
Mia menatap kosong ke arah cermin, ucapan Julian masih terngiang di otaknya. Terlebih saat Julian memberitahu kalau Eyang Putri collapse setelah Januar pergi dari rumah.
Secara tidak langsung dia ikut andil bukan? walaupun dirinya tidak tahu dan tidak mengira kalau Januar akan nekat. Apa lagi sekarang, mereka berdua sudah menikah- bagaimana reaksi Nyonya Arista dan Eyang Putri saat mengetahuinya nanti.
Mia berharap Eyang Putri tidak akan kembali collapse. Haruskah dia ikut ke rumah sakit bersama Januar?
"Mia?"
Panggilan Januar tidak mampu menyadarkan Mia dari lamunannya. Gadis itu memilin kaos hitam yang ada di tangannya. Kaos yang akan di pakai oleh Januar malam ini.
"Mia, bajunya Janu mana?" Januar kembali bersuara, pria yang hanya memakai handuk itu turun dari atas tempat tidur. Mendekat pada Mia, kedua tangannya terulur mendekap tubuh Mia dari belakang.
Rasa dingin yang berasal dari tubuh Januar, berhasil membuat Mia tersadar. Gadis itu mengerjab cepat, tubuhnya membeku saat melihat ada dua lengan besar melingkar di perutnya. Mia dapat melihat jelas wajah tampan Januar dari cermin, perlahan senyuman tipis Januar terbit dan Mia dapat melihat dengan jelas.
Seakan senyuman manis Januar adalah penyakit menular, Mia pun ikut tertular. Gadis itu mengembangkan senyumannya, mengusap lembut lengan Januar yang membelit tubuhnya.
Jantung Mia semakin berdegup tidak karuan- saat Januar meletakan dagu di bahunya. Mia bahkan harus menahan napas, kala hembusan napas hangat Januar menerpa batang lehernya.
"Mia kenapa? Janu manggil Mia dari tadi, tapi kayaknya Mia enggak dengar," bisik Januar.
__ADS_1
Glek!
Mia menelan saliva susah payah, kedua kakinya melemas- saat Januar semakin menyerukan wajah pada lehernya. Sebagai wanita normal, dan sangat normal- Mia merasakan seluruh tubuhnya meremang.
"Mia hangat, Janu suka. Boleh enggak, kalau Janu meluk Mia kayak gini terus nanti malam?"
Lidah Mia kelu, gadis itu memejamkan kedua matanya. Menetralkan degupan jantung yang semakin menggila. Terlebih posisi mereka berdua saat ini, terkesan sangat intim sekali.
Tubuh Januar yang hanya memakai sepotong handuk, memperlihatkan tubuh putih polos tanpa cacat, dengan bentuk yang mampu membuat Mia mimisan. Mia dapat melihat kedua lengan besar berurat suaminya dari cermin.
Gigitan di bibir bawahnya semakin menjadi, saat Mia merasakan sesuatu yang mengganjal di tubuh bagian belakangnya.
Mia ingin memekik, namun sebisa mungkin dia tahan. Dirinya sudah sering melihat bentuk onderdil Januar, dari mulai ukuran M sampai berubah menjadi tripel XXXL.
Mungkin dulu sebelum mereka menikah, Mia segera melupakan dan menepis pikiran kotor yang mulai menyerang saraf di otaknya. Namun sekarang, bolehkah dia mempertahankan semua itu didalam kepalanya?
Bolehkah dia yang mendominasi disini? disaat Januar belum paham, haruskah Mia yang mengajarkannya? tidak dosakan?
"Ja-Mas Janu pakai baju dulu ya, nanti masuk angin!"
__ADS_1
Mia melepaskan belitan tangan Januar yang ada di perutnya. Gadis itu berbalik, menghadap sempurna pada Januar, senyuman Mia tidak luntur sedikit pun.
Perlahan kedua tangan Mia merambat naik, menyentuh pundak kokoh suaminya. Meremasnya pelan, menatap lekat kedua mata Januar yang juga tengah menatap dalam padanya.
"Boleh Janu peluk Mia lagi?"
Kedua mata Mia berkedip lambat, bibirnya sedikit terbuka- gadis itu tidak bisa mengatakan apa pun. Mia hanya mengangguk pelan, setelah itu dia menunduk dalam dengan wajah memerah.
Mendapat persetujuan, Januar kembali mendekap Mia. Membawa tubuh istrinya kedalam pelukan eratnya, suhu tubuh Januar semakin meningkat kala Mia membalas dekapannya tak kalah erat.
Keduanya saling menyalurkan kehangatan lewat dekapan, keduanya akan bersabar, karena semuanya berproses dan butuh banyak belajar sebelum di praktekan.
**ADUH MAS JANUUUUU 😫😫😫😫
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘**
__ADS_1