Jujur Mia masih canggung saat harus memanggil Nyonya Arista dengan panggilan Mama. Sehari setelah kepulangannya, Nyonya Arista meminta Mia mulai membiasakan untuk memanggilnya Mama.
"Iya, nanti kalau udah waktunya makan malam kalian turun ya!"
Mia mengangguk, gadis itu segera bergegas menuju dapur membuatkan camilan untuk Januar. Mia segera meraih apron, membongkar isi lemari es, mencari sesuatu yang bisa dia jadikan makanan untuk suaminya.
Kedua tangan Mia begitu lihai memotong sayuran dan beberapa buah sosis besar. Sore ini dia akan membuatkan Januar sosis bakar dengan salad sayur. 30 menit lamanya Mia bergelung di dalam dapur, kedua menu masakannya sudah siap- dan Mia harus segera bergegas menuju kamarnya.
Mia segera meninggalkan dapur setelah membereskannya. Dia berjalan tergesa karena tidak ingin kalau Januar melewatkan waktu minum obatnya.
Ting!
Pintu lift yang menuju lantai kamarnya terbuka, Mia bergegas keluar dengan langkah lebar. Nampan besar berisikan dua menu makanan yang dia bawa sama sekali tidak menyusahkannya.
Langkah Mia terhenti, gadis cantik itu menghela napas kasar saat sudah berada di depan pintu kamarnya. Tanpa mengetuk Mia segera masuk, langkahnya melambat saat dirinya tidak menemukan siapa pun di dalam sana.
"Mas Janu?" panggilnya.
__ADS_1
Mia meletakan nampan yang di bawanya diatas tempat tidur. Kedua matanya menatap liar keseluruh sudut kamarnya.
Kosong, Januar tidak ada di dalam.
Helaan napas kembali terdengar, Mia memutuskan untuk mencari di kamar mandi. Dengan langkah yakin Mia mendekat, satu tangannya terangkat hendak mengetuk pintu kamar mand- namum gerakannya terhenti saat sudut matanya melihat seseorang di balkon kamar.
Dahi Mia berkerut dalam, kedua matanya mengerjab pelan saat melihat Januar tengah berdiri di balkon hanya menggunakan sepotong handuk. Bahkan saat ini Januar tengah bersandar nyaman di pembatas balkon, kedua tangannya terlipat di dada, netranya menatap lembut ke arah Mia dengan senyuman menawan di bibir semerah cherry nya.
Tubuh Mia tertanam di tempat, kedua matanya tidak lepas dari Januar. Terlebih saat pria yang berstatus sebagai suaminya itu mulai berjalan ke arahnya. Senyuman menawan yang Januar tampilkan saat ini tidak surut sedikit pun.
Napas Mia tercekat, tenggorokannya naik turun, bahkan tanpa sadar Mia melangkah mundur hingga menabrak pintu kamar mandi, saat Januar semakin mengikis jarak dengannya.
"Kenapa lama sekali?" suara serak dan berat Januar membuat Mia meremeng.
Dugh!
Punggung gadis itu sudah terhimpit, Mia merapat pada pintu kamar mandi saat Januar terus saja mendekat.
Gleek!
Mia mengalihkan tatapannya kearah lain. Entah kenapa beberapa hari ini Mia merasa kalau Januar agak sedikit berbeda, agresif lebih tepatnya. Terlebih setelah Januar dan Nyonya Arista mendaftarkan pernikahan mereka ke kantor KUA, bebarengan dengan Julian dan Maura.
Artinya sudah satu minggu ini Mia dan Januar sudah resmi menjadi suami istri sah secara agama dan negara.
"M-Mas Janu belum minum obat kan?" satu tangan Mia terangkat, menghadang tubuh polos suaminya yang semakin merapat.
Mia bahkan dapat merasakan debaran jantung Januar secara jelas, sangat kencang.
__ADS_1
"Janu enggak sakit Mia, kenapa harus minum obat terus," bisiknya.
Mia memejamkan kedua matanya saat Januar berbisik tepat di depan biburnya. Pria bertubuh sempurna itu bahkan menundukkan wajahnya, lalu meraih dagu Mia agar istrinya tidak membuang wajah lagi darinya.
"Lihat, Janu udah sehatkan. Sekarang Janu udah siap jadi suami seutuhnya buat Mia." imbuhnya lagi.
Cup!
Tanpa aba aba Januar memberikan satu kecupan dalam di bibir Mia, melahapnya secara perlahan- memagutnya pelan tanpa memberikan kesempatan pada Mia untuk melepaskannya.
Kedua tangan Januar sudah meraih pinggang kecil istrinya, perlahan merambat ke area atas untuk meraih tengkuk Mia guna memperdalam pagutannya.
Mia yang masih terkesiap belum memberikan respon apa pun, dia membiarkan Januar mengikuti insting kelelakiannya. Mia ingin melihat sampai dimana ilmu yang Januar dapatkan dari Julian.
Jangan kira Mia tidak tahu kalau selama ini Januar sudah di doktrin oleh kakak iparnya, dengan hal yang berbau dewasa.
Beberapa belas menit berlalu, Januar belum menghentikan ciumannya. Pria itu hanya memberikan jeda beberapa detik pada Mia untuk bernapas. Setelah itu Januar akan kembali menyerang istrinya, bahkan saat ini Mia sudah berada didalam gendongan Januar, saat pria itu semakin memojokannya ke tembok.
Perlahan kedua tangan Mia melemas, bergerak pelan menuju tengkuk dan berakhir diatas kepala suaminya. Mia sepertinya mulai terpacing, dengan hati hati Mia mulai menggerakan bibirnya- menekan dan meremas kepala Januar.
Suara decapan dan lenguhan keduanya begitu merdu, tanpa Mia sadari saat dia membalas pagutan Januar, salah satu sudut bibir pria itu terangkat.
Cengkraman yang Mia berikan semakin brutal, bahkan Januar mendesis pelan saat Mia menarik rambutnya. Desisan dan lenguhan itu ternyata masih bisa di dengar oleh seseorang dari luar kamar. Tubuh orang itu membatu, tangannya yang hendak meraih handle pintu kembali terurung.
"Masih siang gila! lain kali kalau mau tebar cebong kunci dulu pintunya!" omelnya kesal.
__ADS_1
**DESPASITO AJA MAS JANU ππππ
SEE YOU MUUUUAACCHHHπππ**