
Mereka langsung duduk di ruang tamu setelah di sambut oleh Ibu dan juga Ayah. ''Wahh gimana liburannya seru tidak..!" Tanya Ibu yang sedikit basa-basi karena bingung ia harus memulai pembicaraan dari mana dengan anak menantunya. semua diam namun tiba-tiba Adiba berbicara dengan sangat heboh dan terlihat bahagia membayangkan di saat mereka berada d vila.
"Seru banget, Bu. Tempatnya indah dan romantis.. aku jadi pengen kesitu lagi. Tapi kalo malam hari di situ horror banget.'' Seketika raut wajahnya menjadi serius membuat semua yang berada di sana menjadi penasan terkecuali Adinda.
"HORROR untuk para jomlo." Lanjut Adinda berhasil membuat Adiba bungkam dan di buat kesal. Adinda sengaja memotong ucapan Adiknya itu ia tidak ingin Adiba mengucapkan kata-kata aneh tentang dirinya yang setiap malam di buat gairah penuh cinta oleh suaminya.
Meski Adinda telah memotong ucapan Adiknya itu, mereka sudah pahan maksud dari perkataannya dan membuat Ibu dan juga Ayah sangat senang mendengarnya karena mereka berpikir akan segera mempunyai cucu.
Aditya hanya tersenyum ia menjadi terbayang dengan hal-hal kejadian romantis bersama Isterinya.
"Sebenarnya kita masih betah menginap di sini, tapi sayangnya waktu cuti kita sudah habis. Saya harus bekerja kembali, tapi saya janji kita akan sering datang ke sini." Ujar Aditya mengalihkan pembicara'an, semua pun paham dan mengerti.
''Iya, Bu. Ayah.. kita pamit pulang dulu dan benar kata Mas Adit, kita akan berkunjung lagi ke sini nanti.''
''Benarkah kalian akan kesini lagi..! Ibu senang mendengarnya.'' Jawab ibu dengan senyumnya yang manis.
''Yasudah, Nak. kalian hati-hati di jalan, semoga kalian selamat sampai tujuan. Ayah dan Ibu akan selalu menunggu kabar baik dari kalian.'' Ucap Ayah yang langsung di angguki oleh Ibu tanda setuju.
__ADS_1
Mereka lalu beranjak dari duduknya menuju ke luar, di luar Dimas menyerderkan badannya ke sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Adinda, ia menunggu Tuan dan Nyonya.
Mereka lalu berpamitan bersalaman satu sama lain, tak lupa juga Dimas menghampiri kedua orang tua Adinda dan juga adiknya ia lalu bersalaman.
''Hati-hati yah, Nak Dimas membawa mobilnya..'' Ujar Ayah kepada Dimas yang berada di hadapannya.
Setelah bersalaman dengan kedua orang tua Adinda, kini Dimas berhadapan dengan Adiba, ia sebenarnya ingin berpamitan namun merasa canggung karena berada dekat dengan kedua orang tuanya.
Dimas hanya tersenyum kecil metapa Adiba dari balik kacamata hitamnya, lalu ia pergi menuju mobilnya bersiap untuk menjadi sopir. Melihat sikap Dimas, Adinda sedikit kecewa ia sebenarnya ingin mengucapkan sepatah kata untuk Dimas namun tak sesuai harapannya.
"Astaga, Kak Dimas. Sombong sekali..! Padahal aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Awas yah kalo kita bertemu lagi..!" Dengan kesal Adiba menggerutu di dalam hatinya sambil menatap Dimas.
.
.
.
__ADS_1
.
Setelah melewati perjalanan pulang, akhirnya mereka telah sampai di sebuah restauran besar miliknya. Aditya dan juga Adinda mereka tidak merasakan capek atau lelah perjalanan, jadi mereka memutuskan untuk menuju restauran lalu masuk kerja menjadi Chef dan Asistent.
Karena tidak ingin ada orang yang tahu, Adinda diam-diam mengendap-endap mencari keamanan supaya tidak ada orang yang melihatnya keluar bersama sang Chef yang sangat digandrungi ketampanan dan karismanya.
Melihat tingah Isterinya Aditya merasa sangat lucu, ia membayangkan Adinda seperti orang yang sedang mencuri dan takut ketahuan. Lalu dengan cepat Adinda jauh dari pandangan suaminya.
Aditya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia lalu menuju ke sebuah ruangan tempat dimana ia menggati pakaiannya.
''Slamat pagi, Chef..!''
''Pagi Chef.''
''Selamat pagi, Chef Aditya !''
Begitukah orang-orang menyapa Aditya dengan keramahan dan senyuman, namun tetapi Aditya hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
__ADS_1
Disaat ia berjalan pandangannya beralih menatap perempuan yang sedang asyik memotong dan mengerjakan pekerjaan kecilnya.