Suamiku Autis

Suamiku Autis
SA BAB 71 Jurus Jitu


__ADS_3

Maura terus saja mengigit ujung kukunya, sesekali dia menoleh ke arah pintu untuk memastikan sesuatu. Saat ini Julian dan Halim- sang Papa tengah berbicara di ruang tengah.


Maura tidak tahu kenapa Papanya malah membawa Julian masuk, padahal dia mengira pria berkumis tebal itu akan mengusir Julian tanpa basa basi, tapi nyatanya?


Maura menghela napas pelan, gadis itu mendudukkan dirinya di kursi. Kedua matanya menatap kosong ke arah panci kecil yang ada di atas kompor.


"Sstttt! Mao, buka pintunya!"


Suara desisan seseorang dari luar tidak mampu membuat Maura tersadar. Gadis itu masih sibuk dengan pemikirannya, entah kenapa Maura merasa kalau ada sesuatu yang akan terjadi padanya.


Tok


Tok


Tok


"Maura Wibisono! bukan pintunya woy!"


Maura tersentak, kedua matanya membelalak saat melihat Mia di balik jendela kaca dapurnya. Maura bangkit, gadis itu menatap sekitar- dahinya berkerut dalam melihat sahabatnya berada di area rumahnya.


"Lo ngapain masuk lewat dapur?"


Maura segera membuka pintu kaca rumahnya, menatap tidak percaya pada Mia yang hanya menampilkan cengiran lebarnya.


"Bentar, lakik gue ketinggalan. Mas Janu sini, ngapain di situ?!" Mia melambaikan tangannya pada pria yang tengah berjongkok di depan pot bunga.


Maura semakin mengernyit, kedua matanya menatap penuh intimidasi pada Mia. Perlahan pandangan Maura bergulir pada pria bertubuh tinggi yang tengah menggandeng lengan sahabatnya.


Ganteng,


Satu kata yang bisa Maura deskripsikan saat ini. Namun tidak lama Maura menggelengkan kepalanya, bisa bisanya dia memuji pria lain disaat nasib kekasihnya sedang di ujung tanduk.


"Ini siapa? lo nyulik anak perjaka orang. Astaga Almia, gimana kalau emaknya nyariin?!" Maura menatap ngeri pada Mia, terlebih saat melihat pria berwajah tampan itu semakin mengeratkan pelukannya di lengan sang sahabat.


Sementara Mia, gadis berambut panjang itu hanya meringis, ekor matanya melirik pada Januar yang terlihat memalingkan wajahnya dari Maura.


"Emm- sebelumnya gue minta maaf sama lo Mao. Tapi janji lo jangan marah oke, janji!" Mia menyodorkan salah satu jari kelingking pada Maura. Sekian detik Maura tidak menanggapi, gadis itu masih menatap tidak berekspresi pada Mia.


Namun tidak lama setelahnya Maura meraih uluran kelingking Mia dengan malas, gadis yang akan bergelar sebagai dokter saraf itu berguman mengiyakan.


Mia menghela napas pelan, lewat ekor matanya dia dapat melihat Januar menatapnya diam diam.

__ADS_1


"Lo mau ngomong gak sih?!" Maura kembali bersuara.


"I-iya, sabar dikit kenapa sih!" Mia terlihat gugup. Tangannya perlahan meraih jemari Januar untuk dia genggam.


"Eemm- sebenarnya gue, sebenarnya dia ini su-,"


"Supir?" Maura menyela cepat.


Raut wajah Mia berubah datar, dia menatap malas pada sahabatnya. Mia berdecak kecil saat Maura menyela ucapannya.


"Suami gue!" tegas Mia.


Gadis itu membalas rangkulan Januar tak kalah erat, menunjukan pada Maura kalau ucapannya tidak salah. Sedangkan Maura, kedua matanya berkedip cepat- menatap secara bergantian sepasang anak manusia yang ada di hadapannya.


"Dih, enggak lucu bercandanya!" Maura tertawa kecil, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, menjauh dari Mia dan Januar.


Maura berjalan menuju pancinya yang sudah mendidih. Mulutnya terus saja mengoceh, dia masih tidak percaya pada ucapan sahabatnya.


Suami katanya?


Maura kembali terkekeh kecil, Mia memang selalu membuatnya serangan jantung. Dulu saat sahabatnya memutuskan untuk menjadi pengasuh anak berkebutuhan khusus, dirinya speechless di buatnya.


Dan sekarang, Mia mengaku kalau pria tampan yang dibawanya saat ini adalah suaminya. Maura yakin tidak lama lagi Mia akan mengatakan kalau dia sudah punya anak dari pria itu.


"MIA JANGAN GILA LO YA!"


Suara menggelegar Maura membuat tautan bibir keduanya terlepas, bahkan kedua orang yang saat ini tengah berbicara serius di ruang tengah ikut tersentak.


🍭SA🍭


Halim menatap bergantian dua pasangan di hadapannya. Pria berkumis tebal itu melipat kedua tangannya di dada.


Kumis tebalnya berkedut saat melihat Julian menghela napasnya kasar. Halim dapat melihat Julian melirik pada pria muda yang tidak jauh darinya. Pria yang tengah sibuk memainkan rubik rumit dengan lihai, tanpa terganggu atau pun merasa terintimidasi.


"Jadi apa maksudnya ini? datang tanpa di undang, dan juga ada yang lewat belakang. Apa kalian pikir pintu rumah saya rusak sampai harus masuk lewat dapur?" ucapnya datar.


Bahkan Mia reflek menggelengkan kepalanya, gadis itu meringis sendiri saat melihat tatapan datar yang Halim tujukan padanya.


"Mia minta maaf Om, tadinya Mia sama Janu mau lewat depan. Tapi waktu kita dengar Om lagi ngobrol sama orang jadi kita putar balik, gitu ceritanya." Mia menelan salivanya susah payah. Lewat ekor matanya dia melirik pada Maura yang sedari tadi hanya terdiam.


"Apa benar kamu dan pria ini sudah menikah, seperti yang Maura katakan tadi?" Halim mulai mengalihkan pembicaraan, kali ini raut wajahnya terlihat begitu serius. Halim menegakan tubuhnya, sedikit mencondongkannya agar dia dapat melihat dengan jelas sepasang kekasih yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Alisnya menukik saat melihat Mia melirik pada pria yang ada di sisinya. Kedua anak manusia itu masih terdiam, namun tidak lama Mia mengangguk- sementara Januar terlihat menatap bingung pada istrinya.


"Iya Om, Mia udah nikah sama Janu."


Mia meraih jemari Januar, meremasnya pelan. Mia sepertinya sudah terbiasa, disaat dia sedang gugup dia akan mencari tubuh Januar.


"Kakak mu sudah tahu?" Halim kembali bertanya, pria itu menghembuskan napas kasar saat melihat Mia menggeleng.


Tatapannya beralih pada Maura dan Julian. Halim berdehem pelan, pria berkumis itu mencoba rileks- dia tidak ingin para anak muda ini tertekan karenanya.


"Om dengar kakak mu dan suaminya akan pulang, Om harap kamu menceritakan semuanya sama Amira. Karena mau bagaimana pun dia adalah satu satunya keluarga mu, walaupun kamu memang tidak memerlukan wali nikah dari keluarga karena Ayah mu anak tunggal. Om siap bantu kamu untuk berbicara dengan Amira kalau kalian belum berani mengatakan semuanya nanti.


Mia mengangkat wajahnya, kedua matanya menyendu. Pria paruh baya ini memang selalu baik padanya, bahkan saat Ayahnya tiada Halim lah yang mengurus semua sekolahnya, saat Amira sibuk mengikuti kegiatan suaminya.


"Om enggak marah sama Mia?" cicitnya.


Mia terlihat masih khawatir, dia takut kalau Halim akan memarahinya karena sudah menikah tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Amira, Kakak Iparnya dan Maura.


Halim menipiskan bibir, pria itu kembali bersandar di sofa sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu menikah, itu lebih baik dari pada menjalin hubunga tanpa ikatan pasti." Halim melirik pada Maura dan Julian.


"Dan untuk kau, kalau kau benar benar menginginkan putriku- bawa keluarga mu untuk meminangnya. Aku beri kau waktu dua hari, bawalah keluarga mu kerumah ini!"


Kali ini Julian yang tersentak, kedua bola mata pria itu hampir terlepas dari tempatnya. Diam diam Julian melirik pada Januar, entah kenapa otak sebesar kelerengnya itu memikirkan sesuatu yang di luar dugaan siapa pun.


"Ekhem, mohon maaf calon Papa Mertua. Apakah kalau saya hanya membawa adik saya, anda akan menerima lamaran saya?" Julian menampilkan senyuman cerah, pria itu menatap berbinar pada Januar dan Mia.


"Aku bilang keluargamu. Bawa saja keluarga yang kau punya, keluarga sendiri bukan keluarga tetangga!" tukasnya kesal.


Julian semakin melebarkan senyumannya, pria itu bangkit- kedua kakinya membawa dia mendekat pada Mia dan Januar.


"Saya sudah membawa keluarga saya calon Papa Mertua. Ini Januar adik kesayangan saya, dan ini Mia adik ipar saya yang paling imut. Jadi, apa calon papa mertua menerima lamaran saya sekarang?"


Halim speechless begitu pula dengan Maura, Ayah dan anak itu saling pandang dengan wajah bingung. Sedangkan Julian malah semakin melebarkan senyuman manisnya, Januar dan Mia hanya saling tatap, keduanya terlihat pasrah saat Julian menjadikan keduanya senjata ampuh.



NYOSOR GAK TAU TEMPAT


__ADS_1


**JUL JUL PALING BISA MANFAATIN SITUASI😂😂😂


SEE YOU MUUUAAAACCHH😘😘😘**


__ADS_2