Suamiku Chef Yang Dingin Dan Arogan

Suamiku Chef Yang Dingin Dan Arogan
eps 58. kembali ke rumah.


__ADS_3

Setelah melewatkan malam yang begitu indah kini mereka akhirnya bersiap umtuk kembali ke kediaman Ibu dan Ayah Adinda untuk mengantar Adiba kembali dan berpamitan. Waktu cuti mereka sudah habis jadi setelah dari kediaman orang tua Adinda mereka akan langsung pergi ke Jakarta untuk melakukan aktivitasnya kembali menjadi Chef dan Asisten Chef yang mana mereka masih merahasiakan pernikahannya dari orang-orang di Restourant nya karena alasan tertentu.


''Kenapa cuma sebentar sih Kak..! Aku kan masih kangen kak Dinda, dan pasti aku tidak punya teman lagi di rumah.. semenjak Kak Dinda pergi rumah jadi sepi dan kini kak Dinda mau pergi lagi huaaa hu huuu.. aku mau ikut ka Dinda saja.''


Tangis Adiba pecah karena akan berpisah lagi dari kakak tercintanya itu, meski dulu mereka sering berantem ceng-cengan Adik Kakak tetapi mereka sangat saling menyayangi satu sama lain.


Mendengar itu hati Adinda menjadi terenyuh, dengan lembut Adinda langsung memeluk Adiknya untuk menenangkannya dan ia juga merasa tidak tega meninggakannya.


''Sudah jangan menangis.. sebenarnya kakak juga masih ingin berlama-lama disini, menghabiskan waktu dengan kamu, Ayah dan juga Ibu.''


''Namun sekarang kakak sudah menikah, sudah punya suami yang harus kakak urus dan berbakti kepada suami Kakak dan Kakak harus rela jauh dari kalian demi berbakti kepada suami kaka.''


Adinda berusaha kuat dan menenangkan Adiknya itu yang berada di pelukannya, tetes air mata yang tiba-tiba muncul lantas ia langsung terburu menyakanya karena tak ingin terlihat oleh Adiknya.


''Tapi Kakak bahagia kan..?'' Tanya polos Adiba yang langsung menatap Kakaknya itu.


''Yahh.. sangat...sangat bahagia.'' Dengan senyum tulus Adinda menunjukannya.

__ADS_1


Melihat dan mendengar itu Aditya yang mengintip dibalik pintuk kamar ia sedikit merasa bersalah dan terharu melihat kedekatan Isteri dan Adik iparnya itu yang begitu saling menyayangi dan ia juga tersenyum mendengan pengakuan tulus dari isterinya.


''Ehemmm.''


Suara deheman itu membuat Adinda dan Adiba menolehnya, mereka lalu melepaskan pelukannya setelah melihat seorang itu.


''kalian sudah siap-siap..!'' Tanya Aditya mengalihkan.


''Sudahh...'' Jawab mereka dengan suara lemas.


''Yasudah mari kita berangkat.. mobilnya sudah siap.'' Lanjutnya dan hanya di jawab dengan anggukan. Mereka lalu berjalan menuju mobil yang sudah di parkir sambil membawa koper.


.


.


Di balik kacamata hitam Dimas melirik-lirik kecil Adiba yang berada di sampingnya yang hanya diam menatap jalanan. Sementara itu di belakang Aditya tak hentinya menggenggam tangan Adinda lalu menciuminya dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang..! Awas yah nanti kalau kita sudah sampai dan bekerja kembali kamu jangan genit-genit sama si ulet bulu itu." Sontak membuat Aditya mengerutkan dahinya mendengar nama ulet bulu di sebut isterinya.


Aditya lalu membenarkan duduknya dan menatap isterinya. "Ulet bulu?."


Aditya tidak paham dengan maksud isterinya dengan nama ulet bulu.. karena ia tidak pernah merasa genik dengan ulet bulu karena takut badannya akan alergi.


"Yah ulet bulu Raya." Dengan memanyunkan bibirnya Adinda berucap yang membuat Aditya langsur tertawa karena mendengan jawaban isterinya yang sangat lucu menurutnya. Aditya tak habis pikir dengan pemikiran isterinya yang menyebut Raya seperti ulat bulu karena sering mendekatinya.


"Ishh.. ko malah ketawa sih..!"


"Hahaha.. iya iyaaa.. lagian aku tidak pernah genit sama si..! Ulet bulu itu.. dianya saja yang sering begitu sama aku. Tidak ada perempuan lain selain kamu yang aku genitin, kamu harus percaya sama aku.. iya kan Dim..?"


"Iya nyonya, Tuan benar.." Jawab Dimas yang mendengar namnya di sebut.


"Awas yah Kakak Ipar jangan macam-macam sama Kakakku tersayang, jangan pernah melukai hatinya.. cintai dia dengan tulus. Kalau sampai kakaku kenapa-kenapa ini akibatnya." Celetuk Adiba sambil memperlihatkan kepalan tangannya yang seperti ingin menojok.


"Baik, Adik ipar. Saya berjanji itu tidak akan terjadi, lagian saya sangat ngeri melihat tanganmu." Jawab Aditya.

__ADS_1


Adinda hanya tersenyum mendengar dan melihat itu, ia merasa sangat bahagian sekali.


Tak terasa kini mereka telah sampai di kediaman Ibu dan Ayah Adinda. Mereka lalu turun dan masuk ke dalam rumah yang mana Ayah dan Ibu sedang menunggu.


__ADS_2