
Mia mengerucutkan bibirnya, gadis itu menatap kesal pada suaminya yang saat ini tengah tidur sembari memeluk perut ratanya.
Mia menghela napas kasar, tangannya terus saja mengusap lembut kepala Januar. Selepas adegan ciuman amatiran dan tergesa yang mereka lakukan tadi, tubuh Januar melemas karena kehabisan napas.
Januar dengan ganas melahap bibir merah dan bengkak istrinya tanpa jeda, alhasil paru paru pria itu kehabisan udara- bukan hanya Januar yang menggila, tapi Mia juga ikut terhanyut. Bahkan tanpa sadar Mia melepaskan pakaian atas yang digunakan oleh Januar, saat suaminya terus saja menyerangnya tanpa ampun.
Tapi, saat suasana semakin panas- Januar menghentikan ciuman ganasnya. Napas pria tampan itu terengah, kedua tangannya menangkub wajah chubby Mia dengan tatapan lekat dan dalam.
'Janu capek, Mia peluk Janu ya. Janu mau bobok,'
Mia sampai speechless di buatnya, kedua matanya mengerjab pelan- menatap tak percaya pada sang suami. Kenapa suami tampannya ini begitu polos, bahkan sangat polos. Tidak tahukah Januar, kalau dirinya sudah basah sampai serat terdalam.
Dan kini pria itu malah berhenti di tengah jalan, mengajaknya putar balik. Ingin rasanya Mia menangis kencang, namun Mia tidak bisa melakukannya. Gadis itu hanya bisa meringis gemas, kalau saja rasa cintanya tidak sebesar ini- Mia tidak yakin malam ini Januar masih perjaka.
Helaan napas kasar kembali terdengar, Mia tersenyum kecut, moodnya turun drastis, gairah didalam dirinya belum hilang sepenuhnya- namun saat ini Mia tidak boleh egois, dirinya juga harus menghargai dan memaklumi keadaan suaminya saat ini.
__ADS_1
Cup!
Mia menunduk, bibirnya mengecup lembut dan dalam pelipis Januar. Tangannya mengusap lembut satu pipi Januar yang bisa Mia lihat dengan jelas.
"Kayaknya sekarang aku tau siapa yang bikin bibir aku bengkak," bisiknya lembut.
Mia tersenyum simpul, kedua tangannya membalas dekapan Januar tidak kalah erat, dan juga sepertinya Januar menyadari semuanya. Pria itu semaki mengeratkan pelukannya di tubuh Mia.
🍭 SA 🍭
Perlahan Julian menggeser tubuhnya, mendekat pada Maura setelah dia melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Tatapan Julian terlihat sayu dan dalam, dengan hati hati Julian menyusuri permukaan wajah Maura menggunakan jari jemari panjang dan besarnya.
Manik mata Julian perlahan turun, tertuju pada satu titik dimana benda kenyal merah muda milik Maura terlihat terus saja menggodanya. Jakun Julian naik turun, napas pria itu bahkan terdengar tidak stabil- namun Julian tetap saja mendekat dan semakin mendekat, hingga-
Tubuh Julian tertanam ditempat, saat melihat kedua mata Maura terbuka. Bukan hanya terdiam, Julian juga merasa kalau aliran darahnya terhenti begitu saja, kala melihat tatapan yang di berikan oleh Maura.
__ADS_1
"A-aku, aku cuma mau lepasin sabuk pengaman aja kok. Aku enggak mau ma-,"
Belum sempat Julian melanjutkan ucapannya, Maura sudah terlebih dahulu meraih tengkuknya- lalu menempelkan kedua bibir mereka. Hanya menempel, karena Maura tidak tahu harus bagaimana selajutnya. Sedangkan Julian, pria muda itu terkejut setengah mati- bahkan rasanya jantung serta hatinya sudah turun ke perut.
Tubuh Julian melemas, bahkan dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, menghentikan atau melanjutkan adegan langka ini. Karena baru kali ini Maura agresif padanya, karena biasanya gadis galak yang dia cintai ini akan memukul, atau bahkan menendangnya keras saat dia menggoda Maura.
Tapi sekarang, justru Maura sendiri yang membangunkan Red Bull yang telah lama mati suri.
"Kenapa diam aja sih? ayo gerak!"
Ucapan galak yang Maura lontarkan membuat Julian tersentak, bahkan tanpa sadar pria itu segera mengerahkan bibirnya secara brutal dan aji mumpung.
Mumpung Maura sedang kesurupan arwah suster ngesot!
__ADS_1
AAAIIIHHHH KENAPA MAS JANU MAKIN KIIUUTT KALO PUNYA KUMIS,😍😍😍