
Setelah turun dari mobil Aditya, kini Adinda memesan taxy onlen. Adinda lalu menaiki taxy onlin itu dan setelah beberapa menit perjalanan akhirnya kini ia telah sampai di Restaurant yang nampak sudah ramai oleh pengunjung dan para kontestan yang mengikitu lowongan kerja.
Tegang campur aduk nampak sangat terlihat jelas di raut wajah Adinda, dan kini ia berusaha menyemangati dirinya sendiri dan yakin bahwa ia akan di terima bekerja menjadi chef yang sangat di idamkannya.
"Untung gue gak terlambat.." Gumam Adinda sambil tersenyum dan mengelus dadanya. Ia melihat orang-orang sudah berkumpul yang sama seperti dirinya, yaitu menunggu hasil akhir apakan mereka di terima atau tidak.
Saat Adinda berjalan, tiba-tiba seseorang menabraknya dengan sangat kencang, membuat mereka terjatuh bersama dan tas yang di pegang perempuat itu ikut terjatuh membuat isi di dalam tasnya menjadi berantakan dan berserakan di lantai.
"Awww.. sakitt." Ringis Adinda sambil memegang sikutnya yang nampak lemar akibat menahan tubuhnya.
"Astaga.. make up gue, dan HP gue jadi pecah." Ucap seseorang yang menabrak Adinda sambil melihat barang-barangnya yang berserakan di lantai.
"DSAR TIDAK PUNYA MATA.." Lanjut orang itu membentak Adinda. "Gara gara loe semua barang-barang gue jadi rusak dan HP gue jadi retak. Gue gak mau tau loe harus tanggung jawab dan menggati barang-barang mahal gue." Tuduh orang itu dengan sinisnya menatap tajam Adinda.
Mendengar hal itu sontak membuat Adinda sangat emosi dan sangat geram tapi ia sebisa mungkin berusaha tetap tenang.
"Maaf yah Mbak, Jelas-jelas Mbak yang menabrak saya. Dan disini yang seharusnya marah itu saya, karna Mbak telah menabrak saya." Ucap tegas Adinda dan berusaha tetap tenang menahan emosinya.
"Apa loe bilang..! berani loe sama gue..? loe gak tau siapa gue? asal loe tau yah.. gue ini chef disini." Teriak orang itu dengan bangganya dan tidak terima dengan ucapan Adinda.
"Saya tidak takut dan tidak peduli siapa Mbak, dan bukannya meminta maaf malah teriak-teriak tidak jelas." Ejek Adinda. "Dan maaf yah, saya tidak ingin mencari ribut dengan orang yang tidak jelas seperti Mbak." Lanjut Adinda sontak membuat orang itu semakin geram dengan ucapan Adinda.
"Berani loe sama gue.." Lanjut perempuan itu tidak terima ia lalu mendorong bahu Adinda dengan sangat kencang membuat Adinda meringis kesakitan.
__ADS_1
Mereka lalu menjadi pusat perhatian dan tontonan geratis orang-orang yang berada di sekitarnya, dan mengerumuninya lalu bersorak-sorak seperti mengadu dombakan.
Adinda tidak terima dan ia semakin dibuat emosi dengan perlakuan perempuan itu.
"Gue gak takutt.." Jawab Adinda ia tidak bisa menahan emosinya lagi, ia lalu mendorong kembali perempuan itu dan membuatnya terjatuh.
"ADA APA INI.?" Teriak Aditya menggema membuat semua orang beralih menatapnya.
Flashback on..
Saat Aditya berjalan ia mendengar keributan dan melihat orang-orang yang berkerumun bersorak-sorak, Aditya sangat penasan karna ia tidak mau ada keributan di Restaurant miliknya yang pastinya akan mengganggu ketenangan para pengunjung Restonya.
Setelah Aditya sampai ia melihat Adinda mendorong tubuh Raya yang membuat Raya terjatuh. Aditya sangat tidak menyangka dengan sikap Adinda yang sangat kasar, ia lalu dengan sikap dinginnya berteriak menggema membuat semua orang menatapnya.
"SAYA BILANG BUBARRR.." Lanjut Aditya lalu semuat orang bubar karna takut dengan kemarahan Aditya kecuali Adinda dan Raya.
"Ini kesempatan gue buat ambil hatinya Adit." Batin Raya tersenyum licik.
"Aawww sakitt.. sakit sekali, Mas Adit tolong aku, dia sangat kasar dan tiba-tiba dia mendorongku dengan sangat kencang." Ucap Raya berbohong dan berpura-pura meringis kesakitan.
"Cihhh.. pandai sekali dia berbohong, jelas-jelas dia yang slah malah menuduhku, dasar perempuan ular." Batin Adinda sangat kesal dengan sandiwara Raya.
Aditya yang mendengar ucapan Raya ia lalu menghampirinya dan membantunya untuk berdiri kembali.
__ADS_1
"Yess.. berhasil. Ternyata ada untungnya juga gue beramtem sama perempuan aneh itu, tapi gue gak akan ngebiarin dia lolos begitu saja." Ucap Raya dalam hatinya dan tersenyum puas menatap Adinda sinis.
"Kamu sudah berani membuat keributan disini, akibat perbuatanmu membuat ketenangan pengunjung Restoran ini terganggu. Dan kamu telah membuat orang lain terluka.. sekarang cepat minta maaf." Kata Aditya menatap tajam Adinda.
"Apa. Ternyata dia membela wanita ular ini dan menyuruhku meminta maaf tanpa melihat kejadian yang sebenarnya." Adinda tersentak mendengar perkataan Aditya, ia sangat kecewa dengan sikap Aditya.
"Saya tidak salah dan saya tidak akan memimta maaf." Jawab tegas Adinda.
"Besar juga nyalimu.. awas aja loe sudah berani macam-macam sama gue." Batin Raya setelah mendenga jawaban Adinda.
"Mas Adit sudahlah tidak apa-apa.. tanpa dia meminta maaf pun aku sudah memaafkannya, mungkin dia lagi ada masalah sama keluarganya jadi dia sangat tidak tahu malu dan sangat berani." Ucap Raya bersandiwara lalu menggelayun manja memegang tangan Aditya.
Adinda yang melihat perlakuan dan perkataan Raya terhadap Suaminya itu, ia semakin dibuat kesal dan emosi menatap Aditya dan Raya bergantian. Adinda ingin sekali menghajarnya ia lalu berjalan perlahan menghampiri Aditya yang sedang di gandeng oleh Raya dengan mesra.
"Cihh.. pantesan dia mebelanya ternyata dia pacarnya." Batin Adinda setelah berhadapan dengan suaminya.
"Lain kali ajari pacar anda dengan kejujuran, jangan menyalahkan orang lain dengan kesalahan yang ia perbuat." Lanjut Adinda membuat Aditya mematung mencerna perkataan istrinya itu. Adinda lalu berlalu pergi meninggal Aditya dan Raya.
"Aditya... kenapa kamu tidak bisa menahan emosimu.. belum tentu dia bersalah, pasti dia sangat kecewa kepadaku." Batin Aditya ia tersadar dengan perkataan Adinda ia lalu melepaskan genggaman tangan Raya dengan kesar dan pergi meninggalkan Raya yang menatapnya aneh.
"Baru juga gue terbang udah jatoh lagi.. tapi gue seneng banget Aditya membela gue di hadapan perempuan aneh itu." Gumam Raya pelah sambil tersenyum puas menatap kepergian Aditya.
Like Like Like ❤️
__ADS_1